16 Hadits Shahih Seputar Bulan Muharram

1. Hadits, “…dalam setahun ada dua belas bulan…,”

Dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun ada dua belas bulan, darinya ada empat bulan haram, tiga diantaranya adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, sedangkan Rajab adalah bulan Mudhar yang terdapat diantara Jumadaats Tsaniy dan Sya’baan.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 4662; Shahiih Muslim no. 1681 dengan matan yang lebih panjang]

2. Hadits, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah…,”

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yaitu bulan Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” [Shahiih Muslim no. 1165; Sunan Abu Daawud no. 2429; Jaami’ At-Tirmidziy no. 438]

3. Hadits, “…hendaklah ia berpuasa karena hari ini adalah hari ‘Asyura’,”

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan seorang laki-laki dari suku Aslam untuk menyerukan kepada manusia bahwa barangsiapa sudah memakan sesuatu maka hendaklah mengganti puasanya di hari yang lain, dan barangsiapa yang belum memakan sesuatu maka hendaklah ia berpuasa karena hari ini adalah hari ‘Asyura’.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 2007; Shahiih Muslim no. 1138 dengan sedikit perbedaan lafazh]

4. Hadits, “Kaum Quraisy pada masa Jahiliyyah berpuasa hari ‘Asyura’…,”

Dari ‘Aaisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Dahulu Kaum Quraisy pada masa Jahiliyyah berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pun melaksanakannya. Ketika beliau berhijrah ke Madinah beliau tetap melaksanakannya dan memerintahkan manusia untuk berpuasa. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan puasa hari ‘Asyura’, (beliau bersabda), “Maka barangsiapa yang berkehendak (untuk berpuasa) silahkan berpuasa dan barangsiapa yang berkehendak (tidak berpuasa) silahkan meninggalkannya.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2002; Shahiih Muslim no. 1125]

5. Hadits, “Hari itu adalah hari yang dijadikan kaum Jahiliyyah untuk berpuasa…,”

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya disebutkan di sisi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengenai hari ‘Asyura’, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hari itu adalah hari yang dijadikan kaum Jahiliyyah untuk berpuasa, maka barangsiapa di antara kalian menyukai untuk berpuasa maka berpuasalah dan barangsiapa tidak menyukainya maka tidak mengapa meninggalkannya.” [Shahiih Muslim no. 1127]

6. Hadits, “Manusia melaksanakan puasa hari ‘Asyura’ sebelum diwajibkan puasa Ramadhan…,”

Dari ‘Aaisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Manusia melaksanakan puasa hari ‘Asyura’ sebelum diwajibkan puasa Ramadhan dan hari itu adalah hari ditutupnya Ka’bah (dengan kiswah). Ketika Allah mewajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa berkehendak untuk berpuasa maka berpuasalah, dan barangsiapa berkehendak untuk meninggalkannya maka tinggalkanlah.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 1592; Musnad Ahmad no. 25536]

7. Hadits, “…puasa hari ‘Asyura’ menghapus dosa setahun yang lalu.”

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa hari ‘Arafah menghapus dosa dua tahun yaitu setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, puasa hari ‘Asyura’ menghapus dosa setahun yang lalu.” [Musnad Ahmad no. 22028; Jaami’ At-Tirmidziy no. 752; Sunan Ibnu Maajah no. 1738][1]

8. Hadits berpuasa hari ‘Asyura’ pada hari kesepuluh

Dari Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa hari ‘Asyura’ pada hari kesepuluh (dari bulan Muharram).” [Jaami’ At-Tirmidziy no. 755]

9. Hadits berpuasa hari ‘Asyura’ pada hari kesembilan dan kesepuluh

‘Abdullaah bin ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan beliau memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nashrani,” maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika begitu maka tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan.” Ibnu ‘Abbaas berkata, “Tahun depan belumlah datang hingga Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam wafat.” [Shahiih Muslim no. 1136][3]

10. Hadits, “…kami lebih berhak kepada Muusaa daripada kalian,”

Dari Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mendatangi Madinah, maka beliau mendapati Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, beliau bersabda kepada mereka, “Hari apakah ini yang kalian berpuasa didalamnya?” Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang agung karena Allah telah menyelamatkan Muusaa dan kaumnya, dan Allah menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, maka Muusaa berpuasa pada hari ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah dan kami pun ikut berpuasa.” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami lebih berhak mengikuti Muusaa dibanding kalian.” Maka berpuasalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan beliau memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. [Shahiih Muslim no. 1132; Shahiih Al-Bukhaariy no. 3943 dan no. 4680 dengan sedikit perbedaan lafazh]

11. Hadits Rasulullah mengutamakan hari ‘Asyura’ untuk berpuasa dibanding hari-hari lain

Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku tidak pernah melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam menyengaja berpuasa pada hari yang beliau utamakan diatas hari yang lainnya kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura’, dan bulan ini yakni bulan Ramadhan.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2006; Shahiih Muslim no. 1134]

12. Hadits kaum Yahudi menjadikan hari ‘Asyura’ sebagai hari ‘Ied

Dari Abu Muusaa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Hari ‘Asyura’ adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan mereka menjadikannya hari raya, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasalah kalian (pada hari itu).”  [Shahiih Muslim no. 1133; Shahiih Al-Bukhaariy no. 2005]

13. Hadits, “Seandainya tahun depan aku masih hidup…,”

Dari ‘Abdullaah bin ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya aku masih hidup hingga tahun depan, aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” [Shahiih Muslim no. 1137; Sunan Ibnu Maajah no. 1736; Musnad Ahmad no. 1972]

14. Hadits melihat hilal bulan Muharram

Dari Al-Hakam bin Al-A’raj, ia berkata, aku pernah menjumpai Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma sedang bersandar dengan selendangnya pada sumur Zamzam, aku berkata kepadanya, “Khabarkan kepadaku mengenai puasa hari ‘Asyura’,” Ibnu ‘Abbaas berkata, “Jika engkau melihat hilal bulan Muharram, maka hitunglah dan berpuasalah sejak subuh pada hari kesembilan.” Aku bertanya, “Apakah seperti itu puasa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam?” Ibnu ‘Abbaas menjawab, “Ya.” [Shahiih Muslim no. 1135; Sunan Abu Daawud no. 2446; Jaami’ At-Tirmidziy 1/210; Musnad Ahmad no. 2136]

15. Hadits Mu’aawiyah bin Abu Sufyaan radhiyallahu ‘anhuma ketika beliau berkhuthbah diatas mimbar

Dari Humaid bin ‘Abdirrahman, bahwa ia mendengar Mu’aawiyah bin Abu Sufyaan radhiyallahu ‘anhuma berkhuthbah diatas mimbar pada hari ‘Asyura’ pada tahun haji, ia berkata, “Wahai penduduk Madinah, dimana para ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hari ini adalah hari ‘Asyura’ dan Allah tidak mewajibkan puasa atas kalian, dan aku sedang berpuasa, maka barangsiapa berkehendak silahkan berpuasa dan barangsiapa berkehendak silahkan berbuka.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2003; Shahiih Muslim no. 1131]

16. Hadits penduduk Khaibar berpuasa pada hari ‘Asyura’

Dari Abu Muusaa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, penduduk Khaibar berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan merayakannya sebagai hari raya, para wanita mereka mengenakan pakaian dan perhiasan yang indah. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasalah kalian pada hari itu.” [Shahiih Muslim no. 1134]

 

Abu Abdillah Tommi Marsetio

12 Hadits Tidak Shahih Seputar Bulan Muharram

Leave a Comment