Tenangkan Diri dengan Hippo Time

Manusia pasti akan melewati fase tidak menyenangkan dalam hidupnya. Bahagia, senang , sukses, adalah bagian hidup yang pasti akan ditemui. Begitu juga sengsara, menderita, tak nyaman, sedih, bête dan hal tak menyenangkan lainnya pun akan menghampiri siapa saja di sela-sela kegiatan keseharian.

Namun, setiap orang tentu berbeda-beda dalam menghadapi dan mensikapi kondisi ini. Ada yang butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi , tapi ada juga yang butuh waktu singkat untuk recoverynya. Dalam istilah psikologi kondisi ini disebut Hippo Time. Istilah ini dipopulerkan oleh seorang personal inspirator, trainer dan penulis buku Anthony Dio Martin. Dia menulis tentang Hippo Time ini di majalah Intisari edisi April 2010. Menurutnya, istilah Hippo Time yang sebelumnya diperkenalkan oleh penulis Paul McGee itu intinya adalah waktu tenang, yakni waktu ketika anda merenung, memikirkan ataupun menenangkan diri dari suatu pengalaman tidak menyenangkan yang baru saja dialami. Istilah ini diambil dari kebiasaan kuda nil merendam diri dalam air. Sesekali ia memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Cukup lama, setelah itu ia muncul kembali ke permukaan.

Sering kita temui seseorang yang sedang bête atau sedang punya masalah dengan rekan di kantor atau keluarga di rumah menunjukkan sikap yang tak menyenangkan. Ia cenderung mudah marah, labil dan kerja sering salah-salah dan bahkan menyalahkan orang. Itu tandanya orang itu butuh Hippo Time. Dia butuh waktu untuk merenung dan menarik nafas sejenak untuk rileks dan mencoba menyelesaikan permasalahannya. Karena jika kondisi ini dibiarkan akan menjadi kebiasaan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Memang mungkin dia akan merasa nyaman- nyaman saja, namun orang disekitarnya belum tentu. Orang lain mungkin akan merasa terganggu dan bahkan terdzalimi. Untuk itu, Hippo Time sangat perlu dilakukan. Merenung dalam kesendirian hingga tenang dan tak terasa semua percikan-percikan emosi dan masalah perlahan mulai redam.

Anthony juga mengutip kata-kata bagus dari seorang Milton Ward, The Brilliant Function of Pain “Izinkan dirimu merasakan secara mendalam perasaanmu, lalu meresponlah terhadap perasaan itu. Suatu ketika, rasa sakit yang kamu alami akan menjadi kekuatanmu”.

Menurutnya lagi, untuk melakukan “Hippo Time” yang sehat, perlu berbicara dengan orang yang tepat, untuk mendapatkan perspektif lain. Hippo Time juga jangan terlalu dalam, karena bisa frustasi, dan mengakibatkan bunuh diri. Harus diputuskan, berapa lama akan begitu. Dan katakan bahwa anda siap menerima kenyataan.

Sebagaimana api akan padam dengan air, begitu pula kesedihan mendalam akan diselesaikan melalui Hippo Time. Agama Islam sendiri sebenarnya sudah mengajarkan Hippo Time ini melalui berwudhu dan solat lima waktu dalam sehari. Setiap hari kita melakukan Hippo Time melalui wudhu dan gerakan sujud dalam solat yang semua gerakan itu dalam bahasannya tersendiri memiliki makna dan faidah kesehatan. Diantaranya, bagaimana gerakan sujud dengan menempelkan dahi di atas sajadah dapat memperlancar proses berpikir dan memacu kecerdasan. Karena pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yamg memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya.

Dan, Hippo Time terbaik adalah saat bermunajat pada Allah di waktu dua pertiga malam. saat itulah moment paling tenang bagi seorang hamba untuk curhat dan mengadukan segala keluh kesah, lelah derita dan hampa yang menerpa.

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Al Muzammil ; 6)

Hippo time dengan tahajjud adalah saat antara hamba dan Tuhannya tak ada hijab yang menghalangi, saat terdekat kita dengan Allah. Maka, jika kita berdoa dan meminta, Allah akan mengabulkan dengan cara-Nya. Tak hanya itu, orang-orang yang selalu menegakkan tahajjud, akan mendapat kemuliaan derajat di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya:

”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”.(Al Isra; 79)

Jika ingin mendapatkan posisi mulia dan menjadi hamba yang dicintai Allah, maka berusahalah mendekat pada-Nya, berhippo time dengan Allah dengan banyak bertahajjud. Wallahu A’lam

Oleh: Ana Mardiana, Jakarta
FacebookBlog

Penulis adalah Alumni Bahasa dan Sastra Arab Universitas Negeri Jakarta. Selain bekerja di perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis buku dan berpetualang sebagai blogger di Multiply, WordPress & Twitter. Buku pertamanya berjudul Ketika Hati sedang Lowbat dirilis tahun 2010 lalu, dan kini berencana menyiapkan buku berikutnya. Terakhir, bungsu 5 bersaudara ini juga aktif di Bidang Kajian YISC Al Azhar