Tingkatan Konflik dalam Diri Manusia

Dalam diri manusia ada tiga hal yang akan saling mempengaruhi. Ketiganya adalah hati, jiwa, dan akal. Apapun yang kita lakukan tidak akan lepas dari ketiganya. Ketika apa yang kita lakukan salah, minimal salah satu dari ketiganya akan memberikan warning, STOP! It’s wrong.

Meskipun ketiganya menjadi pengingat diri, ada kalanya ketiganya juga akan saling berkonflik ketika memutuskan saat apa yang kita lakukan belum jelas kebenarannya. Bentuk konfliknya bermacam-macam. Jaman sekarang orang sering menyebutnya galau. Namun sebenarnya bila tahu apa yang benar, galau tidak akan pernah terjadi.

Berikut ini tingkatan konflik diri:

Konflik antara hati dan jiwa.

Meskipun keduanya sering dianggap sama, sejatinya keduanya berbeda. Bentuk konflik dari keduanya adalah memilih melakukan hal baik padahal ada hal yang lebih baik. Contohnya adalah pada waktu salat memilih membaca surat pendek , padahal sebenarnya hafal surat yang lebih panjang serta waktunya sedang luang. Pada kondisi ini, kondisi diri masih di level aman, sebab masih dalam bingkai kebaikan. Hanya saja mengalami kemunduran.

Konflik antara hati dan akal.

Akal ada di pikiran sedangkan hati ada pada rasa diri. Konflik antara hati dan akal wujudnya berupa melakukan hal yang pasti sudah buruk, dan meninggalkan yang sudah pasti baiknya. Contoh bentuk perbuatannya adalah memilih untuk melepas pandangan dibandingkan dengan menundukkan pandangan. Baik itu kepada lawan jenis ataupun kepada materi.

Lalu apa akibatnya bila membiarkan konflik diri ini tersebut berlanjut?

Pertama, tidak setia kepada yang benar. Sehingga menjadi pribadi yang tidak punya integritas. Apabila melakukan kesalahan, tidak merasa bersalah.Sedang apabila sedang dalam kondisi benar, dia akan menjadi pribadi yang merasa paling benar dan orang lain salah.

Kedua, Tidak jujur pada diri sendiri. Wujudnya adalah nyaman saat ada dalam keburukan. Contoh perbuatannya adalah membenci orang lain. Padahal saat itu tahu kalau membenci itu tidak baik dan hanya merugikan diri sendiri. Wujud lainnya adalah merasa tidak nyaman dalam kebaikan. Contoh perbuatannya adalah lebih membenci keadaan saat menjadi makmum dari imam yang bacaannya panjang. Wujud terakhir dari ketidakjujuran pada diri sendiri adalah lebih memilih kesenangan dunia dari pada kesenangan akhirat.

 

Disari dari Kajian bersama Ust. Syatori Abdurrauf Al hafizd