Warning: include_once(/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php): failed to open stream: No such file or directory in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22

Warning: include_once(): Failed opening '/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php' for inclusion (include_path='.:/opt/sp/php7.4/lib/php') in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22
Ridha kepada Allah

Ridha kepada Allah

Para ulama telah sepakat bahwa ridha merupakan sunnah atau sunnah mu’akkad. Ada dua pendapat yang berbeda tentang wajibnya. Saya pernah mendengar SyaikhulIslam Ibnu Taimiyah mengisahkan dua pendapat ini dari rekanrekan AlImam Ahmad. Tetapi AlImam Ahmad sendiri menyatakannya sunnah. Tidak pernah disebutkan adanya perintah ridha seperti halnya perintah sabar. Penyebutannya hanya sebatas pujian terhadap orangorang yang ridha.

Ibnu Taimiyah juga berkata, “Tentang riwayat dari Allah yang menyatakan, ‘Siapa yang tidak sabar menerima cobaanKu dan tidak ridha terhadap qadha’Ku, maka hendaklah ia mengambil sesembahan selain Aku’, maka ini adalah kisah Isra’iliyat, yang sama sekali tidak pernah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Apalagi dengan pendapat yang mengatakan bahwa ridha itu bukan termasuk amal yang diusahakan, tapi merupakan pemberian dan anugerah, lalu dikatakan, “Bagaimana mungkin ridha ini diperintahkan, sedangkan hamba tidak ditakdirkan untuk ridha?”

Ada tiga pendapat tentang ridha ini:

  1. Ridha termasuk satu kedudukan yang mulia, yaitu puncak dari tawakkal.Berarti hamba bisa mencapai ridha ini dengan usahanya. Ini merupakan pendapat para ulama Khurasan.
  2. Ridha termasuk keadaan dan tidak bisa diupayakan hamba, tapi ridha initurun ke hati hamba seperti keadaankeadaan lainnya. Ini merupakan pendapat para ulama Irak. Perbedaan antara kedudukan dan keadaan, kedudukan diperoleh karena usaha, sedangkan keadaan semata karena pemberian dan anugerah.
  3. Golongan ketiga ada di antara golongan pertama dan kedua. Menurut mereka, dua pendapat ini dapat disatukan, bahwa permulaan ridha bisa diusahakan hamba, yang berarti termasuk kedudukan, sedangkan kesudahannya termasuk keadaan dan tidak bisa diupayakan hambaPermulaannya merupakan kedudukan dan kesudahannya merupakan keadaan.

Mereka yang menganggap ridha termasuk kedudukan atau amal yang bisa diupayakan, berdalih bahwa Allah memuji pelakunya dan menganjurkannya. Ini berarti mereka mampu mengupayakannya. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Yang merasakan manisnya iman ialah orang yang ridha kepada Allahsebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama dan kepada Muhammadsebagai rasul.”

Beliau juga bersabda, “Siapa yang mengucapkan saat mendengar adzan, ‘Aku ridha kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama dan kepada Muhammad sebagai rasul’, maka diampuni dosanya.”

Dua hadits ini merupakan inti kedudukan agama dan sekaligus merupakan puncaknya, yang di dalamnya terkandung ridha terhadap Rububiyah dan Uluhiyah Allah, ridha kepada RasulNya, ketundukan, ridha kepada agamaNya dan kepasrahan kepadaNya. Siapa yang menghimpun empat perkara ini, maka dia adalah orang yang shiddiq. Memang hal ini mudah diucapkan, tapi termasuk sulit dan berat jika datang cobaan,apalagi jika ada sesuatu yang bertentangan dengan nafsu dan keinginannya, sehingga akan tampak apakah ridha itu hanya sekedar di lisan atau memang merupakan keadaan dirinya.

Ridha kepada Rububiyah Allah mengandung ridha terhadap pengaturan Nya terhadap hamba, juga mengandung pengakuan terhadap kesendirianNya dalam tawakkal, keyakinan, penyandaran dan permintaan pertolongan. Sedangkan ridha kepada RasulNya mengandung kesempurnaan kepatuhan dan kepasrahan kepadanya, sehingga keberadaan RasulNya lebih penting daripada keberadaan dirinya, tidak mencari petunjuk kecuali dari kalimatkalimatnya, tidak ridha kepada selain hukumnya, dalam masalah apa pun, zhahir maupun batin. Sedangkan ridha kepada agamaNya berarti patuh kepada hukum, perintah dan larangan agama, sekalipun mungkin bertentangan dengan kehendaknya atau pendapat guru dan golongannya.

Yang pasti dalam masalah ini, ridha adalah sesuatu yang bisa diupayakan ditilik dari sebabnya, dan merupakan pemberian jika ditilik dari hakikatnya. Jika memang sebab-sebabnya dimungkinkan dan pohonnya dapat ditanam, maka buah ridha juga bisa dipetik. Sebab ridha merupakan akhir dari tawakkal. Siapa yang pijakan kakinya mantap pada tawakkal, penyerahan diri dan kepasrahan, tentu akan mendapatkan ridha. Tapi karena sulitnya mendapatkan ridha ini, maka Allah tidak mewajibkannya kepada makhlukNya, sebagai rahmat dan keringanan bagi mereka.

Namun begitu Allah menganjurkannya kepada mereka, memuji pelakunya dan mengabarkan bahwa pahala yang mereka terima adalah keridhaan Allah terhadap mereka, dan ini merupakan pahala yang lebih agung daripada surga dan seisinya. Siapa yang ridha kepada Rabbnya, maka Dia juga ridha kepadanya. Karena itu ridha ini merupakan pintu Allah yang paling besar, surga dunia, kehidupan orangorang yang mencintai dan kenikmatan orangorang yang banyak beribadah. Di antara faktor yangpaling besar mendatangkan ridha ialah mengikuti apa yang Allah ridha kepadanya, karena inilah yang akan menghantarkan kepada ridha.

Yahya bin Mu’adz pernah ditanya, “Kapankah seorang hamba mencapai kedudukan ridha?” Maka dia menjawab, “Jika dia menempatkan dirinya pada empat landasan tindakan Allah kepadanya, lalu diaberkata, “Jika Engkau memberiku, maka aku menerimanya. Jika Engkau menahan pemberian kepadaku, maka aku ridha. Jika Engkau membiarkanku, maka aku tetap beribadah. Jika Engkau menyeruku, maka aku memenuhinya.”

Ridha tidak disyaratkan untuk tidak merasakan penderitaan dan halhal yang tidak disukai. Tapi keadaan ini tidak boleh dihadapi dengan kemarahan atau penolakan takdir. Karena itu banyak orang yang tidak bisa ridha karena halhal yang tidak disukai, seraya berkata, “Ini tidak mungkin menurut tabiat.” Itu hanya bisa dihadapi dengan sabar. Sebab bagaimana mungkin ridha dan kebencian bisa menyatu padahal keduanya saling bertentangan?

Yang benar, tidak ada pertentangan antara ridha dan kebencian. Adanya penderitaan dan kebencian tidak menajikan ridha, seperti ridhanya orang yang sakit untuk minum obat, ridhanya orang puasa pada hari yang sangat panas yang harus menanggung derita lapar dan dahaga atau ridhanya mujahid fi sabilillah yang harus menanggung derita luka dan lainlainnya.

Jalan ridha merupakan jalan yang paling singkat dan paling dekat ke tujuan. Tapi sulit dan berat. Tapi kesulitannya tidak seberat kesulitan jalan mujahadah, karena di sana tidak ada rintangan dan kesudahan, selain dari hasrat yang tinggi, jiwa yang suci dan menerima apa pun yang dating dari Allah. Yang demikian itu relatif lebih mudah bagi hamba, apalagi dia mengetahui kelemahan dirinya.

Allah berfirman, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hambahamba Ku, dan masuklah ke dalam surgaKu.” (AlFajr: 2730)

Pengarang ManazilusSa’irin berkata, “Di dalam ayat ini Allah tidak memberikan jalan bagi orang yang marah. Ridha merupakan syarat bagi hamba agar dapat masuk surga Allah. Ridha adalah berada dalam ikatan agama seperti yang dikehendaki Allah, tanpa raguragu dan tanpa pengingkaran, di mana pun hamba berada.”

Leave a Comment