Pedang-Pedang Tumpul

Juni 2009, bulan yang penuh kenangan bagi kami, sang pencari jati diri akan hausnya dahaga perjuangan. Tidak menyangka, kami bertiga bisa bertemu disini, dalam sebuah dimensi faktual yang mengikat lahiriah dan batiniah kami. Ratusan anak berkumpul dan berbaris di lapangan dengan rapi di bawah panas terik matahari yang pekat membasahi seluruh badan. Saya kesini dengan seorang sahabat karib dari SMP, kami tidak tak kenal siapa-siapa dan tak tahu apa-apa. Raga dan jiwa berselimut dalam pahit dalam jurang yang kian menyempit aliran darah kian menusuk sakit, kami riang dalam lantunan dan bentakan senior-senior yang senantiasa menghiasi hari-hari kami. Sampai sekarang pun, kami masih mengenang momen-momen yang terjadi pada hari yang mendebarkan itu.

Tak terasa satu minggu pertama di sekolah dan lingkungan baru telah terlalui dalam bingkai waktu yang menyinggahi sekalian hati ini. Saya bertemu dengan banyak wajah baru, karena memang saya dan sahabat masuk ke sekolah ini karena ingin mencari suasana baru dan kalau kami masuk sekolah favorit yang satunya kami pasti akan bertemu dengan orang-orang yang itu-itu saja(teman, kakak kelas, bahkan kompleknya).

Kami bertiga (saya, Ilman, dan Akri) sebelumnya memang belum saling mengenal satu sama lain, kecuali Ilman yang notabene sahabat karib sejak kelas 2 SMP. Ditambah lagi saat itu kami belum berada dalam satu kelas. Akhirnya, seperti jodoh yang telah digariskan oleh Allah ataupun rejeki yang telah ditetapkan oleh Allah pula. Akhirnya, kami terkumpul dalam suatu kesempatan emas. Mengapa emas? Karena dari sekian siswa kelas 10 yang ada hanya beberapa orang pilihan saja yang hadir dalam acara perdana buat anak kelas 10 ini. Kamipun akhirnya bertemu pada hari Minggu pertama kami di bangku SMA.

Kami berada di sebuah mushala tua yang seakan ingin berteriak tak sanggup lagi menahan beban usia kayu dan legamnya zaman. Mushala ini sepintas terlihat sangat tidak menarik, posisinya pun agak tersembunyi dan biasanya hanya digunakan oleh para siswa lelaki saja untuk shalat berjamaah mengingat kondisi dan keadaannya. Sore itu, banyak anak laki-laki lainnya yang berkumpul di musala tua sekolah kami, yang sekarang hanya tinggal cerita. Raut muka anak-anak kelas 10 yang memang bisa dikatakan ‘anak kemarin sore’ begitu sumringah dan semangat mengikuti kegiatan perdana minggu sore yang ditemani oleh kakak-kakak kelas yang begitu ramah dan peduli kepada kami. Nama acara tersebut cukup menggelitik perut kami, nama acaranya ialah “DIARI”.

“Apaan tuh kak DIARI?”, salah seorang anak berkacamata bundar bertanya.

“DIARI itu singkatan dari Dialog Remaja Islam, DIARI merupakan acara rutin anak-anak KSI Ikwan SMAN 7 Banjarmasin (red Ikhwan: laki-laki) yang dilaksanakan setiap Minggu sore yang dimana kita bakalan diskusi dan mendapat tausyiah seputar remaja dan islam, setelah itu biasanya kita lanjutkan dengan main futsal bersama.”, jelas salah seorang kakak kelas berkulit putih dengan kacamatanya.

Hari-hari kami terasa begitu terisi akan dahaga keingintahuan seorang anak muda yang mencari jati diri. DIARI merupakan acara yang kami tunggu-tunggu setiap minggunya. Mengapa? Karena, selain ada kajian rutin yang menarik seputar remaja dan islam, ada satu hal yang paling ditunggu-tunggu oleh kebanyakan anak-anak KSI Ikhwan, yaitu bermain bola seusai pengajian. Bahkan ini sudah menjadi agenda rutin bagi kami agar bisa bermain bola bersama, biasanya sebulan sekali kami menyewa lapangan untuk bermain bola bersama, silaturahim dan makan-makan (seru gak tuhhhh).

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat mengisi hari-hari kami yang sudah kami tanamkan diisi dengan sesuatu yang ‘bermanfaat’ untuk diri sendiri dan orang lain. Tak terasa pula kami pun beranjak menuju ke tingkat kelas dan level yang lebih tinggi. Aroma kebersamaan dan perjuangan yang telah begitu indahnya telah terjalin dalam barisan nan kuat, anak-anak KSI Ikhwan SMAN 7 Banjarmasin. Tanpa bisa mengelak dari berputarnya roda waktu, tanpa dimengerti dan wajib dijalankan, kamipun harus siap menjadi penerus tonggak estafet kepemimpinan baru dalam barisan jemaah ini. Kami saat itu berkumpul di musala tua, karena ada sebuah rapat penting bagi kami, tepatnya 2 hari sebelum LDK MPK OSIS SMAN 7 Banjarmasin tahun 2010. Isak tangis dan bentakan membahana di musala tua sekolah. Satu persatu dari kami pun bercucuran dan berlinangan air mata, tak sanggup menahan isakan perih.

Akhirnya sebuah keputusan besar diambil, kami bertigalah (saya, Ilman, dan Akri) yang mesti menjadi awal dari perjalanan besar ini. Kami mendapatkan tugas yang berat demi terlaksananya cita-cita mulia kami bersama. Akri, saat itu tidak diamanahkan mengikuti apa yang saya dan Ilman harus ikuti, dia hanya diamanahkan untuk mengurus KSI sepenuhnya. Saya dan Ilman serta tiga anak KSI lainnya tidak hanya ditugaskan di KSI, kami juga ditugaskan untuk terjun ke organisasi ‘terbesar di sekolah’. “Just Do It !” Hari-hari kamipun dilewati dengan begitu pelik dalam ‘kompetisi’ memperebutkan jabatan di organisasi tersebut. Hanya saya dan Ilman yang berhasil menembus posisi disana, saya pun mendapatkan posisi yang sebenarnya agak saya hindari. Namun, dipertengahan jalan kamipun sempat marah besar dan emosi mengingat kamipun sempat dianggap dapat merusak organisasi tersebut. Akhirnya, kami pun berada pada pos masing-masing. Layaknya sebuah peperangan, kamipun sudah menyiapkan berbagai senjata terampuh dalam perjuangan kami.

Namun, ternyata perjuangan itu tak seindah sentuhan mata. Kaminya yang dulu berjamaah dan bershaf-shaf nan kuat dalam berjuang akhirnya satu persatu mulai berjatuhan, tersisa saya, Ilman, dan Akri yang insya Allah masih setia. Tanpa mengenal pahit dan duka lara yang dirasakan kami terus berjuang dan berjalan di pos kami masing-masing. Bersiap untuk menembakkan panah kekuatan yang amat dahsyat agar cita kami dapat membuncah dunia. Aku dan Ilman walaupun tidak sepenuhnya memimpin KSI, tetap harus mengemban amanah yang besar di barisan jemaah ini. Karena kami paham, inilah pondasi kami, pondasi perjuangan.

Begitu cepatnya waktu bergulir, tak semua cita kami dapat tercapai, ada kegagalan ada keberhasilan. Allah pun sangat adil bahwa “yang dinilai adalah proses bukan hasil”. Dakwah tetap dakwah, hasil itu murni karunia dariNya. Cepat lambat roda waktu tak pernah diam menggilas masa, waktu tersingkap dalam perjuangan kami, dan tak terasa kami bertiga pun sudah berada di penghujung tahun kedua kami menginjakkan prasasti perjuangan di sekolah ini. Kami pun bersiap menyongsong dan memasuki gerbang tahun ketiga di sekolah yang kami anggap sudah medan tempur dan tempat berlindung kami.

Pedang-pedang itu berkumpul dalam induknya dalam satu dimensi
Bersatu dan mengasah kekuatan
Bersiap menebas lawan maupun kawan
Namun mereka bukanlah pedang biasa
Karna dari sekian biduk banyaknya pedang
Hampir semua berjatuhan
Sayang seribu sayang, hanya sedikit yang tersisa.

Gerbang tahun ketiga sudah dipelupuk mata. Tongkat estafet pun sudah diserahkan ke generasi selanjutnya, generasi yang kami yakini lebih baik dan lebih tangguh serta kokoh. Memori lama mulai menguak di kepalaku, tak ada oase lain selain menuntut ilmu dan gerak dalam dakwah. Walaupun sudah dipenghujung tahun ketiga, aku masih senantiasa berusaha menjadi bagian pemuda yang Rasul janjikan tersebut. Satu-satunya oase, tempat untuk memperoleh makanan, melepas dahaga haus, dan mengasah pedang-pedang kami yang mulai tumpul.

“Kalian adalah pedang-pedang tumpul itu.”, gumam Ustadz kepada kami.

Kami bertiga saling mencuri pandang satu sama lain, tak mengerti dengan maksud yang beliau paparkan sambil mencoba menerka ungkapan yang pas dari pernyataan beliau.

“Kalian bukanlah sembarang pedang tumpul.”, tambah beliau.

Kamipun bertambah bingung.

“Kalian lah pedang-pedang tumpul yang masih tersisa yang siap untuk diasah dan ditempa menjadi pedang-pedang tajam dan andalan Dien ini.”, jelas beliau.

Kalimat itu begitu menusuk tajam ke sanubari dan telah membakar jiwa. Kami hanyalah pedang tumpul yang senantiasa mengasah dan mempertajam diri. Kamipun bukanlah siapa-siapa tanpa adanya perjuangan ini.

Oleh : Najmi Wahyughifary
FacebookTwitterBlog