Ketika Kekuasaan di Tangan Kita

Wednesday, 22 July 2015 (6:52 am) / Hikmah, Oase, Sejarah, Sirah Nabawi

Dahulu pada zaman Jahiliyyah, ada dua tugas mulia yang menjadi kebanggaan kaum Quraisy yaitu: Al-Hijabah atau Al-Sidanah dan Al-Siqayah.

Al-Hijabah adalah yang bertanggung jawab memegang dan menjaga Ka’bah serta kuncinya. Sedangkan Al-Siqayah bertugas menyediakan minuman untuk para peziarah Ka’bah terutama jamaah haji pada saat itu.

Semenjak sebelum Islam, Al- Hijabah dipegang oleh Bani Syaibah khususnya adalah Utsman Ibn Thalhah. Sedangkan Al-siqayah dipegang oleh Bani Hassyim yang waktu itu dipegang oleh paman Nabi yakni Al-Abbas.

Ibnu Sa’ad menceritakan bahwa pernah suatu kali Rasulullah meminjam kunci kepada ‘Utsman Ibn Thalhah (ketika itu dia belum masuk Islam) untuk bisa masuk ke dalam Ka’bah.

Namun Utsman menolak dengan kasar karena bukan hari biasanya Ka’bah dibuka yaitu Senin dan Kamis.

Namun Rasulullah tetap bersikap santun kepada ‘Utsman Ibn Thalhah sambil berkata:

” ﻳَﺎ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﻟَﻌَﻠّﻚ ﺳَﺘَﺮَﻯ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻤِﻔْﺘَﺎﺡَ
ﻳَﻮْﻣًﺎ ﺑِﻴَﺪِﻱ ﺃَﺿَﻌُﻪُ ﺣَﻴْﺚُ ﺷِﺌْﺖ”

“Wahai Utsman, barangkali engkau akan melihat pada suatu hari kunci ini berada di tanganku. Dan aku akan meletakkannya dimanapun yang aku suka.”

Mendengarkan hal itu, Utsman pun berkomentar:

ﻟﻬَﻠَﻜَﺖْ ﻗُﺮَﻳْﺶٌ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻭَﺫَﻟّﺖْ 
“Tentu ketika itu, celakalah Quraisy dan terhina.”

Rasulullah menjawab:

“ﺑَﻞْ ﻋَﻤَﺮَﺕْ ﻭَﻋَﺰّﺕْ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ”

“Bahkan Quraisy ketika itu menjadi makmur dan mulia.”

Ternyata apa yang dikatakan oleh Rasulullah benar terjadi.

Pada waktu penaklukan kota Makkah, ketika berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah telah dihancurkan dan Utsman Ibn Thalhah pun hadir ketika itu sebagai Muslim yang belum begitu lama keislamannya (masuk Islam setelah perjanjian Hudaibiyyah). Di hari kemenangan dan kekuatan kaum muslimin tak bisa dibendung oleh Quraisy dan di hari orang-orang berbondong-bondong memeluk Islam.

image

Utsman Ibn Thalhah diminta oleh Rasulullah untuk menyerahkan kunci Ka’bah. Tentu tak ada pilihan bagi ‘Utsman selain menyerahkan kunci itu kepada Rasul. Dan Rasul pun membuka pintu tersebut kemudian setelah memebersihkan isi Ka’bah dari segala unsur jahiliyyah, Beliau lalu shalat di dalamnya.

Ketika kunci pintu Ka’bah itu masih berada di tangan Rasulullah ‘Ali Ibn Abi Thalib menghampiri beliau (dalam riwayat lain yang menghampiri adalah paman beliau Abbas Ibn Abdul Mutthalib) dengan berkata:

ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺍﺟْﻤَﻊْ ﻟَﻨَﺎ ﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺑَﺔَ ﻣَﻊَ
ﺍﻟﺴّﻘَﺎﻳَﺔِ ﺻَﻠّﻰ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻚ .

“Wahai Rasulullah, himpunkanlah untuk kita tugas Hijabah dan Siqayah, Allah bershalawat kepadamu.”

Suatu permohonan yang sulit ditolak oleh penguasa zaman sekarang. Di saat kekuasaan menjadi sebuah objek kerakusan dan keserakahan.

Namun, alangkah indahnya kalau orang-orang yang seperti itu mau membaca akhir kisah ‘Ustman Ibn Thalhah ini.

Ustman terbayang dan menduga bahwa Nabi akan mengambil kemudian menyerahkan kunci itu kepada orang lain. Terngiang kembali di telinganya ucapan Nabi yang dahulu.

” ﻳَﺎ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﻟَﻌَﻠّﻚ ﺳَﺘَﺮَﻯ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻤِﻔْﺘَﺎﺡَ
ﻳَﻮْﻣًﺎ ﺑِﻴَﺪِﻱ ﺃَﺿَﻌُﻪُ ﺣَﻴْﺚُ ﺷِﺌْﺖ”

“Wahai ‘Utsman, barangkali engkau akan melihat pada suatu hari kunci ini berada di tanganku. Dan Aku akan melayakkannya dimanapun yang aku suka.”

Namun, apa yang terjadi? Rasulullah malah memanggil Utsman Ibn Thalhah sambil berkata:

ﻣِﻔْﺘَﺎﺣَﻚَ ﻳَﺎ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ..ﺍﻟْﻲ َﻡْﻭَ ﻳَﻮْﻡُ ﺑِﺮّ ﻭَﻭَﻓَﺎﺀ

“Ini kuncimu wahai Utsman. Hari ini adalah hari berbuat kebaikan dan hari menunjukkan sikap kesetiaan.”

Dalam Riwayat Ibnu Sa’ad bahkan Rasulullah bersabda:

ﺧﺬﻭﻫﺎ ﺧﺎﻟﺪﺓ ﺗﺎﻟﺪﺓ، ﻻ ﻳﻨﺰﻋﻬﺎ ﻣﻨﻜﻢ ﺇﻻ ﻇﺎﻟﻢ

“Ambillah kembali kunci ini untuk selamanya. Tiada yang akan merampasnya dari kalian melainkan orang dzhalim.”

Subhanallah. Suatu akhlak mulia. Sikap keteladanan dan Kebijaksanaan Rasulullah shallallahu Alahi wasallam. Yang semestinya membuat banyak kita yang mengaku umat Muhammad menjadi malu dengan perbuatan kita selama ini.

Ketika kekuasaan di tangan kita. Maka dengan semaunya kita melakukan apa yang kita .au. Berbuat apa saja. Dzalim kepada sesama dan tanpa pernah memperdulikan perasaan dan melihat Orang-orang di sekeliling kita.

{۞ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺄْﻣُﺮُﻛُﻢْ ﺃَﻥ ﺗُﺆَﺩُّﻭﺍ ﺍﻟْﺄَﻣَﺎﻧَﺎﺕِ ﺇِﻟَﻰٰ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺣَﻜَﻤْﺘُﻢ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﻥ ﺗَﺤْﻜُﻤُﻮﺍ ﺑِﺎﻟْﻌَﺪْﻝِ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻧِﻌِﻤَّﺎ ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢ ﺑِﻪِ ۗ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﺳَﻤِﻴﻌًﺎ ﺑَﺼِﻴﺮًﺍ{ ]ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ 58 : ]

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik- baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [An-Nisa 58]

Muhammad Hafidz Firdaus Al Anshari

Redaktur: Shabra Syatila

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2017 Designed & Developed by Ibrahim Vatih