Menyongsong Bangkitnya Khilafah Islamiyah

Tahun 2011 sepertinya adalah penuh semarak bagi pergerakan islam. Bersejarah. Di timur tengah, fenomena kemenangan tengah dirasai oleh para pejuang pergerakan islam karena keberhasilan menumbangkan sang tiran. Mesir mengawalinya, dengan menumbangkan rezim tiran, Hosni Mubarak. Kemudian menyusul Tunisia. Satu persatu para rezim tiran itu jatuh bertumbangan menyusul guru mereka, sang tiran yang terbadikan dalam al-quran, Fira’un. Fenomena kebangkitan islam di timur tengah yang oleh barat menyebutnya dengan fenomena ‘musim semi arab’, Arab Spring. Mengingatkan saya pada sebuah nubuwah akhir zaman dari Rasulullah,

…Kemudian akan berlangsung kerajaan sewenang-wenang menurut kelangsungan yang dikehendaki Allah. Lalu Allah akan mengangkatnya ketika Ia menghendaki. Kemudian akan berlangsung khilafah diatas jalan kenabian’ Lalu beliau diam” ( HR. Ahmad)

Jika kita cermati lebih dalam, nubuwah baginda Nabi SAW. saat inilah yang dimaksud. Ya, Boleh dikatakan, fenomena ‘musim semi Arab’ telah melapangkan jalan menuju kekhalifahan yang telah lama hilang. Sebuah tatanan dunia penuh rahmat yang kita rindukan. Sebuah era dimana seekor serigala pun hingga menjadi vegetarian dan enggan menyantap domba yang ada dihadapannya. Sebuah zaman yang mengambarkan kemakmuran sebuah negeri yang disebutkan dalam surah Saba’ ayat kelima belas, “(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun” Sebuah jalan kini telah terbentang. Momentum yang menjadi takdir sejarah kita, kini telah siap kita songsong. Seperti yang dituliskan Anis Matta dalam Delapan Mata Air Kecemerlangan, “Takdir sejarah kita adalah pertemuan-pertemuan yang mengharukan antara karya-karya besar yang lahir dari kompentensi inti kita, dengan kebutuhan yang sangat mendesak dari lingkungan komunitas dimana kita hidup, pada suatu ruang dan waktu tertentu. Itulah momentum sejarah kita; saat dimana potensi-potensi kita meledak menjadi karya-karya besar, dan bertemu dengan kebutuhan komunitas kita pada saat yang sama”

Teringat di penghujung kekhalifahan turki utsmani yang runtuh pada tahun 1924. Selang beberapa tahun kemudian 1928, Imam Asy Syahid Hasan Al Banna mendirikan Al ikhwan Al Muslimun mulai meretas kembali jalan penegakan khilafah dengan tahapan-tahapan yang sangat cergas dalam maaratib al ‘amalnya. Dan momentum pun bak gayung bersambut, di hampir seratus tahun kemudian. Yah, saat ini. Al Hafidz Imam As suyuthi dalm Tarikh khulafa’ pada bagian akhir kitabnya menuliskan sebuah catatan, beliau menukil pendapat Ibnu Hatim dalam tafsirnya tentang sebuah Atsar dari Abdullah Ibn Amr Ibn Al Ash, “Tidak ada dalam seluruh perhitungan waktu sejak dunia ini ada, kecuali akan selalu terjadi suatu yang yang sangat mengemparkan di ujung seratus tahun.

Kini sebuah momentum pergiliran sejarah ada bersama kita. Berpihak pada kita. Tinggal bagaimana kita menjemput momentum sejarah itu dengan takdir sejarah kita. Seperti yang terfirman dalam surah Ali Imron ayat ke seratus empatpuluh. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” Masa kekhalifahan itu sudah sangat dekat, sangat dekat.

Dakwah Menyiapkan Figur Pemangku Amanah

Tugas besar itu kini bukanlah menantikan kapan datangnya masa kekhalifahan yang berjalan diatas jalan kenabian. Tetapi adalah mempersiapkan diri menjemput takdir sejarah gemilang itu. Momentum sudah ada di depan mata. Tapi bila kita tidak sigap dan siap menerima momentum itu, maka itu hanya akan menjadi sebuah episode zaman tanpa arti. Bahkan mungkin buruk lagi. Karena terkadang kita terlena oleh romansa kemenangan dan keberlimpahan, seperti yang dituturkan Ibnu Khaldun, “keberlimpahan terkadang menumpulkan semangat juang ummat secara perlahan dan membuat mereka kurang peka pada hal-hal kecil yang sedemikian rentan memicu perpecahan”, hingga kita lupa untuk mempersiapkan takdir sejarah kita. Akhirnya momentum pun berlalu begitu saja.

Ustadz Rahmat Abdullah pernah menuturkan, “Li kulli marhalatin rijaaluha, Wa li kulli marhalatin masa’iluha, setiap tahapan memiliki kader-kadernya masing-masing dan setiap tahapan memiliki masalahnya sendiri-sendiri” Tentu menyiapkan para pemangku amanah yang siap mengemban tanggung jawab besar adalah sebuah kewajiban. Seperti sudah kita fahami dalam kaidah fiqh, “Maa laa yatimnu al wajiib illaa bihi fa huwa wajiib, sesuatu yang tanpanya memnjadikan sesuatu ayng wajib menjadi kurang sempurna, maka sesuatu tersebut terhukumi wajib juga.” Menegakkan sebuah khilafah adalah sebuah kewajiban, karena memang misi manusia adalah menjadi seorang ‘Abdullah dan Khalifah Allah di muka bumi. Dan momentumnya sudah ada. Tetapi apalah artinya sebuah kekhalifahan bila tidak dipangku oleh seorang yang berkompeten? Akankah mengulang kecelakaan sejarah dengan menempatkan orang-orang yahudi dan majusi dalam pemerintahan, hingga menjadi gunting dalam lipatan dan memporakporandakan tatanan khilafah yang telah terbina, dengan memunculkan wangsa Fatimiyin? Maka menyiapkan sosok rijaal yang siap memangku amanah adalah sebuah kewajiban yang niscaya dan tak terelakkan.

Iman, Dakwah, Khilafah

Maka dari sinilah kita kan memulainya dengan menyiapkan kader-kader nan tangguh mumpuni yang siap memikul beban tanggung jawab besar. Jika kita kita merujuk kepada blueprint gerakan yang telah disusun dengan cerdas oleh Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, yang bertajuk Maaratib Al ‘Amal. Diawali dengan langkah perbaikan kualitas diri (Ishlah An Nafs). Pelanjut beliau, Hasan Al Hudhaibi menyatakan “ Aqim daulatal islami fii qalbika, taqum fii ardhika, tegakkan daulah islam di dalam hati, maka ia akan tegak diatas bumimu.” Sebelum melangkah lebih jauh, mari cermati sebuah firman Allah berikut:

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim : 24-25)

“Pohon itu seperti seorang mukmin” kata Sang Nabi sambil tersenyum, “tak gugur daunnya, kokoh pokok dan batangnya dan menjulang ke langit cabangnya. Pohon itu adalah pohon kurma.” Ibnu Al Qoyyim Al Jauziyah pun juga menganalogikan demikian, bahwa iman laksana sebatang pohon yang akarnya jauh menghujam jiwa, batangnya kokoh, dahan-dahannya menjuntai melangit tinggi, dan buahnya nan manis, harum serta lembut yang senantiasa hadir di sepanjang musim di sepanjang tahun. Begitulah gambaran iman, ia diawali dari sebuah keyakian kuat menghujam jiwa dan senantiasa mnjaga keterhubungannya dengan Allah. Kemudian dari iman itu akan muncul buah yang manis, harum dan lembut berupa tutur kata, akhlaq nan santun dan selalu bisa memberikan manfaat kepada siapapun dan kapanpun tidak bergantung musim cuaca dan waktu. Mukmin harus menisbahkan dirinya dengan pemberi manfaat kepada siapa saja dan kapan saja. Itulah batang iman sementara penghujungnya adalah kesediaan untuk mengutamakan orang lain daripada diri sendiri atau yang sering disebut dengan itsar.

Lalu apa keterkaitan iman, dakwah dan khilafah? Jika iman diibaratkan oleh sebuah pohon yang selalu berbuah disepanjang musim di sepanjang tahun dengan buahnya yang harum, manis lembut. Maka dakwah adalah upaya penyemaian bibit-bibit yang akan menumbuhkan pohon iman hingga di suatu masa tidak ada lagi tetumbuhan selain pepohon iman yang kuat akarnya menghujam, batangnya kokoh, dahannya melangit, dan buahnya yang harum manis lembut senantiasa bisa dinikmati sepanjang tahun. Dan kelak dari rerimbun dedaunnya membuat sesiapa yang melintas dibawahnya terteduhi dari sengat panas mentari, dan dari buah yang dihasilkannya setiap pelintas tidak akan kelaparan. Perkebunan pohon iman inilah yang kelak kita sebut sebagai sebuah khilafah!

Ustadziyyatul ‘Alam: Khilafah Bukan Sekedar Kekuasaan

Khilafah hadir sebagai sebuah sistem untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia dengan prinsip keadilan dan sebagai rahmat bagi semesta. Ia akan membumikan syariat Allah yang sempurna untuk mengatur perilaku hidup umat manusia agar selaras dengan sesamanya dan semesta. Ia adalah wakil Allah, dalam pengelolaan alam semesta. Karenanya maqoshid syari’at atau tujuan diberlakukan syariat adalah untuk menjaga apa yang dinamakan dengan arkan Khamsah Dhururiyah fi Hayat (lima hajat primer) :  (1) Ad-Din (Agama), (2) An-Nafs (jiwa), (3) Al- Aql (akal), (4) An-Nasl (Keturunan), (5) Al-Mal (Harta). Sesuatu hak yang paling asasi dari setiap manusia, agar tidak terjadi perampasan hak dan kezhaliman terhadap hak-hak tersebut diantara manusia. Inilah tugas Khalifah, tugas wakil Allah. Sehingga terjadi keseimbangan dan keselarasan hidup antar manusia dan semesta. Karena terjaganya keadilan. Bahkan non muslim sekalipun juga dapat merasakan betapa agung dan besarnya keadilan islam. Seperi kisah sengketa tanah antara Gubenur Mesir Amr Ibn Al-‘ash dengan seorang yahudi miskin. Keadilan sang khalifah Amirrul Mukminin Umar Ibn Khaththab yang ternyata membela kepemilikan tanah yahudi, membuat yahudi itu berislam saking takjubnya dengan keadilan sang khalifah memimpin.

Ya, itu adalah visi besar dan cita-cita kita. Khilafah bukan sekedar membahasakan kekuasaan super state. Tetapi lebih daripada itu, Ia haruslah mampu meninggikan kalimah Allah dan membumikan syariatNya. Khilafah dalam bahasa Imam Asy Syahid Hasan Al Banna adalah sebuah Ustadziyyatul ‘alam. Sebuah guru peradaban semesta. Kita tidak perlu lagi mengambil contoh dari peradaban barat romawi atau peradapan timur Persia. Tapi Islam lah yang menjadi sebuah peradaban besar yang akan menjadi kiblat utama dan rujukan bagi seluruh peradaban dunia.

Dan sekarang tugas kita adalah bagaimana sebuah peradaban besar itu mampu terbit dan mengguncang zaman? Jawabnya cukup mudah dengan dakwah dan tarbiyah. Pelanjut ketiga Al Ikhwan Al Muslimun, Umar at Tilmisani menyatakan bahwa tarbiyah adalah jalan panjang sekaligus tercepat butuh waktu yang lama namun terjamin hasilnya. Dengan mengawali dari sebuah perbaikan diri sendiri (Ishlah An Nafs) kemudian membentuk keluarga islami dan masyarakat islami, selanjutnya adalah pembebasan negeri muslim yang terjajah hingga perbaikan hukum dan berakhir pada tahap Ustadziyyatul ‘alam. Dan dakwah adalah upaya mengajak orang-orang untuk memperbaiki dirinya dengan menanamkan pengetahuan keislaman kepadanya. Inilah yang sebut oleh Syaikh Hasan Al Hudhaibi sebagai Aqim daulatal islami fii qalbika, taqum fii ardhika. Menegakkan daulah islam di dalam diri maka ia akan terpancang tegak di muka bumi. Dalam konsep yang lebih sederhana, KH. Abdullah Gymnastiar menyebut konsep untuk merubah bangsa 3M : mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil dan mulai dari saat ini.

Kelak dari tarbiyah ini akan lahir kader-kader terbaik yang akan siap memangku amanah dalam kekhalifahan. Karena tugas khalifah adalah melayani umat manusia dan menjaga keberlangsungan keseimbangan dan keadilannya. Dan kebutuhan umat sangat beragam dan banyak. Jangan sampai urusan vital masalah keumatan harus diserahka kepada orang-orang non muslim yang akan menjadi batu sandungan dan bumerang, yang akan merobohkan kekhalifahan. Kelak jangan lagi terulang kecelakaan sejarah, seperti yang terjadi pada wangsa umayah yang menempatkan beberapa orang yahudi dan majusi dalam stuktur pemerintahannya. Karena ketiadaan kader nan mumpuni dari umat islam. And The Khilafa, will be back !!


Maka gemuruhlah Makkah dan Madinah, oleh lantunan takbir dan talbiyah

Ketika sunyi membungkam Roma dan Konstantinopel, dalam kekakuan dogma

Maka hangatlah diskusi-diskusi di Bashrah dan Kufah, saat Genoa dan Venesia dihantui inkuisisi

Maka bersinarlah perpustakaan Kairo, ketika para dukun komat-kamit di kegelapan Lisabon

Maka gemerlaplah Baghdad oleh lantunan ayat di semarak malam, ketika Paris gulita sejak senja dalam takhayul dan mitos

Maka gemericiklah air mancur Damaskus dalam kesucian thaharah, ketika ketika para ‘bangsawan’ di London menganggap mandi adalah aktivitas berbahaya.

Maka berdengunglah ayat-ayat Allah menjelang buka puasa dengan sajian kurma, yoghurt serta buah segar di balkon-balkon pualam Cordoba dan Granada, saat Kathedral di Wina dan Bern menutup makan malam dengan pudding darah babi

-Salim A Fillah,-

 

Oleh : Ardhianto Murcahya, S.Psi, Solo
Facebook – Twitter – Blog