Warning: include_once(/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php): failed to open stream: No such file or directory in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22

Warning: include_once(): Failed opening '/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php' for inclusion (include_path='.:/opt/sp/php7.4/lib/php') in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22
Dahsyatnya Petasan

Dahsyatnya Petasan

Petasan adalah  peledak berupa bubuk yang dikemas dalam beberapa lapis kertas, biasanya bersumbu, digunakan untuk memeriahkan berbagai peristiwa, seperti perayaan tahun baru, perkawinan, dan sebagainya. Benda ini berdaya ledak rendah atau low explosive. Bubuk yang digunakan sebagai isi petasan merupakan bahan peledak kimia yang membuatnya dapat meledak pada kondisi tertentu. (Wikipedia)

Di Indonesia petasan sudah seperti kewajiban yang harus dijalani, seperti yang terjadi pada lebaran kali ini. Dulu, saya pun termasuk orang yang suka main petasan. Biasanya saya sekali membeli petasan itu di kisaran 5rb – 10rb rupiah. Kita anggap saja rata-rata orang Indonesia merayakan lebaran dengan petasan masing-masing mengeluarkan uang 7 ribu Rupiah.

Ayah saya kebetulan pernah ke Jepang. Katanya, disana jarang sekali orang yang memakai sepatu tali, kenapa? Karena waktu yang di perlukan untuk memakainya kirang lebih 1 menit, hanya satu menit, lalu apa masalahnya? Orang-orang Jepang berfikir kalau seluruh penduduk Jepang memakai sapatu yang bertali maka 60 detik x seluruh penduduk Jepang=  60 x sekitar 120 jt, berarti jepang setiap harinya kehilangan 7.200.000.000 detik / 2 JT JAM! Itu jika seluruh penduduk Jepang memakai sepatu yang bertali.
Sekarang, mari kita coba memakai cara berfikir orang Jepang.., jumlah penduduk indonesia sekitar 250 jt, bila seluruh penduduk Indonesia main petasan (kita ambil 7 ribu) maka.., 7 rb x 250 jt = 1.175.000.000.000 wow.. tapi kan tidak semua penduduk Indonesia main petasan! Jika kita kurangi dengan jumlah penduduk miskin Indonesia, anggap aja penduduk miskin Indonesia ada 30 juta. Lalu kita kurangi lagi dengan penduduk Indonesia yang non Muslim, anggap saja 40 jt. Lalu kita kurangi lagi dengan Muslim yang tidak merayakan lebaran dengan petasan, anggap saja 30 jt. Total pengurangan 100 jt, berarti ada 150 jt yang merayakan lebaran dengan petasan. Mari kita hitung, 7 rb x 150 jt = 1.050.000.000.000, satu trilyun!! Dahsyat.

Padahal kita baru saja selesai melalui Ramadhan yang penuh berkah. Padahal kita baru saja ‘terlahir kembali’ kedunia ini. Padahal Indonesia masih memliki hutang sebesar 3 rb Trilyun.

Padahal Allah sudah menyebutkan di dalam Al Quran surat Al Isra ayat.. 26-27:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (26). Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (27).

Jadi sudah berapa banyak yang menjadi saudaranya setan di Indonesia.., semoga kita tidak termasuk kedalamnya…

Ingatlah makna dari idul fitri adalah kembali suci tapi kenapa malah main petasan yang berakibat kerugian kpd diri sendiri, orang lain dan berakibat besar bagi Negara. Apalagi di tahun baru, dimana rakyat sampai pemerintah sama-sama ikut membakar uang besar-besaran.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالاالَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ
فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعً

“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”

Subhi Abdullah

Leave a Comment