Ketika Cinta Menjadi Ujian

Setiap orang sepakat bahwa salah satu ikatan yang terkuat antar manusia adalah ikatan antara ibu dan anak. Ketika ikatan itu terputus, apalagi bagi seorang ibu, tentu kesedihan yang menimpa akan sangat hebat. Sepenggal kisah sempat kurekam dalam perjalanan hidupku tentang ujian terberat bagi seorang perempuan, yaitu kehilangan putranya dalam proses persalinan. Terlebih ia tak sempat memandang atau merengkuh buah hatinya itu. Putranya segera dikuburkan ketika ia masih dalam kondisi lemah setelah proses persalinan. Ia mengetahui wajah putranya dari foto yang sempat diabadikan oleh keluarganya. Namun, sebuah hikmah yang sangat mengesankan dapat kuambil darinya. Hikmah atas kemurnian Cinta….

Sahabat, kawan dan saudara menjenguknya setelah mengetahui berita mengenai dirinya. Ia hanya bisa tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca ketika mereka menyatakan belasungkawanya dan memberikan anjuran untuk sabar.

Pernah salah seorang dari sahabatnya, mengutip kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Suatu ketika, mereka berdua sampai di sebuah wilayah. Kala itu ada seorang anak yang bermain-main di dekat kedua utusan Allah itu. Tiba-tiba, Nabi Khidir membunuh anak kecil tersebut. Nabi Musa kaget dan mempertanyakan kenapa Nabi Khidir menghilangkan nyawa anak kecil tersebut yang tentu saja masih belum memiliki dosa. Di akhir kisah tersebut, Nabi Khidir menjelaskan hikmah dari perbuatannya, bahwa anak tersebut adalah anak dari pasangan yang shalih dan shalihah. Akan tetapi, anak tersebut ketika dewasa akan menjadi anak yang durhaka dan menimbulkan fitnah terhadap kesolihan kedua orang tuanya.

Sahabatnya kemudian mengatakan mungkin saja anaknya kelak ketika dewasa akan menjadi anak yang durhaka sehingga Alloh mencabut nyawanya ketika dia masih suci dan bersih dari dosa sebagaimana dalam kisah Nabi Musa tersebut.

Ketika itu aku mendengar penuturan sahabatnya tersebut. Entah rasanya tidak nyaman mendengar hikmah anak durhaka tersebut. Aku berpikir tidak ada ibu yang menginginkan atau bahkan membayangkan saja anaknya akan menjadi durhaka ketika dewasa. Anak durhaka akan dimurkai oleh Alloh dan tentu saja kasih sayang seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya menjadi seorang yang dimurkai Tuhannya.

Kegelisahan itu membawa diriku pada perenungan dan bagiku perenungan terbaik adalah ketika membaca dan mentadabburi titah-titah  Allah Sang Maha Kuasa, yaitu membaca Al Quran. Ketika itu, aku sampai pada sebuah ayat yang aku pahami menceritakan dua orang shalih yang ingin memiliki anak. Alloh kemudian mengaruniakan kepada mereka seorang anak yang juga shalih. Tetapi anak tersebut karena keshalihannya membuat orang tuanya terlalu mencintainya sehingga Allah menegur mereka, apakah mereka akan menduakan cintanya kepada Allah karena anak tersebut. Padahal, segala kebaikan pada anak mereka asalnya adalah dari Allah. Ayat tersebut memberikan penjelasan yang menurutku lebih baik bagi seorang ibu yang kehilangan putranya.

Aku kemudian mendatangi perempuan tersebut, kupandang wajahnya yang teduh.

“Sabar ya! Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun, Segala sesuatu adalah milik Allah dan Sungguh kepada-Nya tempat kembali.”

Lalu aku menjelaskan kepadanya tentang beberapa ayat tadi. “Insya Allah, ia akan menjadi wasilah dan selalu menjadi pengingat agar kita yang ditinggalkannya berusaha terus untuk menjadi hamba yang solih sehingga kelak kita akan bertemu dengannya di surga.”

Ia tersenyum namun dengan mata yang berkaca-kaca. “Iya, Ini teguran dari Allah agar saya memurnikan cinta saya kepada Allah dan tidak menduakan-Nya. Menjadikan segala cinta berdasar cinta kepada-Nya bukan malah melenakan diri dengan cinta kepada manusia yang terkadang mengaburkan cinta kepada-Nya’

“Selama ini, mungkin saya terlalu mencintai suami saya dan sedemikian terikat dengan rindu kepadanya sehingga mengaburkan dasar cinta saya kepadanya, yaitu cinta karena Allah. Saya secara tidak sadar menduakan Allah dalam hal ini, bahkan secara tidak sadar mungkin menduakan Allah dalam hal lain. Kembalinya putra kami menjadi pengingat bagi kami untuk memurnikan kembali atas dasar apa ikatan cinta kami, yaitu cinta karena Allah. Semoga Allah mengampuni hamba-Nya yang penuh kesalahan ini.”

“Mengenai apa yang menimpa saya, insya Allah saya sabar dan menerimanya dengan ikhlas, hanya saja memang sifat manusiawi saya sebagai seorang ibu yang kehilangan putranya membuat saya tak dapat menahan air mata ketika teringat akan putra saya terlebih ketika sahabat-sahabat saya yang datang dengan wajah yang sedih pula atau ketika melihat wajah orang tua saya yang menunggu kehadiran cucu pertamanya sehingga saya ikut-ikutan sedih”

Mendengar penyikapannya tersebut aku pun tak dapat menahan air mata karena terharu dan kagum padanya.

Oleh: Awan Lazuardi, Jakarta

Blog