Bercermin Pada Shalat

“Kiki, kajian yuk di Darus Shalihat” sapaan dari rekan kerja saat aku akan menyeberang jalan, baru saja selesai dari kantor. Sebenarnya kalau saja bukan karena tidak enak setelah sekian ajakannya aku tolak, dengan alasan sudah punya agenda lain, deadline tugas yang musti segera di kerjakan, atau yang lebih remeh temeh dengan alasan cucian baju menumpuk, kali ini aku juga ingin menolaknya setelah dari pagi tadi hingga tepat pukul 16.00 WIB ini hampir 8 jam berkutat didepan komputer dan ditambah lagi revisi proposal yang berjibun. Ingin rasanya segera sampai dirumah dan rehat. Namun, Kali ini aku ikuti saja ajakannya.

Fajar mulai tenggelam, seburat merah saga menyembur dari ufuk timur bersamaan dengan deru kendaraan yang berlomba segera pulang, saat kajian selesai tepat 1 jam 45 menit yang lalu, materi tadi bertemakan sholat jalan paling terang menuju syurga. Ah, sudah lama sekali rasanya aku tidak memikirkan akan dibawa kemana tanggungjawabku sebagai insan beriman ini, apalagi shalatku. Masuk syurga atau justru aku masih harus merasakan panasnya neraka. Rasanya seluruh waktu yang kumiliki hanya untuk bagaimana menunantaskan pekerjaan dengan perfect dan tepat waktu. Sholat aku kerjakan lebih cenderung karena kewajiban saja, bukan karena penghambaan ku untuk Allah sang pemilik waktu.

Bercermin pada sholat, shalat sangat berhubungan erat dengan aktifitas keseharian. Apa yang terjadi didalam shalat biasanya itulah yang terjadi diluar shalat. Lebih terang ustadz lulusan al-azhar cairo ini menerangkan, bahwa ketika seseorang sering menunda untuk segera menunaikan shalat bisa jadi dalam aktifitas kesehariannya pun sering juga menunda-nunda. Jadi, bagaimana seseorang itu tataplah bagaimana ia shalat.

“Deg”, makin tertohok rasanya, apakah juga pekerjaan yang tak juga kunjung selesai berhubungan erat dengan ibadahku. Ingatan ku kembali melayang pada kegiatan–kegiatan yang sering aku jadikan alasan sebagai penolakan untuk tidak datang ke acara kajian. Sering juga tidak jadi aku kerjakan. Biasanya dengan alasan nanti saja, masih punya waktu 5 atau 10 menit lagi. Sampai akhirnya lepas tidak jadi aku kerjakan, atau deadline tinggal 1 hari lagi.

Dan aku ingat, saat layar monitor komputerku muncul peringatan, “5 menit lagi memasuki waktu dzuhur”, sebentar lagi, tunggu sampai adzan saja pikirku, kumandang adzan lamat-lamat terdengar dari laptop yang memang sengaja aku taruh software pengingat shalat, segera saja kumatikan sebelum habis adzan dikumandangkan. Nanggung, keburu nanti ide cerita hilang dan tidak seru lagi, masih saja aku enggan beranjak dari peraduanku menulis cerpen dengan alasan yang dibuat rasional tadi. 10 menit, setengah jam berlalu. Hampir saja aku kehilangan waktu dzuhur kalau saja aku tidak mendengar Siti, teman kos ku yang tiba –tiba saja berkomentar “Innalillahi, begitulah kuasa Allah tentang kematian, siapa yang tahu seperti apa dan kapan kita menjemput ajal” sesaat setelah diberitakan pesawat Sukoi SJ 100 kehilangan kontak dan diketahui menabrak gunung Salak, beberapa korban ditemukan dalam keadaan tidak utuh lagi. Aku ingat saat itu aku belum shalat. Siapa yang menjamin saat selesai aku menulis cerpen itu, kemudian aku masih diberi kesempatan untuk beribadah kepadanya. Ya Allah, ampunilah kelalaian hamba.

Dikala diluar sana sengatan matahari bagai membakar tubuh dan seketika itu memasuki rumah dengan ruangan ber AC, kemudian sang pemilik rumah menyungguhkan aneka jus buah dengan segala macanya, kemudian kue-kue yang membuat siapa saja tak akan melewatkan untuk mencicipi. Ditambah lagi dengan shofa nyaman yang  membuat kaki pegal-pegal terasa ringan. Sehingga panasnya diluar tak lagi terasa. Begitulah seharusnya kesejukan yang menetes dikala shalat. Barisan kalimat taudziyah ustad tadi masih terekam jelas dikepalaku.

Ya allah, dalam rengkuhmu aku memohon, ampuni hamba. Aku sadar masih banyak sekali kekeliruanku dalam shalat, dari yang masih belum khusuk dalam setiap raka’at yang aku kerjakan, fokus pikiranku yang masih untuk memikirkan dunia, mungkin gerakan ku juga belum sempurna, atau bahkan dari niatku aku yang masih hanya untuk rutinitas saja. Ya Allah, izinkan aku merasakan kesejukan tetesan yang engkau titiskan kedalam shalatku.

“Trimakasih ya Na” kemudian aku turun, saat motor yang kami naiki sampai di depan rumahku. Ku sunggingkan senyum sebelum kami saling berjabat tangan dan akhirnya dia mengucap salam kemudian meneruskan laju kendaraannya pulang. Trimakasihku lebih karena kau berhasil mengajak ku kali ini. Trimakasih sahabat, yang tak pernah lelah meski sering aku tak menghiraukan ajakanmu. Tak menyerah dan tak juga berhenti merayuku untuk ikut bersamamu, kadang diriku berfikir apa untungnya buatmu. Dirimu terus menggenggam erat tanganku, kini juga nanti. Dan kini aku tahu karena ukhuwah terlalu indah untuk tidak diperjuangkan. Dan majelis ilmu terlalu sayang untuk dilewatkan. Ingin rasanya saat itu juga aku memelukmu, Nana.

Hmm, hanya untuk menyitakan sedikit waktu untuk mengejar ilmu akhirat saja beratnya berkali-kali lipat. Padahal menonton bioskop saat ada pemutaran film baru sering kali tanpa berfikir panjang langsung berburu tiket, bahkan dengan senang hati. Tak jarang hingga sampai larut, belum setelahnya disambung belanja. Kadang barang yang tidak diperlukan pun dibelinya, hanya karena ada lebel diskon tertera di wajah benda tersebut.

Ironi memang, disaat yang sama, ketika kotak infak diedarkan masih berfikir berkali-kali untuk memasukan kocek yang kita punya. Atau hanya sekedar berhenti sejenak untuk menunaikan kewajiban lima waktu yang balasannya hanya untung dan untung masih bersedia untuk menunda.

Ya Allah bimbinglah kami selalu, agar berjalan tak tersendat-sendat.

Oleh: Ririz Tazkiyah, Yogyakarta
FacebookBlog