Filsafat Dalam Khazanah Intelektual Islam

Di dalam bahasa Inggris, istilah filsafat dikenal dengan “Philosophy”. Sebenarnya istilah ini diadopsi dari bahasa yunani yaitu “Philosophia”. Philosophia secara harfiah dimaknai mencintai kebijaksanaan. Orang yang sedang berfilsafat biasanya disebut “filosof”. Istilah philosophia digunakan oleh Phytagoras (sekitar abad ke 6 SM). Makin populer ketika zaman Socrates dan Plato. Untuk memahami definisi filsafat tidak cukup dengan mengatahui 2 kata philo dan shopia. Karena definisi filsafat cukup banyak, bahkan sebanyak jumlah filosof itu sendiri (Jan hendrik Rapar, Pengantar filsafat, hal 14).

Sepintas jika dilihat dari akar katanya, bisa ditebak kalau “filsafat” berasal dari peradaban Yunani. Namun sejatinya bukan orang Yunani yang merintis pemikiran filsafat di dunia. Ternyata di negeri-negeri lain, seperti Mesir, Cina dan India sudah lama mempunyai tradisi filsafat semasa atau sebelum orang Yunani kuno, walau mereka tidak mempergunakan kata philosophia untuk maksud yang sama (Endang Saefuddin Anshari, hal 81).

Dalam khazanah intelektual Islam, ditemukan 3 istilah umum untuk filsafat. Pertama, hikmah, istilah ini dipakai supaya kesannya filsafat bukan barang asing akan tetapi berasal dari al-Quran. Al-’Amiri mengatakan bahwa hikmah berasal dari Allah dan manusia yang pertama dikaruniai hikmah oleh Allah swt adalah Lukman al-Hakim. Sudah barang tentu tidak semua orang setuju dengan istilah ini, imam al-Ghazali termasuk yang menentangnya. Menurut beliau istilah hikmah dalam al-Quran dikorupsi untuk kepentingan filosof, karena makna hikmah dalam al-Quran itu bukan filsafat, melainkan Syariat Islam yang diturunkan Allah kepada para Nabi dan Rasul (Adian Husaini dkk, Filsafat ilmu Perspektif Barat dan Islam, 2013).

Istilah yang kedua yaitu falsafah, berbeda dengan kata “ilmu” yang sering disebut dalam al-Quran, tidak demikian dengan filsafat. Istilah falsafah sejatinya merupakan pinjaman atau serapan kata kosakata bahasa Arab melalui terjemahan karya-karya Yunani kuno. Namun demikian kata yang menunjukkan makna berfikir filosofis tersebut banyak ditemukan dalam al-Quran seperti kata afala ta’qilun, afala tubsirun, afala yanzurun dan sebagainya (Fakhruddin, Jurnal ulul albab, Vol 8 tahun 2007). Istilah ketiga, ‘ulum al-awa’il yang artinya “ilmu-ilmu orang zaman dulu”. Jadi filsafat ini dianggap ilmu-ilmu yang berasal dari peradaban kuno pra-Islam seperti India, Persia dan Yunani.

Saya pikir jika melihat buku-buku sejarah peradaban Islam, kita akan paham betapa besarnya jasa ilmuwan Muslim dalam penerjemahan buku-buku Yunani Kuno khususnya dalam persoalan ilmu filsafat. Tanpa jerih payah para pendahulu kita, Barat tidak akan mengenal ilmu filsafat yang telah lama terkubur karena kebijakan kaisar Justinianus. Selain menerjemahkan buku-buku filsafat, ilmuwan muslim mengembangkannya, tidak meniru melainkan memodifikasinya dengan berbagai cara yang sejalan dengan semangat Islam.

Para ilmuwan Muslim menjinakkan filsafat Yunani sehingga mudah dicerna oleh umat beragama. Di tangan ilmuwan Muslim, filsafat lebih “membumi”, ilmuwan muslim tidak seperti para filosof Yunani yang dalam pernyataan Sir James Jeans “memabukkan diri dengan berspekulasi”, akan tetapi mereka melakukan penyelidikan empiris, melanjutkan spekulasi-spekulasi filosofis yang mereka terima dan kembangkan (M. Syamsul hady, 2007, hal 68).

Setelah saya memaparkan peran ilmuwan Muslim dalam menjinakkan ilmu filsafat, Lantas siapakah filosof Muslim pertama di dalam khazanah intelektual Islam? Abid Al-Jabiri menyebut Abu Yusuf Yaqub Ibn Ishaq al-Kindi sebagai filosof Muslim pertama. Pada masanya, al-Kindi terlibat secara langsung dalam konflik ideologi yang muncul, antara Muktazilah yang ssat itu mempresentasikan ideologi Negara, dengan penganut gnostis (irfani) dan pihak Sunni pada sisi lain. Al-Kindi berjuang di dua hal: melawan kaum gnostik dan menentang kekakuan para ahli hukum Islam. Kekakuan yang dimaksud ialah kebencian pada pemikiran filsafat (M. Abid al-Jabiri, 2003, hal 81-82).

Sebelum menutup tulisan singkat ini, perlu saya tambahkan pembahasan mengenai seperti apa mazhab atau aliran dalam filsafat Islam? Siapa saja perintisnya?. Sedikitnya ada lima aliran atau mazhab dalam filsafat Islam:  pertama, teologi dialektik (Ilmu Kalam); kedua, Mazhab peripatetisme (Masysya’Iyyah) ketiga, Illuminisme (Isyraqiyyah); keempat, sufisme atau Teosofi  (Tasawuf atau ‘irfan), khususnya yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi;  kelima, Filsafat Hikmah, (Al-hikmah Al-Mut’aliyyah) yang dikembangkan oleh Mulla Sadra (Haidar bagir, 2006, hal 91). Sedangkan Sayyed Hossein Nasr berpendapat ada tiga mazhab dalam filsafat Islam, yakni ilmuan-filsuf, illuminasionis dan sufi. Mazhab pertama diwakili oleh Ibnu Sina (Avicenna), sedangkan yang kedua diwakili Suhrawardi dan terakhir Mazhab Sufi diwakili oleh Ibnu Arabi (Sayyed hossein Nasr, 2006). Wallahu’allam bishowwab

Leave a Comment