Menghitung Sisa-Sisa

Ada satu waktu yang sering diperingati oleh manusia. Bukan sekali, namun berkali-kali sesuai jumlah hitungan usianya di dunia. Mereka menyebutnya ulang tahun. Entah siapa yang pertama kali memunculkan istilah ini. Tidak banyak pula yang tahu siapa yang pertama kali merayakan momen seperti ini.

Lucu sebenarnya ketika berkurangnya jatah hidup didunia justru diisi dengan makan-makan dan syukuran. Apalagi bila sampai pada usia, 17 tahun. Seolah ini menjadi usia emas yang harus dirayakan besar-besaran. Pada kalangan tertentu, bahkan perayaan ini bisa menghabiskan uang berjuta-juta dalam satu malam.

Setiap manusia punya jatah hidup yang berbeda. Setiap kali tanggal lahir berulang, maka jatahnya berkurang. Bahkan setiap hari jatah hidup kita menyusut sehari demi sehari. Tidak ada yang pernah tahu berapa jatah hidup di dunia sebenarnya. Bahkan mereka yang hidup hingga melewati waktu satu abad pun tidak pernah tahu bahwa dia akan hidup selama itu.

Alhamdulillah, Allah merahasikan itu. Coba bayangkan bila kita tahu bahwa hidup kita tinggal satu bulan. Mungkin satu bulan hidup kita hanya berisi keresahan demi keresahan. Bisa jadi tidak ada satu orang pun yang mau membuka tali rejeki dengan kita. Mau mengajak bisnis, tidak jadi sebab keesokan harinya sudah dipanggil sang kuasa. Atau bagi yang belum menikah, bisa jadi tidak ada satu orang pun yang akan memilih kita kalau tahu bahwa umur kita hanya tinggal satu tahun.

Karena itu, patutlah kita menghitung sisa-sisa umur kita dengan ibadah yang seksama. Bukan dengan perayaan yang rupa-rupa. Cukup hadits ini menjadi pengingat akan singkatnya hidup kita.

“Umur ummatku berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit yang melewatinya.” HR. Tirmidzi.

Sudah berapa banyak yang tiba ajalnya sebelum beranjak dewasa? Tidak peduli sakit atau pun sehat. Tua ataupun muda, usia kita sudah rapi tertata. Tidak ada perpanjangan kontrak yang bisa kita beli dengan uang berjuta-juta.

 

Jadi, masih merasa muda?