Kebebasan Dalam Berpendapat

Semua orang bergembira, semua orang senang, semua bahagia. Setiap orang berbas bersuara apapun. “Terserah saya mau ngomong apa saja, itu bukan urusan anda!” Katanya.  Zaman ini adalah zaman bebas berbicara apapun. “Ini hak kami berbicara, anda ngga usah ngurusin orang lain,” teriaknya sambil melarang orang lain berbicara kebenaran.

Untuk urusan kebenaran, nanti dulu. Semua itu sama saja. Tidak ada yang absolut. Semua relatif. (All is relative). “Itu kan menurut anda!”. ‘Semua relatif’ sudah menjadi doktrin  dan dogma yang harus diimani. “Merasa benar itu hukumnya ‘haram’,” ungkapnya. Tidak ada yang absolut. Semua bisa –bisa saja. Lesbian bertakwa, Pezina berhati baik, semua bebas-bebas saja. Mendukung kesalahan sama dengan mendukung kebenaran, karena begitu menyenangkan semua pihak, kecuali pemegang teguh kebenaran.

Baik, buruk, semua sama!. Boleh disampaikan. Melarang menyampaikan yang buruk adalah ‘dosa besar’. Semua orang menyalahinya, katanya “Tidak menghargai kebebasan berpendapat”. Semua bebas berpendapat. Semua sama, tidak ada otoritas. Yang benar sama baiknya dengan yang salah. Eh ternyata salah, yang benar malahan jadi buruk.

Nyatanya, terjadi kontradiksi. Kalau bilang semua pendapat benar, berarti Ia harus mendukung pendapat yang bersebrangan. Tapi nyatanya, Ia menyalahkan. Bebas, tapi bebas yang sesuai pendapatnya saja. Kata Noam Chomsky “Jika anda percaya pada kebebasan berbicara, anda percaya pada kebebasan berbicara untuk mendukung pendapat yang tidak anda sukai”. (If you’re in favor of freedom of speech, that means you’re in favor of freedom of speech precisely for views you despise)

Kalau berbicara atas nama moral, keadilan, norma masyarakat itu sah-sah saja.Tapi kalau bawa-bawa agama, dilarang. Menolak penampilan artis luar negeri atas dasar norma dan adat itu halal, tapi kalau menolak karena larangan Tuhan itu haram.  Agama di haramkan oleh para penganut kebebasan ini.  Bebas berbicara apa saja,asal jangan –jangan bawa agama. “Sorry, if you talk about religion, I’am quit! Because it’s about privat, not public”.

Barat memang seperti itu. Teriak bebas berbicara, tapi melarang Dr. Yusuf Qaradhawi (ulama Islam) berbicara di beberapa Negaranya. Termasuk melarang menghina negaranya. Ini artinya sebebas-bebasnya berbicara, dibatasi oleh aturan dan norma-norma yang ada. Tidak ada yang bebas mutlak. Tidak pernah terbayangkan, seorang menghina orang tuanya, atau seorang panglima tentara bebas merobohkan pangkalan dan membunuh anak buahnya.

Mengutip pernyataan Dr.  Hamid Fahmy, “Hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat, Oliver Wendell Holmes Jr. Ia menyatakan bahwa  proteksi terhadap kebebasan berbicara yang paling ketat sekalipun tidak dapat melindungi seseorang yang bohong berteriak kebakaran dalam sebuah gedung bioskop dan mengakibatkan kepanikan.  Dalam bahasa agama, orang bisa melindungi kebebasan bicara tapi tidak bisa melindungi kebebasanmenghina agama.

Juga kata  H. S. Mill, tentunya kebebasan tersebut kebebasan yang bertanggung jawab yang diatur oleh hukum. Ini berarti sejak awal sudah ada kesadaran bahwa sebesar apapun hak kebebasan oranguntuk berbicara, ia akan dibatasi kebebasan orang lain. Kebebasan tidak boleh menghina, merendahkan, melecehkan, menyudutkan ras, agama dan kepercayaan lain juga tidak boleh merusak kehormatan atau melukai perasaan orang lain.”

Lucunya, menghina orang tua tidak boleh, tapi menghina Tuhan boleh. Menghina agama boleh bersuara. “Kita dengar dulu, dia ingin berbicara,” katanya. “Biarkan dia diskusi dong!”.  Alkisah Muntazar al-Zaidi yang melempar George W Bush dengan sepatu ternyata di Penjara. Tapi yang bebas berbicara membenarkan yang salah itu bebas berkeliaran. Menghina presiden di tangkap, tapi menghina Tuhan didukung dengan dalih kebebasan. Bahkan ada yang sampai membunuh Tuhan. Membunuh manusia saja, dianggap kejahatan luar biasa, apalagi membunuh Tuhan?. Setiap orang berhak berbicara. Doktrin postmodern membuat jutaan orang taqlid.

Ternyata memang, kebenaran di Barat selalu berubah-ubah. Milton pernah membuat brosur yang dianggap liar, tidak bertanggung jawab, dan illegal. Tapi argumennya, itu adalah kebebasan berpendapat individu. Tambahnya, yang membentuk benar salah, khususunya standar kebenaran adalah gabungan pendapat individu. Setiap individu bebas menemukan kebenaran masing-masing. Masalahnya, standar kebenaran ditentukan mayoritas, tapi juga tergantung pada individu masing-masing. Kebenaran yang bersumber dari Tuhan  jadi bias

Dilarang ada pemaksaan pendapat, semua benar, atas nama apapun, di manapun, atas nama individu atau institusi, termasuk atas nama kebenaran. Tidak boleh! Kebenaran sama benarnya dengan yang salah. Lho? Jadinya kalau semua benar, artinya tidak ada kebenaran!.

Tetapi ada pengecualian, khusus bagi pengusung ide kebebasan ini, mereka boleh melakukan pemaksaan kehendak, pendapat, juga pensitaan. Lihat saja, media-media , majalah, televisi, online, sah-sah saja untuk memaksakan pendapat. Kalau individu, dihabisi atas nama kebebasan. Kalau institusi harus dibubarkan, karena tidak sejalan dengan pemikirannya. Karena kebenaran itu absolute, yaitu kebebasan itu sendiri.

Semua sepakat. Yang menentang diteriaki ‘tirani minoritas’. Bagi para pengambil keuntungan, tukang bicara agama tanpa ilmu, tentunya, kebenaran tentang kebebasan ini sangat menggiurkan. Enak memang, bilang “itu kan budaya arab saja”. Bongkar sana sini prinsip agama. Merobohkan bangunan agama, Enak memang, bisa berteriak tentang keyakinan, tanpa khawatir mendapat pertentangan karena memegang teguh kebenaran. Memang nikmat, bersembunyi di balik kebebasan.

Lesbianisme dan Homo, atas nama kebebasan itu boleh dilakukan. Tidak perlu lagi malu, takut, malah bangga, berkeliling Negara mempromosikan. Hanya Tuhan yang absolute benar katanya, kalau  Anda  relatif.  Awalnya hanya ottologi (wujud ) Tuhan. Dengan meyakinkan berteriak, ‘Hanya Tuhan saja yang berhak menghakimi’, sambil dirinya menghakimi Tuhan. Niatnya, hanya dalam ontologi. Tapi, karena nggak konsisten, Epistemologi di bawa-bawa.

Hadits yang dari nabi, dianggap relatif. Ayat-ayat Qur’an pun dianggap relatif, karena yang absolut hanya Tuhan. Padahal Tuhannya bilang, kebenaran itu dari Tuhan, bukan bilang kebenaran itu pada Tuhan. Artinya Kebenaran itu wujud dan eksis ada diberikan oleh Tuhan di tengah-tengah manusia.

Kata Thomas F Wall, dalam Thinking about Philosophica , “Kalau meyakini kebenran absolut dari Tuhan berarti bawhwa nilai-nilai moral yang mulapun berasal dari Tuhan”. Kalau ada yang bilang moral itu hasil kesepakatan manusia, tentu  ia tidak percaya pada yang mutlak dan absolut. Anda benar saya benar semua yang berbicara benar artinya tidak yakin bahwa Tuhan itu mutlak dan absolut, kebenaran itu dari Tuhan.

Sekarang, Tuhan harus ngikut manusia. Ia tidak boleh menjadi tiran, namun sejatinya, para pengusung kebebasan yang sebenarnya menjadi tiran. Tuhan tidak boleh ikut campur, “Bagi yang tidak setuju, sudah diam saja dirumah,tidak perlu tidak perlu urusi urusan kami, cukup diam!” geramnya, sambil menyuruh diam kebenaran.

Kalau Tuhan melarang lesbi dan homo, tapi bagi mereka, Tuhan dilarang melarang orang yang ingin menyebarkan aturan yang Tuhan larang. Kalau kata Tuhan dilarang pornoaksi dan pornografi, maka Tuhan dilarang mengatur-atur tentang hal ini. Kalau Tuhan melarang zina, maka Tuhan dilarang melarang orang yang berzina, karena katanya ini urusan privats. “Sstt, Anda diam saja Tuhan!”. Ia tidak sadar, bahwa dengan dalih kebebasan, Ia telah menjadi ‘Tiran’ sejati. Mengerikan. Tirani Kebenaran!

 Oleh: Rizki Lesus, Bandung
Jurnalis, Aktif  kajian di Institut Pemikiran Islam dan Pengembangan Insan (PIMPIN) Bandung
TwitterBlog