Warning: include_once(/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php): failed to open stream: No such file or directory in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22

Warning: include_once(): Failed opening '/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php' for inclusion (include_path='.:/opt/sp/php7.4/lib/php') in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22
Anak Ulama Kebanyakan Tidak Menjadi Ulama

Anak Ulama Kebanyakan Tidak Menjadi Ulama

Dari puluhan ribu nama ulama, berapa persenkah yang dikenal bahwa anak-anak mereka mengikuti jejak yang sama dengan ayah mereka? Yang dikenal justru sedikit sekali. Beberapa saja. Benar sekali bahwa ketidaktahuan akan suatu realita tidak berarti realita itu tidak ada. Tapi cobalah buktikan: Adakah sampai 20% anak-anak ulama menjadi ulama seperti ayah mereka?

Selamat membuktikan!

Kalau anaknya Imam Ahmad, yaitu Shalih dan Abdullah, dikenal berilmu, terutama Abdullah. Juga Abu al-Hasan Taqiyuddin as-Subky, memiliki beberapa anak yang dikenal sebagai ahlul ilm, seperti Ahmad, Husain dan Abdul Wahhab, terutama sekali Abdul Wahhab (Taj ad-Din as-Subky), yang karyanya melebihi ayahnya.

Juga Muhammad bin Abdul Wahhab, ayahnya adalah ulama lokal.

Sekarang tambahkan sesiapa yang anak ulama dikenal sebagai ulama. Tidak lagi banyak tersebutkan. Jikapun ditambahkan, biasanya sang anak tak bisa melampaui bahkan menyamakan kesohoran nama ayahnya.

Tapi kita sering mendengar para ulama dahulunya bersirah hayat yang sulit, penuh cobaan, miskin dan nelangsa. Ayahnya ath-Thabary berjuang mencari nafkah demi menghidupi anaknya dengan harapan semoga dengan rizki halal yang disuapkan kepadanya, Allah jadikan anak itu sebagai ulama. Asy-Syafi’i tumbuh dalam keadaan yatim dan juga faqir. Tapi keyatiman dan kefaqiran itu yang membuatnya mandiri, kuat, berjuang dan tidak manja.

Para ulama memiliki sirah yang tidak ‘manja’. Latar hayat mereka sebelum namanya disebut-sebut adalah kepahitan, usaha dan perjuangan. Makanya, benar juga dikatakan: “I’ve never met a strong person with an easy past. Saya belum pernah bertemu seorang yang kuat dengan masa lalu yang mudah.”

Dan itulah mengapa, mayoritas ulama atau semacam ‘sudah tradisi’ ulama, mereka berasal dari keluarga miskin, atau pas-pasan. Dan bukan heran, anak-anak kerajaan, atau anak-anak ternama: mereka tidak jadi apa-apa selain penikmat fasilitas. Jika ada anak dari keluarga kerajaan menjadi ulama, maka luar biasa. Karena jarang, dan lebih sulit mencari ilmu syariah dalam kesempurnaan service dunia dibandingkan dalam kemiskinan.

Kesimpulannya, kebanyakan anak ulama tidak seperti orang tuanya bisa jadi karena:

  1. Tidak dididik oleh ayahnya untuk menjadi ulama; mungkin saking sibuk mengisi kajian tematik di luar kota sehingga tidak punya waktu untuk mengulamakan anaknya sendiri dan menyerahkan pendidikan ‘ngulama’ total pada istrinya…yang bukanlah ulama, atau mungkin saking sibuknya membaca.
  2. Ayahnya sudah terlanjur berada; karena dapat amplop sana-sini ditabung dan memperjayakan fasilitas rumah. Anak-anaknya pun manja dengan fasilitas; kemudian mata mereka terbelalak ke dunia dan merasa ilmu syariah itu boring.
  3. Kurangnya doa orang tua pada anaknya sendiri.
  4. Semacam menjadikan keumuman umat Islam adalah anak-anaknya, dan anak-anaknya sendiri adalah keumuman umat Islam.
  5. Anaknya disekolahkan di sekolah yang takkan mencetak ulama.
  6. Susis.
  7. Si anak namanya tenggelam dengan pamor ayahnya; meski bisa jadi ilmu anaknya lebih banyak. Namun orang-orang sudah terlanjur mengagungkan ayahnya; sehingga siapalah anaknya?

Dan jika anak seorang ulama jadi ulama, masyarakat akan mengatakan: “Ya pantaslah. Namanya juga anaknya ulama.”

Namun jika anak seorang ulama tidak jadi ulama, masyarakat akan mencibir: “Kasihan, keturunannya gak menggantikan peran ayahnya.”

Seperti jika anak kampus non-syariah jadi ulama, kita akan mengatakan: “Hebat!”

Jika anak kampus syariah jadi ulama, kita akan mengatakan: “Ya wajar lah. Biasa!”

Jika anak kampus non-syariah tidak jadi ulama, kita akan mengatakan: “Lha wajar, wong bukan bidangnya?!”

Jika anak kampus syariah tidak jadi ulama, kita akan mengatakan: “Ilmu yang dipelajari dulu ga bermanfaat!”

Di antara tambahan beban bagi seorang ulama adalah: bagaimana mendidik anak-anaknya jadi ulama. Juga beban anak ulama lebih berat daripada beban anak petani; karena seolah alam menuntut ia harus sehebat ayahnya atau lebih lagi. Dan masyarakat menilainya kelak. Jika jadi, maka alhamdulillah dan dianggap ‘wajar’. Jika gagal, maka akan dipertanyakan.

Dan benar…

Anak ulama kebanyakan tidak menjadi ulama…

Qadarullah. Hikmahnya: Yang namanya ILMU dan HIDAYAH tidak kenal keturunan. Banyak ulama yang Allah Ta’ala beri ‘anak’ dari segi ilmu, namun anak-anaknya sendiri betapa sulitnya menuntut ilmu. Bisa salah ayahnya, bisa juga istrinya, dan bisa juga anaknya.

Yang paling salah adalah:

Siapalah engkau menilai fulan anaknya gimana, sementara lupa diri sendiri bukanlah ulama, dan belum satu pun tercetak dari dirinya sendiri bibit yang tampak berpotensi ulama. Kemanakah hijrah rasa malu?

Leave a Comment