Warning: include_once(/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php): failed to open stream: No such file or directory in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22

Warning: include_once(): Failed opening '/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php' for inclusion (include_path='.:/opt/sp/php7.4/lib/php') in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22
Do’a Nabi Musa AS untuk Kemudahan Segala Urusan

Do’a Nabi Musa AS untuk Kemudahan Segala Urusan

Berdoalah kepada Allah Agar Di Lapangkan Hatimu
http://www.udaarifin.com/

Barang siapa yang ingin perkataannya dimudahkan oleh Allah, sehingga hilang kelu dan penuh makna, bisa berubah bisa jadi jalan berubah. Silahkan gunakan doa ini:

Doa Nabi Musa AS.

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’

Artinya: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

Kisah Musa dengan Do’a agar di Mudahkan Urusannya

Tatkala Allah memilih Nabi Musa AS untuk menjadi rasulNya, Allah SWT memberikan kabar kepadanya serta menunjukkan bukti-bukti yang nyata, kemudian Musa diutus kepada Fir’aun (Raja Mesir), Allah Ta’ala berfirman,

اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى

“Pergilah kepada Fir’aun; Sesungguhnya ia telah melampaui batas“. (QS. Thaha: 24).

Fir’aun sungguh telah melampaui batas dalam kekafiran, dan berbuat kerusakan, ia sungguh telah berlaku sombong yang nyata di muka bumi, dan ia pun mendzalimi orang-orang yang lemah.

Hingga Fir’aun mengklaim rububiyah ilahiyah (bahwa dirinya adalah Rabb dan pantas disembah). Sungguh Fir’aun benar-benar telah melampaui batas, inilah sebab kebinasaannya.

Namun karena rahmat, hikmah dan keadilan Allah, Dia tidak mengadzab Fir’aun melainkan setelah diberikan hujjah dengan diutusnya para Rasul. Maka dari sinilah Musa AS mengerti bahwa beliau diutus dengan membawa tugas yang berat.

Musa diutus kepada seorang pembangkang, dimana tidak ada satu orang Mesir pun yang dapat menentangnya.

Musa AS sendiri menghadai berbagai rintangan sebagaimana yang lainnya ketika ingin berdakwah kepada Fir’aun, yaitu hendak dibunuh. Musa AS tetap menjalankan misi yang dititahkan untuknya dari Rabbnya.

Musa AS selalu berdoa kepada Allah SWT untuk meminta petunjuk dan pertolongan dariNya. Sungguh karena Allah lah Nabi Musa AS mampu melewati rintangan demi rintangan yang ia hadapi.

Ia tetap menjalani misi dari Rabbnya dengan penuh lapang dada. Nabi Musa AS senantiasa memohon pertolongan Allah dan meminta dimudahkan berbagai macam sebab. Beliau pun mengucapkan do’a di atas.[1]

Maksud Do’a Nabi Musa AS

Berikut kami sarikan penjelasan Syaikh As Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat di atas.

Pertama:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي

Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku

Maksudnya adalah lapangkanlah, janganlah perkataan dan perbuatanku ini menyakiti dan janganlah hatiku ini terkotori dengan yang demikian, dan jangan pula hatiku ini dipersempit.

Karena jika hati telah sempit, maka orang yang memiliki hati tersebut sulit menyampaikan kebenaran (petunjuk ilmu) pada orang yang didakwahi.

Allah Ta’ala telah berkata pada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159).

Semoga saja seseorang yang didakwahi dapat menerima dakwah dengan sikap lemah lembut dan lapangnya jiwa.

Kedua:

وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

dan mudahkanlah untukku urusanku

Maksudnya adalah mudahkanlah dalam setiap urusan dan setiap jalan yang ditempuh untuk mengharap ridho-Mu, mudahkanlah segala kesulitan yang ada di hadapanku.

Di antara dimudahkan suatu urusan yaitu seseorang yang memohon kepada Allah SWT agar diberikan berbagai kemudahan dari berbagai pintu, ia dimudahkan untuk berbicara dengan setiap orang dengan tepat, dan ia mendakwahi seseorang melalui jalan yang membuat orang lain mudah menerima.

Ketiga:

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku

Dahulu Nabi Musa AS memiliki kekurangan, yaitu rasa kaku dalam lisannya. Hal ini membuat orang lain sulit memahami yang beliau ucapkan, demikianlah dikatakan oleh para pakar tafsir.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا

Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku” (QS. Al Qashshash: 34).

Oleh karena itu, Nabi Musa AS berdoa kepada Allah agar dilepaskan dari kekakuan lidahnya sehingga orang bisa memahami apa yang diucapkan oleh Musa. Akhirnya tercapailah maksud yang beliau minta.[2]

Mengamalkaan Do’a Nabi Musa AS

Saudaraku sekalian, lihat urutannya. berarti orang yang bisa mudah urusannya, yang mudah dipahami kata-katanya adalah orang-orang yang paling lapang hatinya.

Kita harus minta, agar dilapangkan hati kita. Ibarat seekor gajah di tanah yang lapang tidak jadi masalah, namun meskipun seekor tikus di kamar yang sempit bisa menjadi masalah besar.

Demikianlah orang yang berhati lapang, menghadapi masalah jauh lebih mudah. Dan orang yang berhati lapang, perkataannya pun tidak diselimuti dengan nafsu. Sehingga setiap perkataan, menjadi indah, berkah dan bermanfaat dan menggugah.

Duhai Allah Tuhanku, lapangkan dadaku, mudahkan urusankan, dan hilangkan kelu di lidah ini, agar perkataan ini mudah dipahami.

Allah lah yang berkuasa atas hati, Allah lah yang membuka setiap urusan dan Allah lah yang menuntun lisan ini,  mintalah kepada penguasa segala-galanya.

[1] Disadur dari penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman, pada surat Thoha, hal. 504, penerbit Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.
[2] Disarikan dari Taisir Al Karimir Rahman, hal. 504.

Leave a Comment