Meremehkan Akal Anak

Suatu ketika seorang teman bercerita tentang liburan keluarga besarnya saat lebaran. Kebetulan dia satu mobil dengan ibu muda, anaknya baru satu umurnya sekitar 4 tahun. Ditengah perjalanan si anak rewel, minta ini itu, teriak, membuat suasanan perjalanan tidak menyenangkan. Si ibu muda itu sepertinya malu dengan tingkah anaknya, lalu diancamlah si anak, “Hush…diam. Kalau nggak mau diam nanti mama turunkan disini. Biar diambil orang gila.”

Ampuh!

Si anak langsung mengkerut, duduk diam manis tanpa perlawanan. Perjalanan masih jauh, mungkin si anak itu bosan karena tidak bisa bermain. Dia mengulang kerewelan seperti yang pertama, membuat rebut suasana mobil. Semua yang ada dalam mobil sudah lelah, acuh saja dengan tingkah laku si anak, bahkan cenderung agak sebal. Si ibu paham kondisi, “Kan tadi sudah mama bilang, kalau nggak mau diam mama turunin dijalan. Mau diturunin disini. Nggak ada rumah, adanya hutan. Nanti kamu dimakan sama harimau.” Kebetulan rombongan keluarga besar itu sedang melintasi kawasan hutan.

Si anak kembali terdiam namun ekspresinya tidak mengkerut seperti tadi. Masih ada senyum simpul di bibirnya. Perjalanan masih agak jauh, kurang lebih 45 menit lagi, ditambah macetnya Jakarta, sepertinya perjalanan rombongan itu akan lebih lama.

“Ma, adek capek. Adek pengen turun. Lapar, pengen pipis juga.”
Si ibu yang sudah mulai pusing akibat mabok perjalanan mulai jengkel.

“Adek kenapa sih? Nggak bisa diam seperti yang lain. Mau mama turunin disini? Terus ditinggal nggak ikut pulang!!”
Jawaban si anak di luar perkiraan.

“Turunin aja Ma. Aku nggak takut. Aku kan anak satu-satunya mama dan papa. Nggak mungkin aku dibuang dijalan. Kalau aku hilang nanti juga dicariin.” Si ibu kelu, kehabisan kata-kata.

Banyak orang tua yang hingga saat ini masih bermain dengan akal anak. Seperti cerita diatas, ketika si ibu memberikan ancaman yang pertama kali mungkin si anak akan patuh dan diam. Tapi bagaimana dengan yang ancaman kedua? Si anak sudah mulai belajar. Mulai berpikir kemungkinan apa yang terjadi kalau dia mengulangi kesalahan yang sama. Apa iya akan diturunkan ditengah hutan atau di jalanan macet.

Meremehkan akal anak, akibatnya bisa fatal. Pertama anak bisa jadi tidak akan percaya apa yang kita katakan. Tidak ada buktinya, hanya omong doank. Kedua, lebih parah lagi anak-anak sebagai peniru yang baik akan menjadi pribadi yang tidak berkomitmen. Kurang greget untuk membuktikan apa yang dia ucapkan. Ini yang harus diwaspadai oleh para orang tua yang kadang ingin jalan pintas ‘yang penting anak diam’. Sebab ada yang lebih penting dari sekedar melihat anak duduk manis dan diam, yaitu melihat mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berprinsip dalam hal kebaikan.