Fimadani

Category

Oase

Page 32 of 44

Tak Lagi Dinanti

Warung sate di sebelah selatan alun-alun kota ini tak pernah sepi dari pembeli. Selalu ramai sejak buka sore hari hingga tengah malam menjelang. “Kamu masih ingat kalau kita pernah ke sini sebelumnya?

Menyulam Langit

“Satu-persatu, mulai kusulam langit demi langit dengan benang harapan” 21 November 2011 “Memang kamu bisa menulis? Lulusan D3 yang tidak ada hubungannya dengan dunia tulis-menulis memang bisa?!” tanya

Masalah, Meluaskan Peluang Hidup

Saya yakin tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan menolak jika dia dilahirkan tanpa masalah dan selalu bahagia tanpa ada sedikit kesedihan. Tapi apakah itu mungkin? Bahkan mereka, Anda dan saya

Futur? Jalan-Jalan Aja

Dulu, aktivitas yang satu ini adalah hal yang paling jarang saya lakukan, baik jarak dekat terlebih jarak yang jauh. Perjalanan, selalu membuat diri ini tidak nyaman. Dalam perjalanan selalu timbul ra

Bapak Tua Penjual Amplop

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik.

Menangis Karena Tangis

Saat-saat perpisahan, air mata tumpah tanpa sengaja, atau sengaja. Saat muhasabah, air mata pun mengaliri pipi wajah. Begitu juga dengan banyaknya cobaan yang menimpa, air mata kian tak terbendung. Ta

Syukur Seharga Dua Puluh Lima Ribu

Suatu sore di Medan. Jam pulang kantor menyibukkan jalanan, sedikit memacetkannya meski tidak seruwet ibukota. Saya pulang, menjalani aktivitas yang sama setiap harinya. Tidak ada yang istimewa, semua

Menangis... Beginilah Para Sahabat Menangis

Seorang ikhwah mengeluhkan, ada kehilangan yang ia rasakan antara beberapa tahun lalu ketika ia aktif di dakwah kampus dengan hari-hari ini dalam medan dakwah yang berbeda. Diantaranya adalah menangis

Anak-anak Penghafal Al Quran dari Somalia

Namanya Hassan. Sebenarnya ia menyebutkan nama panjangnya secara lengkap. Namun keriuhan saat itu membuat tim PKPU Aid for Somalia yang berkunjung kerumah pengungsian itu harus meladeni diskusi dengan