Naluri Kepahlawanan Sejati

Tidak mudah merangkai kata menjadi sebuah makna yang ringkas dan bernas, seperti juga tak semudah bertutur dengan diksi alami yang bernurani dan menyejukkan hati. Umar bin Khattab pernah bernasihat: “Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani”.

Dalam lingkup putaran waktu, sejarah tak pernah berhenti menyajikan kisah-kisah baru, menghimpun kumpulan peristiwa yang menjadi teladan umat manusia. Bukankah sejarah yang sesungguhnya merupakan industri para pahlawan? sedang kita sendiri seringkali terlalu cepat menerjemahkan apa itu arti “pahlawan”, baik pahlawan berupa sosok pemimpin atau orang biasa yang begitu penting bagi kita.

Dalam buku Mencari pahlawan Indonesia Anis Matta menuliskan: “Dalam skala peradaban, setiap bangsa bergiliran merebut piala kepahlawanan. Mereka selalu muncul di saat-saat sulit, atau sengaja Allah “lahirkan” mereka di tengah situasi yang sulit. Poin pertama: kepahlawanan adalah piala yang direbut, sedang poin kedua: Allah melahirkan mereka di saat-saat yang sulit. Bila diresapi, jiwa kepahlawanan tentulah bukan sembarang pengakuan diri, pada kenyataannya Allah akan menghadiahkan piala yang direbut bagi mereka yang telah berusaha, hal ini tentu mengandung nilai perjuangan yang perlu diikhtiarkan dan tentu akan ada yang terkorban. Teringat sebuah lirik nasyid Sahabat Perjuangan yang dibawakan oleh munsyid Tazakka, berikut potongan liriknya:

Perjuangan itu artinya berkorban..

Berkorban itu artinya terkorban..

Janganlah gentar untuk berjuang..

Demi agama dan bangsa..

Inilah jalan kita..

            Bila direnungi, sekilas tersirat nilai kepahlawanan dalam potongan lirik tersebut, Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Nampaknya syair tersebut ada benarnya, bahwasanya setiap yang berkorban pastilah ada yang terkorban, di sinilah hakikat pahlawan yang sebenarnya, situasi sulitlah yang menjadikan ia berbeda dengan obesi para pahlawan yang lain, di mana sebuah pencapaian membutuhkan peluh dan keikhlasan hati.

Pemberani

Pahlawan sejati adalah mereka yang pemberani, berani mengibarkan bendera Allah demi sebuah kebenaran hakiki. Ia akan senantiasa merendah dan menghargai sebuah pencapaian sekecil apapun itu, mensyukuri keadaan dan memaksimalkan potensi. Analoginya pahlawan terkadang seperti malaikat, senantiasa taat kepada Rabbnya. Sifat tersebut sebagian bisa kita temui di sekitar kita. Pernahkah kalian mendapati pahlawan yang paling dekat denganmu? Ia tak tertulis dalam sejarah dunia, namun terukir dalam catatan para malaikat.

Sebuah kenyataan, barangkali kita sering keliru dalam menyikapi sebuah fenomena di sekitar kita tersebut. Banyak orang berlomba menyeru kebaikan, namun tidak sedikit yang bermaksiat. Dalam hal ini seorang pahlawan tidak akan melihat seseorang yang tengah bermaksiat sebagai seorang musuh, pahlawan hanya akan berbatin: “Saudaraku itu tengah diculik oleh setan, maka aku perlu membantu untuk membebaskannya”. Dengan pemikiran tersebut, pahlawan tidak akan memposisikan dirinya lebih baik dari orang yang bermaksiat, justru ia akan mengartikan saudaranya tadi adalah tawanan setan yang perlu ditolong agar bebas dari jeratan anak iblis.

Bila benar keberanian merupakan fitrah yang tertanam pada diri seseorang atau karunia Allah yang diterimanya melalui sebuah proses latihan, maka semakin kemari keduanya akan semakin terpaku kuat pada diri dan keyakinan mereka. Sifat itu akan terlihat dari cerminan cinta terhadap prinsip dan jalan hidupnya, kepercayaan pada dunia akhirat dan kebenaran rindu yang menderu pada Allah Ta’ala – Tuhan semesta alam.

Pahlawan dari generasi sahabat mempunyai daya cipta sarana materi dalam tiga wilayah, “Di medan perang, dalam percaturan politik dan di dunia bisnis” papar Anis Matta. Bagi Abu Bakar dan Utsman bin Affan menginfakkan keseluruhan hartanya adalah hal yang biasa, karena mereka yakin pada kemampuan daya cipta sarana materi yang tidak lain adalah mutlak pemberian Allah, oleh karenanya ia tidak enggan bersedekah dan mantap untuk memulai usahanya kembali.

Memimpin dan Berbisnis

Bertutur Umar Bin Khattab, r.a. dengan kepiawaiannya: “Tak ada pekerjaan yang paling aku senangi setelah perang di jalan Allah, selain dari bisnis.” Itu mengapa dalam kisah para sahabat, kita dapat mendapati bahwa sosok Umar bin Khattab dan Abdurrahman bin Auf selalu menyedekahkan 50% dari hartanya untuk ummat. Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid; dari keduanya kita dapat mengambil pembelajaran bahwa seorang petarung dan pemimpin sejati, tak enggan untuk berbisnis, dan semua itu mereka lakukan untuk kontribusi pencapaian kesejahteraan ummat.

Ikhlas

Gambaran ini menjelaskan kita bahwa hakikat kepahlawanan amatlah luas dan bersinergi, di mana keikhlasan, pengorbanan dan keberanian tak bisa dipisahkan. Bijaknya kita dapat memetik hikmah dari kebijaksanaan para generasi sahabat, hingga bila kita letakkan pada keadaan nyata di pertarungan pemikiran pada masa kini, tentu dibutuhkan jiwa-jiwa pahlawan yang tulus dan bergairah, sehingga pantas meniru perjuangan para sahabat yang bukan hanya mampu memenangkan seluruh pertempuran, melainkan juga menciptakan kemakmuran setelah mereka berkuasa.

Pahlawan mukmin sejati tidak akan menyiakan energi mereka untuk memikirkan apakah nantinya ia akan diletakkan dalam sejarah kehidupan manusia atau diabadikan dengan liang lahat para pahlawan, karena tentu itu hanya harapan semu, yang mereka pikirkan tidak lain adalah bagaimana meraih gelar muttaqien di hadapan Allah SWT. Hal ini dapat diraih hanya dengan keikhlasan, karena inilah yang membedakan para pahlawan Allah dengan pahlawan sekuler, pada titik puncak mereka bisa jadi sama-sama dijerat dalam jeruji besi, bahkan tergantung dalam tiang gantungan, namun pahlawan sekuler hanya fana di dunia manusia, sedang pahlawan Allah akan terkenang di surgaNya.

Allahu a’lam bishowab.