Revolusi Kemunafikan Era Modern

Hidup di era modern ini bukanlah suatu hal yang gampang dan statis, namun di era dinamis ini banyak bermunculan pemikiran-pemikiran yang menuntut untuk membangun peradaban, selain daripada itu muncul pula paham-paham yang bertentangan dengan kaidah kemanusiaan sehingga dunia menimbulkan berbagai macam budaya yang akhirnya menjadi kebiasaan umat di era ini.

Hari ini, Umat Islam mencoba membangkitkan semangat perjuangannya kembali untuk memimpin peradaban setelah disadari bahwa peradaban Islam mulai merosot semenjak abad ke 18 setelah bersinggungan dengan peradaban barat yang akhirnya menimbulkan kekacauan pada dasar-dasar Islam yang pada akhirnya menyebabkan hancurnya Kekhalifahan Usmani yang menjadi ujung tombak pemerintahan Islam pada saat itu. Hal ini membuat Islam semakin terpuruk dari segi pemerintahan dan berefek ke semua sektor pergerakan Islam sehingga dasar-dasar Islam yang awalnya telah tetancap di hati Umat kemudian terkikis sedikit demi sedikit dan berganti dengan peradaban yang dianggap “modern”.

Peradaban yang di anggap “modern” mulai memasuki jiwa-jiwa pejuang Islam, terutama dari mereka yang belum sempat meluruskan niatnya untuk meletakkan kembali dasar-dasar Islam sehingga timbul pemikiran-pemikiran untuk membuat Islam sesuai dengan zaman, hal ini dikarenakan Islam telah di anggap jauh dari peradaban dan tidak sesuai dengan zaman. Mereka ini sebenarnya adalah orang-orang Islam, namun pertanyaannya adalah “Kenapa mereka ingin merubah Islam?”. Marilah kita sejenak merenung kepada masa awal kekhalifahan Islam, di saat seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ yang masuk Islam dengan pemikirannya yang mencoba untuk mencampur adukkan Islam dengan Yahudi sehingga muncullah gerakan Syi’ah pada hari ini, gerakan yang telah menghujat sahabat-sahabat Rasulullah Saw bahkah sampai tahap mengkafirkan. Hal ini disebabkan dikarenakan mereka tidak memasuki Islam secara menyeluruh sehingga timbul bibit-bibit kemunafikan, padahal Allah Swt telah mengingatkan dalam terjemahan surah Al-Baqarah ayat 208 di bawah ini:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Pada hakekatnya, kembali kepada pemahaman individu Umat Islam sendiri, namun syaitan tidak pernah berhenti untuk mengotori pemahaman seorang Muslim, sehingga seorang Muslim yang lemah dasar keimanannya dan silau akan geremelapnya dunia mengikuti langkah-langkah syaitan untuk merubah agama Islam ini. Lalu pertanyaanya adalah “Dimana letak kemunafikannya?” mari kita lihat bersama-sama, Rasulullah Saw mencirikan orang munafik dengan 3 hal yaitu : Jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika di beri amanah ia khianat. Pada hari ini, banyak pemikir-pemikir yang mengatasnamakan Islam mencoba mengadakan pembaharuan dengan pemahaman yang sedikit, sehingga di saat memberikan pendapat tidak sedikit mereka mengadakan dusta untuk mempertahankan eksistensinya, padahal amanah yang mereka emban adalah peradaban Islam, sehingga secara tidak langsung mereka telah mengkhianati amanah yang diembankan kepadanya dan mengadakan dusta di dalam Umat untuk membangkitkan peradaban karena pemikirannya sudah tidak sesuai dengan Kaidah dan Dasar-dasar Islam.

Hari ini kita lihat orang-orang ini berpencar di segala penjuru dunia dengan pemikirannya, sehingga timbul dari pemikiran mereka aliran Sekuler, Liberal, termasuk juga Komunis. Di Indonesia muncul Jaringan Islam Liberal yang mendukung persamaan semua agama dengan berkiblat pada Barat yang pada akhirnya pemikiran ini merusak akidah Umat Islam pada umumnya. Padahal Allah Swt telah menetapkan hukumnya dalam syari’at namun para pemikir inilah yang membuat hukum syari’at adalah sama seperti hukum manusia yang bisa di ubah-ubah demi kesenangan hidup di dunia yang menyebabkan Umat Islam berada dalam kebingungan. Hal ini di karenakan minimnya pemikir-pemikir Islam yang berlandaskan syari’at pada saat ini yang memiliki pengaruh besar untuk mengembalikan wibawa Islam sehingga muncul pemikiran yang memporak-porandakan Islam walau menurutnya bertujuan untuk memajukan Islam, hukum jahiliyah yang mereka terapkan dan hukum syari’at mereka tinggalkan. Dalam hal ini Allah Swt telah menghimbau Umat Islam dalam terjemahan surat Al-Ma’idah ayat 50 berikut ini:

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Seharusnya Umat Islam pada hari ini menyadari bahaya gerakan-gerakan pembaharuan yang bersumber kemunafikan ini, di luar sana memang telah cukup banyak gerakan yang mencoba untuk mengembalikkan Islam pada fitrahnya, namun hal itu tidaklah akan berarti tanpa adanya kontribusi Umat Muslim secara keseluruhannya untuk menuju Jama’atul Muslimin, tentunya sebelum bergerak haruslah memahami Islam secara menyeluruh sehingga tidak menjadi duri dalam pergerkan Islam yang akhirnya memutar balikkan fakta dengan pemahaman seadanya. Naudzubillah.

Semoga tulisan sederhana ini bisa menggerakkan jiwa-jiwa ksatria yang akan terus berjuang menumpas Kebathilan dan Kemunafikan sampai Islam mencapai kejayaannya.

Oleh: Bobby Brillian Yerikho, Bandung
Pengmasy PK KAMMI IT Telkom
FacebookTwitter