Warning: include_once(/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php): failed to open stream: No such file or directory in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22

Warning: include_once(): Failed opening '/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php' for inclusion (include_path='.:/opt/sp/php7.4/lib/php') in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22
Jangan Gunakan Agama untuk Keuntungan Ekonomi

Jangan Gunakan Agama untuk Keuntungan Ekonomi

Oleh karena agama mempunyai fungsinya yang besar dalam masyarakat manusia, maka berbagai pihak coba menggunakan nama agama atas berbagai tujuan. Ada yang ikhlas, ada pula yang mengambil kesempatan atas nama agama untuk memperoleh harta atau pengaruh. Maka penyalahgunaan nama agama bukan perkara baru dalam sejarah manusia. Bukan saja Islam yang menerima hal tersebut, agama-agama lain juga demikian. Namun bagi Islam, ia lebih lebih menyakitkan, karena Islam agama wahyu. Seorang Muslim yang sebenarnya tentu akan merasakan penyalahgunaan nama Islam adalah satu dosa yang amat serius karena hal itu adalah pemalsuan wahyu. Dalam arti kata lain, menyalahgunakan nama Allah dengan membuat dakwaan palsu, katanya Allah memerintah atau melarang itu dan ini, padahal tiada nash apapun dari Allah ataupun rasulNya adalah satu kejahatan besar.

Agama Rekaan

Firman Allah dalam Surah Al A’raf ayat 33

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menegaskan hal yang sama dalam banyak hadis Rasulullah, antara daripada ‘Aisyah radhiyallahu anha, katanya: Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini (Islam) apa yang bukan darinya maka ia tertolak”. (Riwayat Muslim).

Maka setiap insan Muslim hendaklah berhati-hati tentang kesempatan yang diambil oleh banyak pihak untuk menjadikan agama saluran keuntungan atau menempatkan pemikiran pribadi yang akhirnya diberikan cap agama. Jika hal ini dibiarkan, maka ajaran-ajaran palsu akan muncul atas nama agama dan Islam yang tulen akan hilang dari sebagian masyarakat.

Lelang Surga

Karena itu saya amat menentang seorang ‘warga seberang‘ yang menggelarkan diri Al Banjari dengan katanya memiliki beberapa kelebihan menhklaim bahwa siapa yang berjabat tangan dengannya, seakan berjabat tangan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Lantas siapa berjabat tangan dengannya akan masuk surga. Demikianlah murahnya harga surga yang dilelang olehnya. Dakwaan palsu ini dibuat olehnya dengan menggunakan hadis palsu katanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Siapa yang berjabat tangan denganku, atau dengan orang yang berjabat tangan denganku maka dia masuk surga”. Maka setiap mereka akan berjabat tangan dengan guru mereka dengan dakwaan katanya tangan tersebut telah berjabat dengan tangan sebelumnya secara berangkaian sehingga kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Sebenarnya, para ulama hadis telah mengingatkan tentang pembohongan hadis berkenaan. Kata Al Syeikh `Abd Al Fattah Abu Ghuddah dalam komentarnya bagi kitab Zafar Al Amani:

“Hadis musalsal (berangkai) berjabat tangan tersebut adalah batil dan dusta. Tiada asalnya dan tidak pernah ada”. Katanya juga: “Tiada keberkatan bagi pendustaan dan pembohongan hadis ini ke atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak dihitung ibadat menulis cerita dongeng ini melainkan dengan niat untuk memusnahkannya”. (hal 272, 273, Damsyik: Maktab Al Matbu`at Al Islamiyyah).

Dalam Lisan Al Mizan Ibn Hajar Al Asqalani menyebut: ”Riwayat berjabat tangan Mu`ammar tidak akan diterima oleh orang yang berakal” (jilid 6, hal. 68, Beirut: Muassasah Al `Ilm li Al Matbu`at,).

Artinya begitu mudah orang kita ditipu dan tidak menggunakan akal yang waras dalam beragama. Al Imam Al Sayuthi (meninggal 911H) di dalam fatwanya bila ditanya mengenai hadis ini, beliau berkata:

“Mu`ammar adalah pendusta lagi Dajal, hadisnya adalah batil, tidak halal meriwayatkannya”. (lihat: Tahqiq Zafar Al Amani, hal.275).

Demikianlah mudahnya agama kita dilelang oleh orang lain hanya karena terpengaruh dengan fesyen surban dan jubah orang tersebut. Jikalaulah mereka sedikit berfikir; pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam entah berapa banyak sahabah yang bersalaman dengan Rasulullah, pernahkah mereka mendakwa demikian? Pernahkah mereka mengadakan majlis menjemput orang banyak bersalam dengan mereka untuk masuk surga. Pernahkah ini dibuat oleh Abu Bakar, atau Umar, atau Uthman, atau Ali atau lain-lain? Saya sedih apabila yang bangun bersalaman ialah orang-orang masjid dan ‘peserta kuliah agama’. Sehingga saya tertanya-tanya; apakah segala pengajaran agama yang dipelajari gagal menjadikan mereka cerdik, atau sekurangnya menghidupkan fungsi akal mereka. Sedangkan agama datang untuk mencerdikkan akal bukan membodohkannya.

Barang-barang Khurafat

Demikian juga orang kita percaya adanya kayu atau rajah atau bahan tertentu mempunyai kesaktian tertentu. Ini seperti percaya dengan kayu kokka yang dijual di negara ini. Bahkan kayu tersebut dijual di Mekah dan Madinah oleh warga Bangladesh yang bertaburan di sana. Banyak pula yang membeli. Menggunakan nama agama lalu kayu itu dijual, katanya tongkat Nabi Musa ‘Alaihis Salam dibuat darinya. Demikian juga katanya bahtera Nabi Nuh ‘Alaihis Salam juga dibuat darinya. Maka dibohongilah orang banyak katanya kayu itu jika disimpan membawa rezeki, atau menolak bala dan berbagai kesaktian yang lain. Maka harga kayu tersebut yang beberapa Rupiah di negaranya bertukar menjadi ratusan bahkan ribuan Rupiah di negara kita. Padahal tidak satu dalil yang sahih pun dalam Islam mengenai kayu kokka tersebut. Mustahil pula untuk Islam membicarakan perkara yang bodoh seperti itu. Bahkan itu termasuk dalam sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

“Siapa yang menggantung (tangkal) maka dia melakukan kesyirikan” (Riwayat Al Imam Ahmad, dinilai sahih oleh Al Albani).

Menggantung di sini bermaksud menggantung sesuatu yang dipercayai dapat menangkis bala’ atau mendatang sesuatu kebaikan. Perbuatan itu di samping ia syirik, ia adalah satu kebodohan dan penipuan syaitan. Apabila saya mengeluarkan pernyataan mengenai hal ini, ada yang hubungi saya dan minta tolong jangan ganggu bisnisnya. Begitu manusia, dia sanggup melelang agamanya demi bisnisnya.

Melebihi Nabi

Serupa dengan itu, atas nama agama dijual air dan barang yang dijampi yang pelik-pelik. Sehingga ada yang membuat bisnis air tertentu yang dijampi secara tulisan dan bacaan. Diberi pula nama yang bermacam-macam. Katanya itulah ajaran Islam.

Saya tidak menafikan Rasulullah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menjampi penyakit seperti mana Rasulullah juga berobat dengan bahan-bahan perobatan yang lain. Ini disebut dalam hadis-hadis yang sahih. Namun dakwaan bahwa dengan air atau kismis atau apa bahan-bahan jampi orang yang tidak pintar pun bisa dipintarkan, suami atau anak yang tidak baik perangainya bisa dipulihkan, ini sudah luar biasa, bahkan melebihi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri. Rasulullah tidak menjampi kaum Quraish agar beriman, bahkan bapak saudaranya yang dekat dan dikasihi yaitu Abu Thalib pun meninggal dalam keadaan kufur tanpa dijampinya. Kalau dengan menjampi manusia boleh berubah sikap, pasti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan menjampi telaga zam-zam karena itu sumber air Quraish ketika itu. Pasti Quraisy akan berubah apabila meminumnya. Hal ini tidak berlaku dalam sirah Rasulullah. Kalau benar ada orang boleh menjampi sehingga mengubah sikap manusia kepada baik, atau mencerdikkan manusia maka eloklah kita mengupahnya menjampi kolam-kolam air di negara ini agar semua rakyat menjadi baik dan cerdik.

Ketahuilah sesungguhnya jalan untuk manusia mendapat hidayah adalah dakwah yang benar, keikhlasan hati penerimanya dan keizinan Allah Subhanahu wa Ta’ala Firman Allah dalam Surah Al Baqarah ayat 256-257

“Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), karena sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). oleh itu, siapa yang tidak percayakan taghut, dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui. Allah Pelindung (yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang engkar, penolong-penolong mereka ialah taghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan-kegelapan. Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya”.

Jampi Kecerdasan

Dalam hadis ada beberapa orang sahabah yang didoakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar diberikan ilmu dan kepandaian. Antaranya tokoh sahabah yang masih muda Ibn ‘Abbas r.a.huma yang Rasulullah doakan untuknya :

“Ya Allah! Ajarkanlah dia Al Kitab (al-Quran).(Riwayat Al Bukhari).

Ibn ‘Abbas benar-benar muncul sebagai tokoh ilmu pengetahuan, penafsir Al Quran dan sahabat yang alim yang menjadi rujukan umat. Namun Ibn ‘Abbas bukanlah seorang yang hanya menunggu hasilnya doa Rasulullah datang tergolek seperti sebagian pihak yang menunggu hasil bahan jampi. Sebaliknya sejarah mencatatkan kesungguhan beliau dalam berusaha memperoleh ilmu. Selain dari berkesempatan mengambil ilmu secara langsung daripada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama tiga puluh bulan. Kemudian Rasulullah wafat ketika umur Ibn ‘Abbas tiga belas tahun. Beliau terus mengambil hadis daripada para sahabah seperti ‘Umar ibn Khattab, ‘Ali, Mu’az, bapanya sendiri iaitu ‘Abbas, ‘Abd Al Rahman bin ‘Auf, dan banyak yang lain. (lihat: Adz Dzahabi, Siyar ‘Alam Al Nubala`, 3/332-337, Beirut: Maktabah Al Risalah). Maksudnya, doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memang dimakbulkan Allah melalui proses keilmuan yang sepatutnya.

Sebaliknya, keadaan sebagian masyarakat Muslim seakan coba digula-gula dengan meminum atau memakan bahan jampi orang agama, maka akan berlaku keajaiban dalam kehidupan. Sepatutnya yang ditekankan adalah soal kesungguhan menuntut ilmu seperti yang difardhukan oleh Islam. Malangnya dalam masyarakat Muslim, kesungguhan membaca, memiliki buku, memenuhi perpustakaan, menulis bahan ilmiah tidak digembar-gemborkan, bahkan ‘orang lain’ mendahului kita. Tiba-tiba jampi menjadi cerdik pula yang mendapat publisitas dan dijual secara komersial. Tidakkah kita merendahkan Islam apabila orang bukan Islam melihat anak orang kita yang minum air jampi ‘ustadz’ tidak lebih cemerlang atau jauh ketinggalan dibandingkan anak ‘orang lain’ yang berbekalkan air mineral?. Janganlah kita lelangkan agama karena bisnis kita.

Perusahaan Cetak Pahala

Menjelang bulan puasa, banyak pula yang buat bisnis formulir atau kupon amalan tertentu yang katanya jika dibeli maka pahala akan diposkan kepada arwah yang disebut namanya dalam formulir atau kupon berkenaan. Maka seakan pahala akan dicetak oleh pengeluar formulir untuk kegunaan arwah di alam barzakh dengan bayaran yang diupahkan. Entah perusahaan mana yang mencetaknya atau kantor pos mana yang mengirimnya, kita tidak tahu pasti. Demikian mereka melelangkan agama sehingga ada individu tertentu yang memperoleh keuntungan puluhan bahkan ratusan ribu Rupiah dengan melelang pahala di bulan puasa. Seakan siapa duit banyak, maka selamatlah dia di akhirat. Dunia suap kita bagai menjelma juga selepas kematian. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah memberi peringatan:

“Bacalah Al Quran dan mintalah daripada Allah (pahala), karena selepas kamu akan ada kaum yang membaca Al Quran dan meminta (upah) daripada manusia” (Riwayat Ahmad dan Al Tirmizi, dinilai hasan oleh Al Albani).

Namun masyarakat kita banyak yang terpengaruh dengan perkara-perkara yang disebutkan ini karena ingin jalan pintas tanpa usaha. Mereka ingin cerdik secara pintas tanpa belajar, kaya pintas tanpa usaha, masuk surga pintas tanpa beramal, dan seumpamanya. Golongan yang berkepentingan pula, mengambil kesempatan atas nama Islam. Kalau demikian cara kita beragama, maka tidak heranlah jika banyak orang Melayu suka ‘Ali Baba’kan segala peluang yang diberikan kepadanya.

 DR Muhammad Asri Zainul Abidin