Pola Bahasa Pengaruhi Sikap Anak

Anda yang sudah menjadi orang tua ataupun yang akan menjadi figur otoritas untuk sang anak kelak perlu memerhatikan pola bahasa yang diberikan. Kata-kata yang disampaikan berulang-ulang, disertai emosi, apalagi berasal dari figur otoritas akan mudah masuk ke dalam pikiran bawah sadar sang anak. Semakin sering dilakukan, sikap anak akan mengikuti penafsirannya sendiri terhadap pola bahasa tersebut.

Suatu ketika seseorang datang berkonsultasi tentang kebiasaan anaknya di sekolah yang akhir-akhir ini berubah. Sang anak tidak mau lagi duduk di bangku paling depan. Padahal ia rajin. Pun ketika guru menerangkan, ia lebih nyaman duduk di tengah atau di belakang. Sebut saja Nova. Beberapa waktu lalu ia dikenal sebagai murid yang antusias. Sebelum bel masuk berbunyi, ia gesit duduk di bangku terdepan. Tapi sekarang, ia menjadi anak yang minder dan kepercayaan dirinya berkurang. Bagaimana bisa?

Selidik punya selidik, ternyata orang tuanya melakukan kebiasaan yang berakibat fatal. Sederhana dan mungkin sering dilakukan oleh beberapa orang tua namun efeknya luar biasa. Anda tentu penasaran bukan, apa yang dilakukan orang tuanya di rumah? Sambil terus membaca artikel ini, sebentar lagi Anda akan tahu betapa pola bahasa perlu dicermati.

Setiap petang ketika acara televisi favorit Nova tayang, ia selalu duduk dekat sekali dengan televisi. Orang tuanya yang selalu menyaksikan kebiasaan Nova tersebut merasa jengkel. Maksud hati baik mengingatkan anaknya agar menjaga jarak dari televisi karena akan berakibat buruk terhadap mata. Namun luapan emosinya tak terbendung ketika Nova berhari-hari melakukan kebiasaan tersebut sementara nasihat dari orang tuanya tidak digubris.

Nova, sudah Papa bilang jangan duduk di depan! Ga baik!
Nova kamu kok bandel ya! Sudah diingetin jangan duduk dekat-dekat!
Kamu denger dong kalo Ibu ngomong, dasar gak pernah nurut, kalo duduk di belakang!

(ketika Nova beralih pindah duduk ke belakang…) Nah gitu dong, itu baru anak pinter!

Dari sekadar kata dengan volume keras, perkataan orang tuanya beralih ke kontak fisik. Sambil memarahi Nova, tangannya kadang menjewer telinganya, mentoyor kepalanya sampai membuat Nova emosi. Parahnya, ini terus diulang-ulang setiap petang. Namun perhatikan apa korelasinya dengan sikap Nova di kelas? Ada apa dengan pola bahasanya? Anda bisa menebak? Ya, betul sekali. Ada penghilangan objek di sana. Sesuatu yang tidak spesifik dan pilihan katanya negatif, yakni menghilangkan kata “televisi”.

Bisa Anda bayangkan pikiran bawah sadarnya memaknai bahwa “Kalau duduk di depan itu tidak baik”, “Kalau duduk jangan dekat-dekat (sesuatu yang di depan)”, “Kalau duduk di belakang, itu baru anak pintar.” Walhasil ketika Nova mencoba duduk di bangku kelas paling depan, ia merasa tidak nyaman.

Apa yang bisa Anda pelajari dari kasus ini?

  1. Spesifik. Berikan instruksi yang spesifik dan tepat sasaran. Daripada Anda bilang “Nanti malam bantuin Ibu masak di rumah ya” (malam bisa kapan saja, anak Anda mungkin bisa pulang pukul 22.00) lebih baik “Anakku yang soleh, sebelum maghrib Kamu sudah di rumah ya, bantuin Ibu tuk persiapan acara besok, ya?”
  2. Positif. Pikiran bawah sadar tidak mengenal kata jangan. Apabila saya sekarang meminta Anda untuk jangan memvisualisasikan seekor buaya berwarna merah muda, bersayap, dan mengeluarkan suara seperti kuda, janganlah Anda membayangkan hal tersebut. Jangan, saya bilang jangan! Apa yang lantas Anda pikirkan? Kebalikannya bukan? Maka buatlah kalimatnya menjadi positif. Daripada Anda bilang “Jangan malas dong kalau di rumah!” lebih baik “Nak, sambil Kamu santai di rumah, bantuin Abi yuk nyapu-nyapu halaman”, “Rajin baca buku ya nak, biar wawasan kamu bertambah luas dan sukses.”

Atau bila Anda memang ingin menekankan suatu larangan tersebut, tambahkan kalimat penjelasan atau konsekuensi setelah kata “jangan”. Misalnya, “Janganlah Kamu pacaran karena pacaran bisa menjerumuskanmu ke dalam perzinaan dan itu membuat Allah murka.” Lebih bagus bila Anda menyisipkan saran positif setelahnya, dan menjelaskan apa konsekuensinya bila Allah murka. Karena pola pikir manusia terbagi dua, ia menjauhi ketakutan atau mendekati kesenangan. Pastikan ia takut melakukan perbuatan tercela, dan mendekati kesenangan yang hakiki.

Hanya dengan takut kepada Allah Swt, justru membuat Anda semakin dekat dengan-Nya.

Pola bahasa apalagi yang bisa memengaruhi sikap Anak? Bagaimana mengajak anak agar mau menuruti perkataan orang tuanya dengan perasaan senang? Nantikan artikel saya berikutnya. Wallahua’lam bishawab.

 

Oleh: Afif Luthfi, C.NLP., CT.HRNLP., CI., Bandung

FacebookTwitterBlog