Menghayati dan Memahami Esensi Teriakan Takbir

Thursday, 7 June 2012 (7:39 am) / Opini

“Allahu Akbar!”. Ini adalah pertama kalinya aku mendengarkan sekaligus meneriakkan kalimat ini di kampus. Selasar FEB UGM bergema dengan suara takbir yang diucapkan oleh panitia JMME Fair 2012. Mungkin ini adalah hal yang remeh karena takbir pun sering kita kumandangkan dalam adzan, sering kita lafalkan dalam shalat, sering kita sebut dalam berzikir. Tapi ada sesuatu yang berbeda ketika takbir ini dilafalkan berjama’ah dengan sebuah teriakan.

Tentu kita masih ingat suasana perang Badar ketika pada saat itu jumlah ummat Muslim amat sedikit melawan jumlah kafir Quraisy yang sangat banyak. Sebuah kemustahilan ketika pada saat itu kaum Muslimin justru keluar dari medan pertempuran sebagai pemenang. Ditinjau dari akal ini memang tidak logis. Sejatinya ketika ada sebuah kelompok besar yang bertempur melawan kelompok kecil maka bisa dipastikan kelompok besar itu akan menang. Tapi tidak demikian pada perang Badar dan perang-perang umat Islam lainnya.

Sedikitnya jumlah pasukan tidak akan membuat umat Muslim gentar dalam pertempuran selama mereka masih memegang Allah sebagai pelindungnya. Dengan cara apa umat Islam pada saat itu menghadirkan Allah dalam perjuangannya? Sebuah kalimat yang kecil namun dinilai besar di sisi Allah. Sebuah lafal yang mengundang kekuatan. Sebuah kalimat yang menghadirkan ketenangan, menghasilkan semangat, menghilangkan ketakutan, membentuk kesolidan. Suara yang bergema secara bersamaan ini juga mampu membuat musuh Allah bergetar ketakutan ketika mendengarnya. Sesuatu yang diucapkan dengan tegas, “Allahu Akbar!”.

Takbir ini yang membuat umat Islam memenangkan pertempuran walau dengan jumlah yang kecil. Karena pada masa itu umat Islam hanyalah minoritas dibanding penduduk lain di seluruh dunia. Namun kerajaan Romawi dan Persia harus mengakui bahwa dalam peperangan umat Islam mampu mengungguli mereka. Padahal yang ingin dibawa oleh Islam hanyalah sebuah kebaikan. Yang pertama kali ditawarkan oleh umat Islam bukanlah peperangan, tapi sebuah perjanjian damai dengan syarat yang sama menguntungkan. Hingga pada akhirnya umat Islam terpecah dalam takbir mereka masing-masing dan dengan mudahnya pasukan Islam dihancurkan.

Sejarah kekhalifahan Turki Utsmani cukup untuk menjadi pelajaran bagi kita. Kehancuran pada masa itu bukanlah tanpa sebab yang jelas dari dalam tubuh umat Islam sendiri. Inilah yang terjadi ketika nafsu keduniawian yang mendominasi mereka. Pengunggulan antar kelompok satu dengan yang lainnya juga merupakan faktor vital bagi kehancuran khilafah Turki Utsmani pada masa itu. Mereka bertakbir untuk diri masing-masing dan untuk kelompok mereka sendiri. Kondisi yang masih berlanjut sampai saat ini.

Sudah cukup jelas gambaran sejarah tentang kejayaan yang berujung pada kehancuran. Kejayaan ini tidak akan pernah kembali jika umat Islam hanya bergerak bagi dirinya sendiri. Dan jika kelompoknya hanya menjalankan agenda untuk mereka saja. Takbir ini diperlukan untuk mempersatukan umat Islam yang masih tercerai-berai. Takbir ini dibutuhkan untuk menghilangkan individualitas antar kelompok. Takbir ini diwajibkan bagi kita yang menginginkan kejayaan. Sebuah kemenangan yang dijanjikan. Sesuatu yang tak akan terlaksana tanpa adanya persatuan.

Bukan saatnya lagi untuk menanyakan esensi takbir ini sendiri. Kita butuh kemajuan dalam cara berpikir. Bukan hanya retorika yang membuat pikiran berputar-putar didalamnya. Perlu jalan untuk memandu pemikiran ini. Tidak ada gunanya mempermasalahkan perbedaan karena sesuatu yang berbeda itu niscaya. Bukankah pada masa Rasulullah SAW para sahabat sering berbeda pendapat? Kita bukanlah makhluk yang lebih mulia dari seorang sahabat. Mengapa kita mempermasalahkan apa yang tidak dipermasalahkan? Saat itu para sahabat sudah berbicara jauh mengenai perkembangan Islam namun kita masih berbicara seputar arti Islam itu sendiri. Arti Islam bagi kelompoknya. Bukan Islam pada kesempurnaan dan ke-universal-annya. Padahal jarak kita sudah lebih dari 1400 tahun. Mulailah kembali berpikir untuk mendapatkan sebuah kemajuan. Untuk bisa melantangkan takbir ini secara berjama’ah. Allahu Akbar!

 

Oleh: Abdullah Mujaddidi, Yogyakarta
Facebook Twitter Blog

Redaktur: Fimadani

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2017 Designed & Developed by Ibrahim Vatih