Jenazahmu, Bagaimana Nasibnya?

Mayat atau jenazah. Adalah sebuah status yang akan disandang oleh semua orang, tak peduli ia seorang kakek-kakek atau pemuda perkasa, tak peduli ia seorang mentri atau pemulung yang mengumpulkan nasi sisa. Hari ini, seorang jenazah laki-laki tua dishalatkan di masjid dekat kontrakan kami. Orang ini telah kehilangan kesempatan berbuat baik, saatnya ia menerima akibat berbuat baiknya dulu.

Keluarganya sudah stand-by di lokasi masjid sebelum waktu shalat dzuhur masuk, adzan berkumandang, dan adzan ini tak lagi menjadi panggilan wajib bagi si mayat. Seandainya ia bisa, tentu ia akan mengikuti shalat berjamaah bersama untuk menambah pahala, tapi apalah daya sekarang, tak ada lagi kuasa.

Selesai shalat dzuhur, langsung dengan komando pengurus masjid keranda mayat dipindahkan ke bagian tengah, shalat jenazah segera digelar. Tapi, saat pengurus menyampaikan kepada keluarga bahwa yang terbaik untuk mengimami shalat jenazah adalah anak laki-laki si jenazah sendiri, tak ada yang menjawab, tak ada tanggapan, bahkan pihak keluarga hanya menunduk atau berpura-pura tidak mendengar apa yang disampaikan pengurus itu. Bayangkan apa perasaan si mayit saat itu! Bayangkan jika kita dalam posisi si mayit itu! Disaat kita membutuhkan pertolongan terakhir, tak ada yang datang memberikan pertolongan, saat bantuan penting kita harapkan dari anak kita, mereka hanya menekurkan kepalanya!

Inilah sebuah kegagalan, kegagalan si mayit dalam mendidik anaknya. Entah apa yang akan bisa diperbuat oleh si anak terhadap almarhum ayahnya jika kondisi anaknya seperti itu.

Ketika keluar dari masjid itu saya berbincang dengan sekelompok anak SD yang juga menyaksikan pelaksanaan shalat jenazah itu, mereka membicarakan apa yang mereka lihat, komentar seenaknya dan ocehan murahan ala anak SD. Saya bertanya “udah bisa shalat jenazah dek?” mereka bergumam belum… “tau gak, seharusnya yang menyalatkan jenazah tadi itu adalah anaknya, anak laki-lakinya, tapi jenazah tadi tidak… mungkin anaknya tidak bisa, kalian sudah bisa shalat jenazah?”

Mereka merespon dengan respon yang tidak nyambung, “nanti, kalau ayah kita meninggal jangan sampai kayak jenazah ini, ayah kita meninggal kita malah hanya menunduk tidak bisa mengimaminya..”

Mereka terdiam, senyap. “Belajar ya dek ya..”

Secuil peristiwa nyata yang harus kita renungi. Apakah kita mengharapkan kondisi seperti ini terjadi ada keluarga kita? Apakah kita tega nanti saat ayah kita dipanggil-Nya kita hanya terdiam tiada daya? Mengimami shalat jenazah adalah persembahan terakhir dan kado terindah buat ayah ibu kita nanti. Lalu, bagaimana pula dengan saat kita sendiri yang nanti menjadi jenazahnya? Apakah kita mampu menyiapkan generasi yang mampu mengimami shalat jenazah untuk kita nanti?

Maka orang yang cerdas tentu akan mempersiapkan kondisi itu sejak sekarang. Mempersholeh diri adalah langkah yang bisa kita ambil segera, sebelum orang lain yang mengambil kesempatan ini. Orang yang cerdas juga akan menempuh cara apapun yang membuat saat ia dishalatkan, orang antri untuk menshalatkan kita, sehingga masjid tidak lagi cukup menampung jama’ah, masyarakat berdesakan untuk mengantarkan jenazah kita ke pemakaman, bahkan berduyun datang memenuhi jalanan orang-orang yang tidak saling kenal, pergi menghadiri penguburan kita, bayangkan masyarakat sekitar berkomentar “kami melihat orang-orang yang sama sekali tidak kami kenal bergerombol datang tak henti kepemakaman beliau”

Tidakkah kita mengimpikan kondisi seperti ini?

Satu hal lagi, untuk mempersiapkan anak-anak yang mampu mempersembahkan kado terindah untuk jenzah kita saat kita sebagai bapaknya wafat, orang yang cerdas juga akan memilih calon ibu untuk anak-anaknya yang nanti akan mendukung terwujudnya kondisi ini. Tentu bukan wanita yang suka mengumbar aurat mereka, wanita yang punya riwayat pacaran yang panjang, wanita yang gonta-ganti pasangan sebelum dengan suami sah nya, wanita yang sedikitpun tidak menjaga marwah seorang perempuan dengan bercampur baur saja dengan laki-laki lain. Wanita seperti itu belum bisa dikatakan sebagai calon ibu sebenarnya, baru sebatas calon istri, pemuda cerdas tidak sekedar mencari calon istri, tapi calon ibu.

Itulah sobat, terkadang kita terlalu menganggap remeh shalat jenazah yang mungkin secara sekilas sering kita temui, terlalu merasa sibuk dengan dunia sehingga melupakan hari dimana kita dipakaikan kain kafan, atau terlalu lemah dihadapan hawa nafsu yang mendorong kita untuk bermaksiat. Orang yang cerdas terlalu ceroboh jika melewatkan saja pesan ini, tanpa bergerak nyata, mulai bekerja, memastikan segala sesuatunnya berjalan dengan scenario yang kita citakan.

Oleh: Adnan Arafani, Padang – Sumatera Barat
Blog