Warning: include_once(/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php): failed to open stream: No such file or directory in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22

Warning: include_once(): Failed opening '/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php' for inclusion (include_path='.:/opt/sp/php7.4/lib/php') in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22
Dakwah Anak Negeri di Jerman

Dakwah Anak Negeri di Jerman

Islam butuh masa mudamu bukan masa tuamu

Islam butuh saat kuatmu bukan saat loyomu

Islam butuh saat cerdasmu bukan saat pikunmu

Islam butuh saat ini bukan nanti

(akh Fauzan, Jogja)

Bekerja di sebuah kantor milik Pemerintah RI yang bertugas mempromosikan perdagangan RI di Jerman bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap hari “Hochdrueck” (High Pressure) yang saya buat sendiri untuk diri sendiri begitu kuat. Memang suasana santai, hangat dan kekeluargaan lebih terasa di kantor ini dibandingkan dengan kantor Pengembangan Ekonomi Daerah di kota Muenster yang lalu. Tapi mentality “In Ordnung” (semua teratur) dan “Efizzient” (semua efisien) yang coba saya terapkan di pekerjaan sehari-hari memaksa saya membuat Hochdruck (tekanan tinggi) pada pekerjaan sendiri di kantor ini.

Usai menjalankan tugas membantu perdagangan RI sebagai Ansprechpartner (tukang ngomong + customer relations officer) di sebuah acara Asia-Pasifik Forum oleh Pemerintah Negara Bagian Bayern di Nuernberg, saya kembali ke kamar kost dengan penuh kelelahan dan sedikit gangguan pencernaan. Datangnya email dan SMS dari seorang sahabat yang mengundang saya untuk ikut ke sebuah acara di kota Hannover tak bisa terelakkan dari perhatian. Mulai dari kata-kata semacam “Bisa ya?” hingga “Nanti saya jemput ke rumah (kost)” semakin membuat saya tak berdaya membendung penolakan akibat gangguan perut yang masih saja menyerang.

Jumat sore yang cerah itu, seorang pria shalih yang dipanggil Kang Irfan “Madu Rasa” (Ketua Forkom) datang dengan sebuah mobil yang diparkir di depan kost. Sebuah julukan yang tepat, karena ia selalu membawa rasa manis di hati orang-orang yang berada di dekatnya. Bagai rasa madu yang ditenggak oleh musafir di sebuah padang kering, senyumannya dan ucapannya “Assalaamualaikum wr wb”, semakin memantapkan saya untuk berangkat bersamanya ke Hannover.

Di tengah ramainya jalanan menuju Hannover, saya dan Kang Irfan sekeluarga bercakap-cakap tentang aktivitas dakwah di Jerman, termasuk tentang pendidikan anak. Memang setiap umat di sebuah tempat memiliki tantangannya masing-masing. Semoga Allah memudahkan langkah Kang “Madu Rasa” ini dan umat Islam lainnya untuk mendidik anak-anak mereka secara Islami di tanah Jerman.

Tibalah kami di sebuah Wohnung (tempat tinggal) milik salah seorang Muslim di Hannover. Ruangan besar yang dihuni 8 orang itu sungguh nyaman. Dengan koneksi internet WiFi dan masakan Ayam Goreng “ala Prambanan” yang disuguhkan oleh Bang Wiyono dan Mas Agus mengobati rasa lelah kami. Sebagai ‘bukan peserta’ dan ‘bukan pula panitia’, saya tidak sesibuk Kang Irfan dan Mas Reza yang menjadi panitia inti acara ini. Hingga waktu sekitar subuh mereka sibuk mempersiapkan peralatan untuk acara yang dimulai besok Sabtu pagi. Akhirnya, saya banyak berbincang dan berdiskusi dengan Ustad Maimun yang sedang sibuk mempersiapkan paparannya untuk kajian besok pagi. Tak lupa mas Agus dari Solo ikut nimbrung dan bercerita tentang pahit getir para aktivis dakwah Islam di Jerman ini. Mulai dari hal sederhana semisal makanan halal, sampai dengan pengiriman bantuan dari Muslim Jerman ke berbagai daerah yang terkena bencana atau peperangan.

Pagi harinya masih dengan hidangan sarapan enak dari mas Wiyono, kami semua beranjak ke sebuah ruangan pertemuan di lantai atas untuk memulai acara. Ternyata sekitar 15 ikhwan telah memenuhi ruangan. Saling bertegur sapa dan mengucap doa satu sama lainnya adalah warna indah di pagi hari itu. Dari Munchen di Selatan, dari kota-kota yang saya sendiri belum pernah mendengarnya, semua datang memenuhi panggilan dan undangan ini. Bahkan ada kota bernama Darmstadt (Kota Usus) yang saya sendiri heran kenapa ada nama kota seperti ini. Kurang lebih sejumlah 17 kota di-cover oleh organisasi ini, sejumlah itu pula terdapat Pengajian Kota yang rutin dihadiri masyarakat Muslim Indonesia di kota masing-masiing sebagai salah satu program reguler organisasi ini. Lalu pagi itu ditutup dengan datangnya kontingen dari Berlin yang rata-rata adalah anak-anak IWKZ yang dipimpin oleh Al-mukarram ustadz Aditya.  Dan rombongan dari Berlin ini mendapatkan keistimewaan dengan langsung menyantap hidangan yang tersedia.

Sesi pertama dimulai dengan sebuah paparan oleh Ustad Maimun dan Al-akh Sultan dari Kota Usus (Darmstadt). Ustadz Maimun menjelaskan tentang latar belakang didirikannya sebuah organisasi dakwah bernama FORKOM.

Forkom atau Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia di Jerman didirikan di Karlsruhe tahun 1994 silam atas prakarsa beberapa students muslim Indonesia.  Forkom pada dasarnya berfungsi sebagai forum komunikasi lintas pengajian muslim Indonesia se-Jerman. Berbentuk organisasi informal, dimana para anggotanya tidak terikat secara organisatoris, melainkan diikat bersama dalam rasa kecintaan terhadap Allah, Rasul, Islam dan Umat dalam rangka berlomba-lomba menggapai ridha dan cinta Sang Khalik.

Disusul oleh Mas Sultan, beliau mencertakan tentang kiprah Forkom selama ini. Mulai dari penggalangan dana zakat masyarakat Indonesia Muslim di Jerman untuk disalurkan di tanah air, sampai dengan berbagai program di masing-masing kota bernama Pengajian Kota untuk mendidik masyarakat Indonesia di Jerman supaya dekat dengan agamanya, supaya makin shalih dan supaya makin mencintai Tanah Air dan berkarya untuk kemajuan tanah air. Hanya satu kata yang bisa kuucapkan dari paparan ini yaitu: Mengagumkan!

Sesi berikutnya adalah tentang strategi dakwah di Jerman oleh al-akh Johar dari kota Hannover. Dengan gaya santai dan lugas, beliau menjelaskan tentang apa saja yang bisa dilakukan oleh para aktivis dakwah, khususnya Forkom, di Jerman ini. Sebagai seseorang yang kuat di Science dan menyandang gelar Doktor, tak heran jika di paparan beliau banyak menampilkan logika-logika teknis yang mudah dicerna oleh peserta.

Sebuah sesi simulasi dimainkan oleh panitia bagi peserta. Untuk mendidik para peserta acara ini dalam me-marketing-kan program-program dakwahnya, maka kami diminta untuk melakukan “Lift-Talk”, yaitu sekitar 7 menit harus menyampaikan sebuah ide dan proposal supaya diterima oleh sasaran proposal kita. Kelompok ustadz Adit saat itu lebih terkesan sebagai kelompok “Srimulat” karena bukannya para peserta yakin terhadap ide dan proposal kelompok ini melainkan dibuatnya tertawa terpingkal-pingkal dengan ulang banyol anggota kelompok yang aneh ini.

Masih berada dalam simulasi, peserta dibagi ke dalam 2 kelompok besar untuk berlatih tentang bagaimana membuat prioritisasi dan bekerja dalam jamaah (team work). Sebuah kertas berisi daftar-daftar tentang hal-hal yang harus kami buat prioritisasi dan kemudian dilakukan lobby kepada kelompok lain adalah pekerjaan di dalam simulasi ini. Menyenangkan melihat bagaimana Ustad Adit bersama Mas Roni bertemu dengan Mas Eko dan Mas Raka yang ganteng untuk saling beradu argumentasi. Di akhir sesi, kami semua belajar tentang bagaimanakah pola berpikir dalam sebuah jamaah (team). Tentang mash’uliyah (leadership), proses pengambilan keputusan, dan tentang bekerja sama. Tak lupa, tawa dan lelucon selalu menghiasai setiap sesi di acara ini. Benar-benar suasana yang hangat.

Setelah disuguhi roti bakar dan hati ayam bakar oleh jamaah Pakistan yang mengelola masjid ini, kami semua tidur dan bangun sebelum fajar untuk melakukan Qiyamul Layl berjamaah. Memang, waktu sholat di Musim Panas yang ekstrim luar biasa ini menuntut kami untuk berjuang keras dalam mengaturnya sebaik mungkin.

Pagi hari yang indah, kami semua beserta peserta berjalan-jalan melihat keindahan pagi hari ciptaan Allah di sebuah sungai di dekat Masjid. Rencana semula untuk berolahraga ternyata gugur akibat terpaan angin musim panas yang dingin. Walau demikian, dinginnya angin tersebut tak akan pernah bisa mendinginkan dan meredam semangat yang tersimpan di hati kami semua untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin bagi bekal akherat kami melalui jalan dakwah ini.

Sarapan pagi dengan obrolan-obrolan ngalor ngidul dilewati dengan nikmat. Sesi pertama di hari Ahad pagi ini dimulai dengan membahas hasil Brainstorming Action Plan yang sudah dilakukan semalam. Dalam bentuk rapat pleno, kami semua mulai membahas satu persatu permasalahan di setiap kota dan merumuskan action plan besar untuk kegiatan se-Jerman.  Mulai dari program Salam (Silaturahim Darat Masyarakat Muslim se-Jerman) yang direncanakan diadakan di Muncen akhir tahun ini, Safari Ustad yang sempat dperdebatkan apakah mendatangkan ustad terkenal dari tanah air atau membuat terkenal ustad yang belum terkenal, Prima (Pekan Olahraga Insan Beriman) se-Jerman dan berbagai program lainnya yang bisa disaksikan di Website Forkom. Rapat pleno ini walau berjalan agak membuat mengantuk bagi sebagian peserta, tapi tak lupa banyolan dan guyonan lucu selalu muncul untuk membuat mereka bangun dan semangat lagi dalam menjalani proses ini. Kontingen dari Berlin memang menyumbang saham terbesar dalam aksi ketawa-ketiwi ini. Memang Berlin beruntung memiliki aktivis-aktivis dakwah yang lucu dan me-lucu-kan.

Sesi terakhir yang tidak dihadiri oleh kontingen Berlin karena harus segera kembali pulang berisi tentang “Kokoh di Jalan Dakwah”. Pembicara menyampaikannya dengan logika sederhana berupa cerita dan pemberian contoh riil problem di tanah air. Harapan pembicara, peserta dapat memahami tentang kenapa mereka memilih jalan dakwah ini dan apa saja benefit yang akan mereka terima di akhirat nanti dan seperti apa ‘Real Problem” yang jauh ada di tanah air sana, tempat kami semua dilahirkan dan akan kembali nanti.

Mereka ini adalah contoh orang-orang yang menginvestasikan harta, pikiran dan keringatnya untuk meraih ridha Allah.

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

Mereka bukan tergolong anak bangsa bermental tempe, yang memilih hura-hura dan menghamburkan waktu hidupnya di Jerman ini. Mereka lelah, sakit, capek, bahkan harus rela berkorban waktu bagi keluarganya (sebagian) untuk kepentingan umat. Mereka bukan orang yang akan maju pertama kali ketika hadiah ditawarkan, dan bukan yang mundur pertama kali ketika ancaman datang. Mereka ingin satu hadiah dari Allah yaitu: Surga.

Mereka memahami benar firman Allah lainnya :

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab.  Maka tidakkah kamu berpikir? (Al Baqarah: 44)

Merekalah yang mendidik para students dan pemukim asli anak bangsa yang berada di Jerman ini. Merekalah yang terorganisir membina masyarakat muslim Indonesia di Jerman untuk menjadi baik di hati dan akalnya. Apalagi yang dibutuhkan bangsa kita selain orang-orang dengan hati dan akal yang baik dan sehat? Mereka juga yang merealisasikan karya-karya nyata untuk tanah air dari Jerman. Ribuan kilometer membentang tak bisa menghalangi keikhlasan hati mereka untuk berkarya demi Rabb mereka.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memegang pundakku, lalu bersabda : Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara. Lalu Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata : “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati” (Hadits Arbain no:40)

Beruntunglah mereka yang berada di gerbong orang-orang shalih yang berkarya untuk akhirat dan dunianya. Merugilah mereka yang terlena dengan kehidupan dunia dan tak pernah mengetahui bahwa maut mengintai di balik ranjang hangat mereka. Seperti pepatah nenek moyang saya di Jawa : “Urip iku mung mampir ngombe” (Hidup itu cuman mampir sebentar buat minum).  Nah, tergantung kita, seberapa banyak minum (bekal) yang kita siapin untuk melanjutkan perjalanan. Menuju yang lebih kekal dan abadi yaitu: Akhirat!

Senang mengenal dan bersentuhan dengan kalian wahai para pejuang surga.

Allahu a’lam