Fimadani

Category

Oase

Page 19 of 44

Masih Pantaskah Kita Mengeluh?

"Huh, lagi-lagi begini. Kapan sih aku hidup bahagia?" Mungkin tak sedikit dari kita yang suka mengeluhkan cobaan yang datang dari Allah. Tidak mau bersabar dengan bentuk ujian dari Allah bahkan sampai

Harta, Tahta, dan Fakta

Bertahun yang lalu, ada gerakan koin untuk prita. Jika dari koin-koin saja terkumpul angka yang akhirnya mencengangkan, maka hal yang sama, telah dipraktekkan oleh banyak orang sejak dulu, untuk menop

Invisible Hand

Kata orang, menjadi dokter adalah pekerjaan mulia. Kata orang, menjadi dokter itu harus menyediakan ekstra kesabaran dan empati untuk pasien. Kata orang, menjadi dokter itu berat, sekolahnya lama dan

Menghargai Waktu

Setiap manusia hidup di atas ruang bernama bumi, dalam durasi waktu bernama masa hidup. Karena itu sungguh setiap kita adalah pengguna waktu. Tiada satu detik pun yang berlalu dari hadapan kita, dapat

Muliakan Diri Dengan Tersenyum

Senyuman itu, dunia ini telah lama merindukannya. Dunia ini telah lelah di huni oleh mereka yang arogan dan mereka yang selalu menangis. Hampir saja runtuh atapnya karena suara mereka yang kian memeki

Shalat Khuysu' Itu Mudah

Pembahasan shalat khusyu’ tidak akan pernah ada henti dan habisnya. Tidak pandang bulu, ia akan menerpa setiap muslim dari berbagai strata sosial. Dari orang melarat, sampai orang konglomerat; dari ra

Menerima dan Menjaga Amanah

Sering kita mengeluhkan tentang amanah yang begitu berat, perjuangan yang tak kunjung usai dan lika-liku yang harus kita lalui. Terkadang semua terasa begitu menghimpit. Apalagi jika harus berbenturan

Kembali Kepada Allah

Negeri ini tengah berada dalam titik nadir sebuah peradaban. Hal ini terlihat dari rusaknya moral sebagian besar penduduknya. Mulai dari rakyat hingga pejabat. Mulai rakyat jelata yang harus meregang

Konsistensi Kebaikan

“Umi, kakiku semutan...," keluh Revo pagi ini saat bangun tidur. “Mana yang semutan...?" kataku sambil memeluk dan memangkunya. Kupijit kaki kiri yang ditunjuknya. “Eyang mana?" tanya Revo. “Eyang sed