Sebab ‘Haha-Hihi’ Perempuan Bukan untuk Sembarang Orang

X: “Kamu jadi cewek galak banget sih!”
Y: “Lha ngapain juga harus bermanis-manis ke cowok?”
X: “Mbok ya, jadi cewek itu yang halus.”
Y: “Mau dihalusin? Besok saya bawa ulekan.”

Itu sepenggal percakapan yang pernah terjadi antara para perempuan yang tegas kepada yang bukan mahramnya, dengan seorang laki-laki yang berharap diberi sikap yang manis dari para perempuan. Ini bukan fenomena langka dan baru. Hal kawakan yang hingga kini belum bisa diberantas.

Banyak laki-laki (tidak semua) yang ingin diberi perlakuan yang manis oleh perempuan. Bisa bercanda dengan manis. Diskusi interaktif dengan bumbu-bumbu senyum meringis. Kalau perlu bila diskusinya via chatting, diramaikan dengan emote-emote aneka rupa warnanya. Lucunya yang didiskusikan adalah perkara khalwat dan ikhtilat. Dua hal yang kontradiktif antara tema diskusi dan perbuatan.

Apakah perempuan itu harus halus kepada semua orang?

Sepertinya tidak perlu dijawab ya atau tidak. Mari kita mencari kaca dari kisah-kisah sejarah yang mendunia. Ingat kisah Aisyah RA yang tertinggal rombongan Rasulullah karena mencari kalungnya yang hilang? Lalu Aisyah diantarkan oleh salah seorang peserta rombongan yaitu Shafwan bin al-Mu’attal RA yang juga tertinggal karena suatu keperluan. Aisyah RA naik ke ontanya dikawal oleh shafwan bin al-Mu’attal RA. Keduanya sebenarnya berniat untuk menyusul rombongan. Namun tidak tersusul. Pada saat keduanya sampai di Madinah, beragam isu langsung tersebar. Fitnah-fitnah atas Aisyah langsung merata ke seluruh penjuru Madinah. Bahkan Rasulullah waktu itu sampai berubaha sikap kepada Aisyah dan meminyanya untuk bertaubat. Aisyah tidak bergeming, sebab merasa tidak melalukan apa yang dituduhkan kepadanya.
Hingga kemudian Allah menurunkan Al quran surat An-Nur satu paket 11-26.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga)” An-Nur ayat 26.

Ya Aisyah dan Shafwan tidak melakukan apapun. Keduanya terjagadan menjaga adab selama menyusul rombongan. Kalau yang terjaga seperti ini saja menjadi fitnah, lalu kira-kira seperti apa fitnah yang terjadi bila antara laki-laki dan perempuan saling bersikap halus dan renyah? Sangat mungkin muncul fitnah bukan.

Contoh lain, saat Ummu Sulaim dipinang oleh Abu Thalhah yang saat itu belum memeluk islam. Adakah kita temukan proses antara keduanya dikisahkan dalam sejarah sebagai kisah kasih antara dua insan? Kisah keduanya menyejarah, menembus batasan waktu. Ummu Sulaim yang sudah memeluk islam lebih dahulu bersikap tegas. Islam atau tidak sama sekali. Sebab tidak layak seorang laki-laki yang tidak beriman bersatu dengan perempuan yang beriman. Hingga akhirnya Abu Thalhah berislam sebagai mahar atas pernikahan kedunya. Adakah ditemukan kisah Abu Thalhah keberatan dengan sikap tegas Ummu Sulaim dan meminta Ummu Sulaim untuk bersikap yang lebih halus dan meringankan syarat?

Lalu atas demi apa sekarang minta diberi sikap halus dari lawan jenis? Mari berikan dukungan kepada para perempuan yang berani mengambil sikap tegas kepada lawan jenis yang bukan mahramnya.

Duhai perempuan, teruslah menjadi perempuan-perempuan tegas kepada yang bukan mahrammu. Sebab tawa dan candamu bukan untuk setiap orang yang mengenalmu.

Leave a Comment