Sejarah Sapi Indonesia-Australia

Baca terlebih dulu: Indonesia Akan Dibanjiri Sapi Australia

Isu sapi itu sangat penting bagi Australia dan Indonesia karena negara kita adalah salah satu pasar impor penting mereka. Isu sapi juga jadi salah satu tema penting dalam kampanye pemilu di sana. Maklum saja industri peternakan sapi di sana termasuk sektor unggulan penting. Kalau mau lihat ilustrasinya, tonton saja film Alice Springs!

Saat SBY (cq Kementerian Pertanian) melakukan pengurangan impor sapi Australia secara bertahap, Australia mengirim tim untuk melobi pemerintah Indonesia untuk agar kebijakan kita diubah. Tapi aksi lobby mereka kurang berhasil. Lalu munculah laporan di media Australia bahwa cara pemotongan hewan di Indonesia dilakukan secara biadab!

Tak lama setelah itu muncul pula kasus daging celeng yang dipalsukan sebagai daging sapi. Menyusul pula terjadinya kasus kelangkaan daging sapi di Indonesia. Harga daging sapi melonjak drastis dan jadi isu ramai di Indonesia. Pemerintah diseru oleh para cukong importir sapi dalam negeri untuk mengatasi ini, termasuk meminta dibuka luas kembali keran impor sapi. Kementerian Pertanian malah menyebut masalah ada di distribusi.

Lalu terjadilah penangkapan Fathanah dan Luthfi Hassan Ishaq. Mereka ditangkap atas tuduhan telah disuap untuk menjadi kaki tangan cukong importir sapi untuk membujuk pemerintah agar menambah kembali kuota keran impor sapi. Kalau kuota impor ditingkatkan, para cukong itu berharap merekalah yang mendapat izin melakukan impor. Demikian menurut hasil persidangan kasus ini. Akhirnya, cukong importir, Fathanah, dan Luthfi Hassan pun dibui.

Yang menarik, justru kejadian setelah upaya lobi kuota impor sapi tersebut gagal dan berakhir bui. Dalam pertemuan APEC di Bali, Gita Wiryawan malah membuat deal dengan Australia untuk membuka lebih luas lagi keran impor. Australia senang bukan alang kepalang. Pihak-pihak anti impor tak bisa bersuara banyak, mereka masih shock dengan kasus kuota impor! Tapi kali ini importirnya adalah Bulog (Badan Urusan Logistis), bukan cukong. Namun mengenai siapa saja cukong rekanan Bulog saat itu kurang jelas betul! Apakah cukong saingannya Maria (cukong yang dipenjara gegera menyuapi Fathanah agar kuota impor ditambah) atau siapa? Wallahu a’lam.

Dalam kampanye Pilpres capres Joko Widodo mengkritik kebijakan impor sapi. Impor akan dikurang dan swasembada akan ditingkatkan. Akhirnya Joko sukses jadi presiden. Setelah jadi presiden, apakah kuota impor dibuat tetap dari sebelumnya (sebagai tahap persiapan sambil persiapkan program peningkatan persapian dalam negeri) ataukah ia langsung merealisasikan ucapannya saat kampanye untuk mengurangi impor sapi? Ternyata bukan keduanya. Gebrakan awal pemerintahan Joko justru menaikan kuota impor sapi seperti yang dulu “diperjuangkan” Fathanah dan didambakan Perdana Menteri Australia.

Selamat aja deh buat Fathanah! Perjuangan ente terwujud! The dream comes true! Ayo, Nak, bilang terimakasih sama Pak Joko Widodo!

Orang bijak berkata pada Fathanah, “Kenaikan kuota impor akan tetap terwujud meski dengan atau tanpa engkau ikut berjuang!” Atau “Jangan kau tanya apa yang telah diberikan sapi Australia padamu, tapi bertanyalah apa yang telah engkau berikan untuk menaikan kuota impor sapi Australia!”

Ustadz Abdurrahman Ibnu Zaini

Leave a Comment