Gila Vs Gila

Kita semua sebenarnya adalah orang gila di zaman ini. Bagaimana tidak, kadang pengemis yang membutuhkan uang untuk makan sering kita fitnah bahwa itu hanya tipuan, hanya sebuah kemalasan. Pikir kita, “Masih kuat kok malah ngemis!?”. Tak jauh dari pengemis itu, kita malah menukarkan selembar seribuan untuk cemilan makanan yang sebenarnya sama sekali tidak kita butuhkan. Seribu, yang sama dengan penyambung nyawa bagi pengemis itu, malah kita makan. Kita memakan sebuah nyawa, tambah lagi satu korban pembunuhan, bukan karena peluru atau celurit, tapi karena ketidakpekaan.

Tapi banyak pengemis juga yang gila. Mengapa setiap hari mereka meminta uang padahal manusia semakin lama akan semakin apatis. Semakin lama akan semakin sedikit yang mempunyai rasa kasihan, apa para pengemis itu tidak tahu hal seperti itu? apalagi makin banyak pengemis di negeri ini, artinya: makin banyak saingan, berefek makin sedikit pemasukan. Salah pengemis juga, mengapa mereka harus selalu meminta uang, mengapa tidak meminta ilmu untuk mencari uang saja? “Pak.. bagi ilmu pak.. bagi ilmu pak.. sudah tiga hari tidak dapat ilmu pak..”, kan banyak juga pebisnis baik hati yang berada di dekat mereka, saya yakin kok pebisnis baik itu rela mengajari, inilah realita yang namanya: kelaparan dalam lumbung padi. Kekesalan kepada pengemis juga tidak seratus persen salah, banyak juga pengemis bohongan, males-malesan, yang sebenarnya masih sangat mampu untuk bekerja, masih sehat wal afiat, bahkan ada yang pura-pura sakit. Mereka ini sudah mati mata hatinya, sudah tidak mendengarkan teriakan potensinya, malas sekali, walau hanya untuk bekerja menyumbang suara falsnya alias ngamen. Lebih baik memelas muka setiap hari, tidak cape, pikir mereka. Memang gila.

Gila, apa benar kita sudah gila? Zaman ini mungkin orang gila itu lebih waras daripada kita, mungkin merekalah (orang gila–red.) yang bisa disebut normal, bisa jadi mereka gila karena tahu manusia sekarang sudah melampaui kata gila, akhirnya mereka memilih untuk kembali menjadi waras atau normal yang dengan kacamata di zaman serba materialistis dan individualistis ini disebut “Gila beneran..”.

Lalu, kalau kita sudah sepakat kita semua sebenarnya gila, kenapa ketakutan dengan merasa gila sendiri? Hei.. buka mata, semua manusia sekarang sudah gila, hanya zaman ini kegilaan itu disebut normal. Apa tidak gila, di depan cafe yang begitu banyak orang mengeluarkan lembaran ratusan ribu hanya untuk sekedar makan enak, sedang terbaring lemah seorang anak kecil yang menahan perut sangat laparnya.

Apa tidak gila, masjid yang setiap hari memberi ceramah-ceramah tentang amar ma’ruf nahi munkar, namun beberapa ratus meter dari situ masih ada yang suka memukuli anak dan istrinya, apa fungsi masjid? Apakah untuk menambahi keimanan orang-orang yang sudah beriman? Lalu mereka yang masih memukul, membunuh, mencuri.. Kenapa tidak tersampaikan? Apakah hidayah itu seperti keajaiban tanpa perantara? Pantas banyak yang bilang, “Lebih baik saya tidak beriman, daripada beriman namun tidak mempunyai hati”. Terjadilah miss-communication, hakikat keimanan pun buyar saat masuk tataran realita, sedih sekali, miss-communication yang seharusnya tidak terjadi.

Kita tertawa melihat orang gila, ia menari-nari, terkadang telanjang tanpa malu.. Namun, apa kita tidak mentertawakan diri kita? Orang-orang yang kita anggap gila itu mungkin sudah menjadi orang-orang yang dipastikan masuk surga, bahkan sudah kita lihat dengan nyata bahwa dia sedang di surga, dia dengan mudahnya tertawa-tawa lepas tanpa beban di negeri yang krisis dan banyak masalah ini, bukankah itu surga? Lalu kita menertawai mereka yang sudah dijamin surga? Padahal tertawa kita, geleng-geleng kepala kita, merasa normalnya kita tidak dilandasi jaminan bahwa kita akan berkumpul bersama Nabi-nabi dan orang sholeh lainnya di akhirat kelak. Masihkah kita tertawa?

Jika kita sudah tahu bahwa kita semua gila, untuk apa kita berkunjung ke psikiater? Padahal mereka juga orang gila, banyak masalah, kehebatan mereka hanya tahu bagaimana menenangkan kegilaan. Jika psikiater itu ‘mati’ hatinya pasti ia akan menjadikan profesinya menjadi bisnis, sedikit konsultasi namun banyak mencari keuntungan dengan menjual obat-obat anti-depresan. Gila.. kejiwaan seseorang pun diperjualbelikan. Kemanakah jiwa-jiwa yang tenang akan hadir jika masalah jiwa saja diperjualbelikan, menjadi sebuah komoditi bisnis, jual-beli obat penenang.

Rumah sakit jiwa, katanya tempat kumpulan orang gila.. Ya di sana banyak orang berteriak-teriak, senyum-senyum sendiri, menangis, tertawa keras bahkan ada yang mengaku dirinya Tuhan! “Aku Tuhan.. akulah Tuhan! HAHAHA!”, heboh sekali suasana RSJ itu. Namun apa kita tidak melihat sebuah RUmah Sakit Jiwa yang orang-orangnya tidak sadar dia gila, menuhankan diri sendiri walau tidak berkoar-koar bahwa dirinya Tuhan, suka senyum-senyum sendiri jika ada isu tentang renovasi Rumah sakit jiwa mereka atau kenaikan gaji. Mereka lebih gila dari orang gila! Rumah sakit jiwa yang sering disebut DPR-MPR, departemen-departemen, institusi-institusi, dan lainnya itulah, malas saya menyebutkannya. Perbedaannya dengan rumah sakit jiwa yang ada di Grogol cuma satu, kalau yang di Grogol gila tapi tidak menyengsarakan orang lain, namun yang satu ini menyengsarakan orang lain, bahkan menyengsarakan satu bangsa, hingga banyak rakyat yang terbunuh, entah terbunuh kemiskinan, terbunuh karena dipukuli warga saat ketahuan mengambil uang untuk membeli susu bayinya, terbunuh karena memakan makanan beracun saking tidak adanya lauk, terbunuh kehidupannya karena difitnah mencuri kakao, dan lainnya. Lalu, kesimpulannya, lebih gila mana?

Capek sekali, melihat dimana-mana orang gila mengatai yang lain gila, semua merasa dirinya normal, padahal diri mereka sendirilah yang gila. Yang mencoba bertahan dengan kewarasan dan kenormalan saat ini pasti dibilang orang gila. Mereka yang benar-benar gila sampai saat ini tetap tertawa-tawa juga senyum-senyum sendiri, pasti mereka mentertawai kegilaan kita semua.

Yah.. sudahlah, memang sudah begitu rumusnya saat ini.. yang ‘normal’ saat ini pasti dibilang gila, yang gila pasti dibilang normal. Berbahagialah bagi mereka yang gila saat ini, walau terasing, tetaplah menjadi gila! namun jangan sampai gila beneran! Hidup Gila!.

Pada awalnya Islam itu asing dan Islam akan kembali asing sebagaimana pada awalnya. Sungguh beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR Muslim)

 

Rasul: “Kenapa kalian berkumpul di sini?” ,Sahabat: “ada ORANG GILA ya Rasul”. Beliau bersabda, “Orang ini bukanlah gila. Ia sedang dapat musibah. Tahukah kalian siapa ORANG GILA sebenarnya?” Beliau menjelaskan,”ORANG GILA ialah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang lain dengan merendahkan, yang kejelakannya membuat orang tidak merasa aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yg sebenarnya.”

 

Oleh: Muhammad Maula Nurudin Alhaq
Penulis Buku ‘Jadi Ikhwan Jangan Cengeng’, Community Manager @Depok Creative, CEO bitBOEKOE Publishing
FacebookTwitter Blog