Yakin pada Allah

Pengarang Manazilus-Sa’irin berkata, “Keyakinan ini adalah warna hitam mata tawakkal, titik tengah lingkaran kepasrahan dan relung hati penyerahan din.”

Perbuatan ibu Musa yang melarung putranya di sungai seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, merupakan keyakinan terhadap Allah. Sebab kalau tidak ada keyakinan terhadap Allah, mana mungkin dia mau menghanyutkan buah hatinya di atas permukaan air sungai yang bergelombang dan berombak, yang membawanya entah ke mana?

Artinya, keyakinan ini merupakan inti tawakkal seperti halnya warna hitam yang merupakan bagian terpenting pada mata, atau seperti titik tengah dalam suatu lingkaran, yang semua sisi-sisinya berpusat kepadanya, atau seperti relung hati, yang menjadi bagian terpenting dari hati. Jadi kalau sekiranya kepasrahan merupakan hati, maka keyakinan ini merupakan relungnya. Sekiranya kepasrahan merupakan mata, maka keyakinan merupakan warna hitamnya. Sekiranya kepasrahan merupakan lingkaran, maka keyakinan merupakan titik tengahnya.

Menurut pengarang Manazilus-Sa’irin, keyakinan terhadap Allah ini ada tiga derajat:

  1. Derajat keputusasaan.

Maksudnya keputusasaan hamba dalam melawan hukum, agar dia tidak merasa mendapat bagian. Artinya, orang yang yakin kepada Allah merasa tidak bisa lari dari qadha’ dan hukum-Nya, karena Allah telah menetapkan hukum dan urusan bagi dirinya. Apabila Allah telah menetapkan hukum, rezki, keadaan, ilmu, bagian dan lain-lainnya bagi seseorang, maka semua itu akan terjadi pada dirinya. Jika tidak menetapkannya, maka semua itu juga tidak akan terjadi pada dirinya.

  1. Derajat aman.

Maksudnya keamanan yang dirasakan hamba dari kehilangan apa yang telah ditetapkan dan dituliskan baginya, sehingga dia beruntung mendapatkan ruh ridha, atau setidak-tidaknya ada keyakinan atau sentuhan lembut kesabaran.

Seorang hamba yang merasakan keputusasaan di atas juga akan merasa aman. Dengan kata lain, orang yang benar-benar mengetahui Allah dan apa yang ditetapkan Allah bagi dirinya, maka dia akan merasa aman dan tidak khawatir akan kehilangan bagian yang telah ditetapkan Allah baginya dan yang telah tertulis di dalam kitab. Dengan perasaan ini dia beruntung mendapatkan ruh ridha dan kenikmatannya. Sebab orang yang ridha akan merasakan kenikmatan karena ridha-nya.

Kalaupun hamba tidak sanggup mendapatkan ruh ridha, setidaktidaknya dia mendapatkan keyakinan atau kekuatan iman dan meli-hat Allah dengan hatinya. Kalaupun hasil ini masih meleset, maka setidaktidaknya dia mendapatkan sentuhan lembut kesabaran dan kesudahan yang baik.

  1. Melihat keazalian Allah, untuk membebaskan diri dari ujian yang menghalangi tujuan.

Maksudnya, selagi hati mempersaksikan kesendirian Allah yang memi-liki sifat azali, maka ia tidak terlalu sibuk dengan permintaan, karena semuanya sudah ditetapkan dalam hukum Allah yang azali.Sehingga ia tidak merasa ada penghambat yang menghalangi tujuannya.

Leave a Comment