Muslimah, Cerdas Mengelola Keuangan

 

Sepertinya perempuan banyak yang ditakdirkan untuk menjadi pengelola keuangan. Mulai dari mengelola keuangan diri sendiri, keluarga, usaha keluarga, usaha kecil menengah hingga perusahaan besar. Namun tak semua perempuan mampu mengelola keuangan dengan baik. Karena memang tak semua perempuan mau untuk belajar mengelola keuangan, disaat keuangan yang mereka kelola tidak berjalan dengan baikatau pendapatan yang minimal. Banyak dari mereka yang menyerah, dan berkata pada diri sendiri jika dia memang tak ada bakat untuk melakukannya dengan baik. Rata-rata mereka cenderung impulsive buyer, belanja diluar list kebutuhan karena keinginan yang datang tiba-tiba.

Sebagian orang berpendapat pengeluaran berbanding lurus dengan pemasukan. Pendapat ini banyak dikemukakan oleh para pekerja yang mempunyai pendapatan cukup atau pas-pas-an. Pas ada pemasukan lebih, mendadak pula selalu ada kebutuhan diluar anggaran yang harus dipenuhi. Untuk meminimalisir kondisi seperti ini, sebaiknya menelaah penghasilan kita setiap bulannyan. Tunjangan apa saja yang diperoleh dari perusahaan bagi karyawan. Atau berapakah laba bersih yang kita dapatkan jika kita berwirausaha. Untuk memastikan sejauh mana kita bisa mencukupi kebutuhan dan mengelola “keinginan”.

Sederhananya ada 2 macam pengeluaran yang harus kita penuhi. Pengeluaran wajib dan tidak wajib. Membaginya tentu sesuai prioritas yang harus dipenuhi terlebih dulu.

Pengeluaran Wajib

Post di pengeluaran wajib ini dapat kita bagi, misalnya:

  • Anggarkan terlebih dahulu zakat yang kita peroleh dari penghasilan kita tiap bulannya. Karena zakat sebagai sarana paling utama untuk membersihkan harta yang kita peroleh.
  • Kebutuhan Rumah. Mulai dari belanja bulanan kebutuhan pokok. Pembayaran listrik, PDAM, telepon, hingga iuran di lingkungan rumah.
  • Anggaran Pembayaran pendidikan untuk anak.
  • Anggaran kesehatan untuk keluarga.
  • Anggaran untuk belanja sehari-hari.
  • Angsuran atau hutang. Mulai dari cicilan hingga hutang yang harus diselesaikan.
  • Anggaran untuk sedekah. Rutinkan pengeluaran sedekah ini. Mulai dari membantu orang tua, mertua, saudara, tetangga hingga teman kantor. Dan persiapkan, jika mendadak mereka butuh, kita siap membantu mereka meskipun semampu kita.

Pengeluaran Tidak Wajib

  • Membeli barang-barang komplementer (pelengkap) dan tersier (mewah). Keinginan tak ada habisnya. Yang perlu kita pelajari adalah cara mengelola keinginan. Tidak ada salahnya memenuhi keinginan, asalkan kebutuhan yang wajib sudah dicukupi, termasuk hutang jangka pendek dan penyisihan dana untuk hutang jangka panjang (angsuran). Dan diukur pula dengan penghasilan kita tiap bulannya. Jika cukup, silahkan dibeli. Namun jika belum cukup, silahkan menabung terlebih dahulu, membeli dengan cara menabung, tingkat kepuasannya berbeda. Usahakan untuk tidak menggunakan kartu kredit. Sekali lagi, dengarkan kata hati, jangan turuti pembenaran hawa nafsu. Hindari hutang sebisa mungkin. Teringat doa Rasulullah, untuk terhindar dari tekanan manusia dan lilitan hutang.
  • Bepergian (Rihlah). Kapanpun sempatkan untuk meng-agendakan kegiatan ini untuk diri sendiri dan keluarga. Setidaknya hadiah untuk diri sendiri yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dan kepuasan tersendiri jika mengajak mereka bepergian. Utamakan ke daerah yang disana ada keluarga jauh dan jarang kita kunjungi disana. Sekalian ajang silaturrahim. Bagi yang sudah punya buah hati, ini momen yang tepat untuk mengajarkan kepada mereka pentingnya silaturrahim, serta kata orang jawa dulu, menghindari kepaten obor yaitu tak kenal saudara karena jarang saling mengunjungi.

Anggaran bepergian ini bisa menjadi pengeluaran wajib, jika setiap tahunnya anda melakukan mudik ke kampung halaman. Bisa jadi pengeluaran ini harus ada anggaran ekstra, mulai dari anggaran transportasi yang dipilih ketika mudik, akomodasi (anggaran untuk penginapan jika memutuskan untuk menggunakan kendaraan sendiri dan stay terlebih dulu di beberapa kota sebelum kota tujuan), dan anggaran buah tangan (oleh-oleh) meskipun kecil tapi ini bentuk perhatian kepada orang yang kita kunjungi.

  • Atur perencanaan pengeluaran jangka pendek & jangka panjang.
  • Pengeluaran jangka pendek. Sisihkan sebagian penghasilan untuk alokasi bonus Tunjangan Hari Raya, bonus akhir tahun dll, untuk keluarga dan karyawan yang bekerja dengan kita. Hal ini memudahkan kita mengelola pengeluaran, apalagi untuk pekerja  yang berwirausaha, karena pemasukan yang tidak stabil.
  • Pengeluaran jangka panjang. Misalnya alokasi dana untuk pendidikan anak, alokasi dana untuk investasi rumah dan perencanaan usaha baru atau pengembangan usaha.Rasulullah tidak menyukai umatnya yang lemah. Maka ketika kita sehat dan masih memiliki waktu, gunakan untuk merancang “investasi” masa depan. Agar kita pun tidak meninggalkan keturunan kita dalam keadaan lemah.

Anda bisa menambahkan postingan perencanaan dana tersebut sesuai kebutuhan dan keinginan anda. Lebih baik lagi alokasi dana-dana tersebut disimpan di tabungan syariah, untuk mendisiplinkan diri atas apa yang kita rencanakan.Sah-sah saja kita punya beberapa tabungan, asalkan sudah apa pos-posnya masing-masing. Perencanaan ini harus berdasarkan komitmen dengan diri sendiri dan pasangan. Sehingga goals yang direncanakan dapat tercapai.

Jangan lupa checklist pos-pos dana yang sudah terpenuhi. Semoga bermanfaat.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.  (QS. Al Baqarah:261)

Rasulullah bersabda: “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban), tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya darimana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya (HR. At Tirmidz. No. 2417).

Leave a Comment