Warning: include_once(/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php): failed to open stream: No such file or directory in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22

Warning: include_once(): Failed opening '/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php' for inclusion (include_path='.:/opt/sp/php7.4/lib/php') in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22
Saatnya Berbagi Waktu dan Beban

Saatnya Berbagi Waktu dan Beban

Jika sebaik-baik mahluk adalah yang bermanfaat, maka pergunakan waktu untuk kemanfaatan umat. Berbagilah, agar kebaikan saling mengikat. Erat.

“Resign. Resign. Berulangkali Alifa menimbang keputusannya 7 bulan yang lalu untuk keluar dari pekerjaan yang sudah 6 tahun ia jalani. Tak terbayangkan baginya untuk meninggalkan karir yang mulai menanjak, mengingat baru sebulan yang lalu ia dipromosikan sebagai Kepala Divisi. Belum lagi harus meniggalkan tim kerja yang mulai kompak. Dan yang paling membuat Alifa gelisah adalah bahwa ia harus kehilangan pendapatan. Alifa yang mandiri, tak bisa membayangkan bahwa ia harus mendapatkan pemasukan hanya dari suaminya. Ia memikirkan sudah tidak bisa lagi seenaknya belanja ini itu, meskipun ia bukan tipe perempuan yang boros. Dan ia pun harus mengurangi untuk memberi sekedarnya kepada Ibunya, mertuanya atau saudara yang lain.

Sejak putra semata wayangnya yang berusia 4 tahun sering sakit, suaminya meminta Alifa untuk memulai usaha dirumah. Agar Alifa mempunyai banyak waktu untuk merawat anak mereka. Dengan pertimbangan yang cukup lama, akhirnya ia mengiyakan permintaan suaminya. Meski ia masih dihantui kekhawatiran akan kebosanan ketika dirumah seharian.

Namun kegelisahan Alifa tak berlangsung lama. Ia tetap bisa beraktivitas dirumah, menjalankan bisnis online yang ia rintis bersama saudara sepupunya. Dan ia pun masih sering bersilaturrahim dengan teman-teman kantornya yang dulu, sekalian membangun jejaring sosial untuk usahanya yang baru. Tapi yang paling menyenangkan selain ia bisa lebih fokus mengurus kebutuhan suami dan anaknya, ada ibu & saudara-saudaranya yang lebih sering mengunjunginya. Ternyata meluangkan waktu untuk mereka sangat berharga, mendengarkan curahan hati ibunya, sekedar mengantar mertua untuk check up rutin ke dokter langganan, menjamu saudara yang ingin bersilaturrahim kerumahnya, lebih aktif mengikuti majelis ta’lim di masjid komplek ia tinggal, dan beberapa hal yang tak bisa Alifa lakukan ketika dulu menjadi pegawai kantoran. Alifa merasakan berbagi itu menyenangkan. Mengasah hati untuk sebuah ketulusan. Mungkin tak butuh materi yang berlimpah, namun yang dibutuhkan kerelaan berbagi waktu untuk meringankan sebuah beban.

* * *

Waktu akan bermanfaat, jika dapat memberi arti untuk sesama. Di dunia ini ada banyak hal yang bisa dibagi. Bukan hanya berbagi materi atapun kebahgiaan kita dengan orang lain. Tetapi ada sebuah “waktu” dan “beban” yang bisa kita bagi, karena dalam keduanya terdapat sebuah pembelajaran yang ilmunya memberi hikmah untuk kita dan sesama.

“Demi Masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman kebajikan serta kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. (QS. Al Ashr: 1-3)

Berbagi Waktu

Sebagai muslimah, apapun aktivitas kita baik sebagai pegawai ataupun ibu rumah tangga, keduanya sama-sama menyita waktu, hingga terkadang waktu terasa begitu cepat. Sepertinya waktu yang kita miliki sangat padat. Namun jangan dilupakan waktu kita untuk orang lain diluar dari keluarga inti kita. Sebagaimana kita juga secara tak langsung atau tak sengaja meminta waktu mereka untuk kita. Ada kedua orang tua atau mertua, saudara dekat hingga saudara jauh, dan ada sahabat yang ada kalanya membutuhkan kita. Jarak bukanlah halangan untuk membantu mereka. Menyediakan waktu dan telinga untuk sekedar mendengarkan keluh kesah mereka melalui telepon, apalagi sekarang Allah memudahkan kita dalam hal mempererat tali silaturrahim kita dengan kerabat yang berada di kota berbeda, yaitu dengan adanya media sosial. Maka fasilitas IT ini dapat digunakan sebaiknya-baiknya. Hal itu mungkin sangat berarti untuk mereka.

Sekedar memberi kalimat penenang untuk ibu atau mertua yang merindukan kita anak-anaknya. Menyempatkan menanyakan kabarnya. Ya, bahkan untuk kedua orang tua kita, sepertinya waktupun kadang masih kita sempatkan untuk mereka, padahal waktu mereka selalu luang untuk kita, bukan hanya sekedar “sempat”.

Lalu keberadaan kita untuk saudara dekat atau jauh. Mereka yang sibuk membantu menyiapkan hajatan besar kita, menguatkan kita disaat sedang berduka, maka menjadi sebuah kewajiban jika mereka butuh bantuan, kita mengusahakannya. Jangan terlalu sibuk memikirkan masalah konflik keluarga di masalalu, yang hanya akan membuang waktu sia-sia dan menghabiskan energi serta pikiran. Sudah saatnya memperbaiki kualitas hubungan kita dengan keluarga dan kerabat.

Dan agendakanlah meluangkan waktu untuk tetangga. Dulu mungkin kita hanya bersilaturrahim dengan tetangga ketika lebaran tiba. Kini, saatnya berbagi waktu untuk mereka. Mengirimkan kue favorit keluarga ke tetangga sebelah, mungkin bisa mempererat hubungan kekeluargaan antar tetangga. Sedekah, InsyaAllah membawa berkah.

Muslimah harus pandai mengatur hidupnya dengan baik. Tidak melakukan hal yang sia-sia, melainkan yang bermanfaat untuk sesama. Dengan demikian waktu terfokus dekat dengan Allah dan bermuamalah dengan masyarakat. Hal ini sesuai tuntunan Allah dan suri tauladan kita Rasulullah SAW.

Berbagi Beban

Sudah sewajarnya jika kita membagi kebahagiaan, dan kewajiban jika kita membagi sebagian rezeki yang kita punya kepada yang berhak juga membutuhkan. Namun ada kalanya pengalaman hidup kita dapat menjadi pengalaman berharga untuk mereka. Layaknya kita belajar hidup dari pengalaman orang lain yang seringkali dapat memacu semangat kita untuk mengembangkan diri, menemukan inovasi-inovasi baru sehingga rutinitas tak berjalan monoton, dan dapat lebih bijak serta kreatif dalam mengatasi permasalahan kehidupan. Maka sesekali waktu, berbagilah beban dan pengalaman kehidupan kepada seseorang yang tepat. Beban yang terasa berat, mungkin akan lebih ringan dengan nasehat mereka, tentu mereka pun akan mengambil pelajaran hidup dari kita. Berbagi beban disini bukan bermaksud meminta bantuan untuk menyeleseikan permasalahan kita, karena mereka pun mungkin sedang menghadapi persoalan yang bahkan lebih berat dari kita. Tetapi minimal akan terjadi interaksi positif, yaitu saling menguatkan dan menasihati.

Betapa waktu akan meringankan sebuah beban hidup, disaat segala sesuatu terasa berat. Maka berbuatlah untuk memberi arti kepada sesama agar melapangkan segala kesempitan dalam kehidupan.