Warning: include_once(/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php): failed to open stream: No such file or directory in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22

Warning: include_once(): Failed opening '/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php' for inclusion (include_path='.:/opt/sp/php7.4/lib/php') in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22
Pengemis Kristen di Dalam Masjid

Pengemis Kristen di Dalam Masjid

Sekitar lima hari yang lalu, saat saya shalat sunnah ba’da Isya’ di salah satu masjid di negeri Mesir ini, tiba-tiba ada peminta-minta, “Haghah lillah…”

Itu adalah ungkapan khas pengemis di Mesir.

“Saya minta 25 pounds saja. Mau pulang kampung, tidak punya duit. Saya ini orang Kristen,” tuturnya.

Saya pun kaget, kok ada orang Kristen masuk masjid, minta bantuan lagi. Namun, saya langsung percaya karena tato salib di lengannya besar sekali.

“Maaf, tidak punya,” jawab saya.

“Demi Al Quran?” balas pengemis itu.

“Saya hanya punya 1,5 pounds saja. Mau?”

Akhirnya dia meninggalkan saya dan pergi ke jamaah lain yang sedang membaca Al Quran. Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang jamaah berjenggot lebat. Setelah bincang-bincang, akhirnya mereka berdua keluar. Tidak tahu kemana, yang jelas orang tersebut sepertinya memberikan harapan baik baginya.

Cerita nyata seperti ini hanya saya dapatkan di Mesir. Ini bukanlah yang pertama kali, kerap sekali ibu-ibu Kristen mangkal di depan masjid.  (Saya tahu mereka karena tatkala menengadahkan tangan ada tanda salibnya.

Ada pelajaran menarik yang saya peroleh dari pengalaman di atas:

  1. Sungguh Muslim Mesir itu sangat baik dan dermawan. Jangankan fakir miskin Muslim, Kristen pun merasakannya. Orang asing juga kecipratan. Jadi teringat nasihat seorang dosen: “Orang Mesir itu aslinya baik-baik.”  Namun, kenapa mayoritas orang yang berada di instansi pemerintahannya berantakan, bahkan bisa dibilang kurang ajar? Entahlah, saya juga heran, Tapi sepertinya mereka sudah terbina untuk hidup berantakan selama 30 tahun bahkan lebih.
  2. Muslim Mesir sangat toleran kepada umat beragama yang lainnya. Inilah kenapa tatkala gereja dibakar oleh provokator, Uskup Koptik berani mengatakan bahwa pelakunya bukan orang masjid.

Adakah yang mau menerima Muslim Rohingya datang ke kuil Buddha untuk mencari bantuan? Adakah yang mau menerima Muslim yang masuk gereja Amerika untuk cari sesuap nasi? Adakah yang mau menerima Muslim palestina yang masuk sinagog Yahudi untuk sekedar minta jaminan hidup?

Bisa jadi jawabannya, “Jangankan minta, ngaku Muslim saja sudah jadi masalah besar bagi mereka.”

Dan bisa jadi benar bahwa mayoritas masyarakat Mesir memang “titisan” Nabi Musa ‘Alaihis Salam.

 Jamaludin Junaedi, Lc. Mesir