3 Wasiat Nabi dalam <i>Habluminallah</i> dan <i>Habluminannas</i>
Saturday, 22 August 2015 (5:11 pm) / Hadits, Ibadah, Muamalah
mazsantri.wordpress.com

Pernahkah mendengar istilah Jawami’ul Kalim? Istilah tersebut memiliki makna: bahasa yang singkat, namun memiliki makna yang luas dan sangat mendalam. Hal inilah yang sering dijumpai dalam sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini merupakan salah satu hadits yang Jawami’ul Kalim,

عŽنْ أŽب�ي ذŽ~+mn~ّ ج�نْد�بْ بْن� ج�نŽادŽةŽ وŽأŽب�ي عŽبْد� ال~+mn~ّŽحْمŽن� م�عŽاذ بْن جŽبŽل� ~+mn~Žض�يŽ الله� عŽنْه�مŽا عŽنْ ~+mn~Žس�وْل� الله� صلّŽى الله� عŽلŽيْه� وŽسŽلّŽمŽ قŽالŽ : ا�تّŽق� اللهŽ حŽيْث�مŽا ك�نْتŽ، وŽأŽتْب�ع� السّŽيّ�ئŽةŽ الْحŽسŽنŽةŽ تŽمْح�هŽا، وŽخŽال�ق� النّŽاسŽ ب�خ�ل�ق� حŽسŽن� � [~+mn~واه الت~+mn~مذي وقال حديث حسن و�ي بعض النسخ حسن صحيح]

“Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia.� (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih).

Hadits di atas mengandung 3 wasiat Nabi yang sangat penting, yakni wasiat tentang hubungan secara vertikal manusia kepada Allah (habluminallah) dan hubungan secara horizontal sesama manusia (habluminannas).

1. Perintah Bertakwa kepada Allah Dimanapun Berada

ا�تّŽق� اللهŽ حŽيْث�مŽا ك�نْتŽ

Takwa yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengenal tempat. Bertakwalah di mana pun berada, baik saat sunyi sendirian terlebih lagi ketika berada di tengah keramaian. Inilah sebenar-benarnya takwa dan merupakan takwa yang paling berat.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

وقال الشا�عي : أعزّ� الأشياء ثلاثة : الجود� من ق�لّŽة ، والو~+mn~ع� �ي خŽلوة ، وكلمة� الحقّ� عند من ي�~+mn~جى وي�خا�

“Perkara yang paling berat itu ada 3, dermawan saat memiliki sedikit harta, meninggalkan hal yang haram saat sendirian dan mengatakan kebenaran saat berada di dekat orang yang diharapkan kebaikannya atau ditakuti kejahatannya� (Jami’ Ulum wa Hikam 2/18).

Dalam kesendirian atau ketika menyepi tanpa ada seorang pun yang mengetahui, maka dorongan untuk berbuat maksiat akan semakin besar. Namun apabila ia benar-benar bertakwa kepada Allah, maka hal demikin tidak akan terjadi. Karena ia sadar betul bahwa Allah senantiasa mengawasinya setiap saat.

Misalnya yaitu orang yang sedang berpuasa. Ketika berada di tengah keramaian, ia menahan diri, mengaku berpuasa dan berakting seolah sedang berpuasa. Namun ketika sedang sendiri, ia diam-diam berpuka puasa. Hal ini tidak akan terjadi jika memiliki rasa takut kepada Allah.

2. Tidak Menunda Melakukan Amal Sholeh

وŽأŽتْب�ع� السّŽيّ�ئŽةŽ الْحŽسŽنŽةŽ تŽمْح�هŽ

Dalam hadits tersebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat agar bersegera melakukan kebaikan tatkala terjerumus dalam keburukan. Jangan beranggapan jika sudah terciprat, maka tercebur sekalian saja biar basah. Ini merupakan anggapan yang sangat keliru. Bahkan hadits ini menjelaskan perintah untuk segera bertaubat kepada Allah. Karena taubat merupakan amal shalih yang paling mulia dan harus disegerakan pengerjaannya.

Allah Ta’ala berfirman,

وŽت�وب�وا إ�لŽى اللّŽه� جŽم�يعًا أŽيّ�هŽا الْم�ؤْم�ن�ونŽ لŽعŽلّŽك�مْ ت��ْل�ح�ونŽ

“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.� (QS. An-Nur: 31)

Hadits di atas juga menjelaskan bahwa dosa atas perbuatan buruk kita dapat terhapus dengan melakukan perbuatan baik. Namun dosa yang terhapus hanyalah dosa-dosa kecil saja, karena dosa besar hanya terhapus jika pelakunya benar-benar telah bertaubat atau taubat nasuha.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

الصّŽلŽوŽات� الْخŽمْس� وŽالْج�م�عŽة� إ�لŽى الْج�م�عŽة� وŽ~+mn~ŽمŽضاŽن� إ�لŽى ~+mn~ŽمŽضŽانŽ م�كŽ�ّ�~+mn~Žاتٌ مŽا بŽيْنŽه�نّŽ إ�ذŽا اجْت�ن�بŽت� الْكŽبŽائ�~+mn~�

“Shalat 5 waktu, dari Jumat ke Jumat selanjutnya, serta Ramadhan ke Ramadhan adalah sebagai penghapus dosa di antara waktu itu, selama menjauhi dosa-dosa besar.� (HR. Muslim No. 233).

Karena hanya dosa kecil saja yang terhapuskan oleh perbuatan baik, maka ketika seseorang terjerumus dalam dosa dan maksiat wajib baginya untuk segera bertaubat, melakukan amal shalih dan berusaha untuk tidak mengulangi perbuatannya tersebut.

3. Memiliki Akhlak Mulia

وŽخŽال�ق� النّŽاسŽ ب�خ�ل�ق� حŽسŽن�

Wasiat yang terakhir yaitu perintah untuk memiliki akhlak yang mulia dalam hubungan sesama manusia. Contoh yang paling mudah dalam berakhlak mulia yaitu senyuman yang diiringi wajah yang berseri ketika bertemu dengan orang lain dan bertegur sapa.

Oleh karenanya Rasulullah mengkaitkan antara akhlak mulia dengan iman yang sempurna. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أŽكْمŽل� الْم�ؤْم�ن�ينŽ إ�يمŽانًا أŽحْسŽن�ه�مْ خ�ل�قًا

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.� (HR. At-Tirmidzi No. 2612, ia berkata: Hadits Shahih).

Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan bahwa pada hari kiamat orang yang paling dekat dengan Rasulullah yaitu yang paling bagus akhlaknya. Tidak hanya itu, dengan memiliki akhlak mulia, maka akan dicintai oleh manusia yang lainnya terlebih Rasulullah.

Penutup

Sebagai penutup dan nasihat untuk diri sendiri, maka jagalah 3 wasiat yang berharga ini. Wasiat yang di dalamnya terdapat hablumminallah dan hablumminannas. Sehingga kita dapat menjadi insan yang dicintai oleh Allah, Rasulullah dan manusia sekalian.

Wallahul Muwaffiq.

Redaktur: Suherlin

Sebarkan Pada Sesama

privacy policy