Ibu, Pintu Surgaku, Pintu Surga Bangsaku

(Refleksi 22 Desember)

Seorang sahabat Nabi saw bercerita,

“Aku dahulu dengan penuh semangat juang dan kesiapan diri datang kepada Rasulullah saw agar diperkenankan menemani beliau bertempur membela agama dengan mengharap keridhoan Allah swt. Lantas Nabi saw bertanya kepadaku apakah engkau masih mempunyai ibu? Aku jawab, iya, ada ya Rasulallaah. Lalu beliau memerintahkanku kembali pulang ke rumah lalu bersabda: “Alzimhaa fa innal jannata tahta rijlayhaa – tetaplah engkau melayani ibumu itu, karena sesungguhnya surga itu ada diantara kedua kakinya”

Begitulah pengalaman tak terlupakan yang diceritakan kembali oleh seorang sahabat Nabi yang bernama Jaahimah kepada Muawiyah, anak laki-lakinya. (HR. Ibnu Majah, An Nasaa-i, At-thabrani & Al Hakim. Derajad hadits Hasan Shahih).

Kisah lain dituturkan langsung oleh sahabat Umar bin Khattab ra. Rasulullah saw berpesan kepada dirinya,

“Akan datang kepada kalian (seorang yang bernama) Uways bin Amir bersama penduduk Ahlu Yaman, berasal dari Murod dan kemudian dari Qorn. Dahulu dia pernah tertimpa penyakit kulit kemudian sembuh dari penyakit tersebut kecuali tinggal sebesar kepingan dirham. Dia memilki seorang ibu yang dia sangat berbakti kepadanya, seandainya saja dia meminta kepada Allah untuk menyembuhkan (sisa) penyakitnya tersebut maka akan disembuhkan baginya. (Wahai Umar) apabila engkau diberi kesanggupan meminta kepadanya untuk memohonkan ampun (kepada Allah) untukmu maka lakukanlah” (HR. Muslim).

Ibu berarti induk. Dalam bahasa arab tertulis الأُمُّ dibaca al-ummu. Satu akar dengan kata “ummat” yang bermakna sekumpulan makhluk yang hidup dalam satu induk ikatan sistem dan kepemimpinan. Tidak akan disebut umat yang sesungguhnya jika tidak memiliki induk yang mengayomi, melindungi, mendidik, mengarahkan, membesarkan, menguatkan dan memelihara dengan penuh cinta kasih dan sayang.

Makna kata ummu hampir dekat dengan makna kata Robb yang berarti Tuhan. Sebagai makhluk “ibu” pastilah memiliki segala keterbatasan, tetapi ternyata dialah yang diberikan “titisan” sifat Robb dalam dirinya. Kepada Robb dan Ummu kita wajib bersukur. Bersyukur kepada Robb dengan cara mengesakanNya dalam “menyembah” dan bersyukur kepada orang tua khususnya kepada ibu disebut berbakti dengan kualitas terbaik secara ihsan. (QS Luqman ayat 14 dan Al Isro ayat 23)

Sekalipun ketaatan berpusat kepada ayah, namun perhatian, perawatan dan bakti teristimewa diberikan kepada al-umm, ibu. Seperempat bagian bakti diberikan kepada ayah sementara selebihnya yang tiga perempatnya diberikan kepada ibu.

Para sahabat Nabi menyadari betul bahwa bakti kepada ibu setara nilainya (bahkan lebih baik) dengan berjihad di jalan Allah. Dan para ulamapun sepakat jika jihad dalam level fardhu kifayah maka berbakti kepada orang tua khususnya kepada ibu lebih diutamakan.

Sahabat Jaahimah menceritakan kepada Muawiyah puteranya mengenai pengalamannya itu tentu agar sang putera bisa lebih tepat memperlakukan ibundanya. Semangat berjuang tidak boleh meninggalkan yang lebih pokok dan lebih prioritas. Dan itu sekaligus sebagai bentuk kesempurnaan dalam melaksanakan ajaran baginda Nabi saw.

Contoh lain dimiliki oleh seorang tabi’in terbaik, Uwais Al Qorni. Sedemikian keutamaan Uwais Al Qorni sehingga sahabat sekelas Umar bin Khattab ra disarankan oleh Rasulullah meminta kepada Uwais agar berkenan memohonkan ampunan kepada Allah untuk dirinya (Umar). Karomah yang dilimpahkan oleh Allah swt kepada dirinya lantaran besar baktinya Uwais kepada sang ibu, disamping juga karena memang sangat dalamnya cinta Uwais kepada baginda Nabi saw.

Umar bin Khattab kelak berhasil bertemu Uwais yang kemudian melaksanakan arahan Nabi saw itu setelah beliau menjadi Amirul Mukminin, pemimpin umat Islam.

Dalam syair terkenal disebutkan “Al Ummu madrosatun” – ibu adalah madrasah. Bagi bangsa ini setiap tanggal 22 Desember mengingatkan kita bersama bahwa ibu adalah madrasah yang menjaga kesucian fitrah sang anak semenjak janin di dalam kandungannya, dalam buaiannya hingga menjelang kedewasaannya. Mengingatkan bahwa ibu adalah madrasah yang menjadikan setiap keluarga, masyarakat dan bangsa ini mampu melahirkan para pejuang dan pahlawannya. Madrasah yang dari keikhlasan rahim sucinya akan muncul para pemimpin yang kelak mengawal bangsa ini dengan ketulusan, kesucian niat, kejujuran, kearifan yang penuh keadilan.

Hari ibu 22 Desember harus mampu menjadikan kita lebih tepat dalam memperlakukan ibu sejak awalnya.

Ibu harus dimuliakan dengan perlakuan terbaik bahkan sebelum anak-anaknya terlahir. Perlakuan terbaik harus didapatkan ibu agar perannya sebagai madrasah berfungsi dengan baik. Setara dengan keutamaannya dan kemuliaanya di sisi Allah swt. Memuliakan ibu berarti juga membekalinya dengan ilmu pengetahuan terbaik, keterampilan hidup terbaik, membekalinya dengan gizi terbaik, dengan kesehatan terbaik dan perlindungan terbaik.

Pemuliaan ibu harus yang terbaik agar desah nafas dan detak jantungnya mampu mengalirkan kasih sayang robbani (perwujudan nilai-nilai Robb) bagi anak-anaknya.

Ketika negara menjadikan secara resmi tanggal 22 Desember sebagai hari ibu, itu artinya negara memimpin bangsa ini dalam memperlakukan yang terbaik kepada para ibu dalam memuliakannya, termasuk juga pembinaan yang setepat-tepatnya kepada setiap calon ibu. Negara harusnya adalah pihak yang pertama kali menyadari makna dari doa yang selalu dipanjatkan oleh setiap keluarga, “Robbanaa hab-lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa” – wahai Robb kami karuniakanlah kepada isteri-isteri kami dan anak keturunan kami sebagai penyejuk mata (hati) kami dan jadikanlah kami “pemimpin” orang-orang yang bertakwa.

Dari isteri yang menyejukkan hati, dari rahimnya terlahir generasi, dari asuhannya muncul para pemimpin negeri yang dinanti.

Oleh : Riyadh Rosyadi (081234361400)