Generasi Rabbani di Bumi Gadjah Mada

 Peradaban adalah hasil akumulasi setiap generasi (Ust. Anis Matta)

Momentum Sumpah Pemuda telah di gaungkan oleh 1300 pemuda dari seluruh Indonesia yang berkumpul untuk mengusung perubahan kejayaan Islam di negeri Pertiwi. Dengan lantang dan tegas “Sumpah Aktivis Dakwah Kampus Indonesia” itu telah diproklamirkan.

“Kami Aktivis Dakwah Kampus Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air penuh kemakmuran. Kami Aktivis Dakwah Kampus Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa tanpa kebodohan. Kami Aktivis Dakwah Kampus Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa tanpa kekerasan.”

Sarasehan Aktivis Dakwah Kampus yang kemarin kita rasakan adalah wujud dari mimpi para pendahulu kita dengan banyaknya pengawasan rezim otoriter ketika itu. Tapi kekokohan, keteguhan, ukhuwah yang kala itu dibentuk telah membuktikan bahwa hari ini dakwah bukan lagi hal yang ditakuti, bukan lagi hal yang menjadi momok terorisme dan bukan lagi hal yang menyebarkan paham aliran sesat. Sejatinya kita sebagai pengusung dakwah harus membuktikan itu, pemuda generasi yang akan mewarisi bangsa dan tanah air Indonesia.

Bukan lagi saatnya untuk memerangi saudara-saudara kita yang tidak sepaham, bukan lagi kita mengolok-olok kerja dakwah saudara-saudara kita yang tidak sepaham. Melainkan dengan sinergisasi dakwah, saling mengisi kekosongan dakwah merupakan modal awal untuk kejayaan dakwah. Berbagai golongan yang ada bukanlah suatu halangan untuk berdakwah, ibarat puzzle, golongan itu mampu menempati posisi dan kerjanya masing-masing sehingga terusung lah dakwah hakiki yang melahirkan generasi Islam yang mampu menegakkan Islam, sehingga tepat apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. Amien Rais, M.A untuk memperhatikan kualitas diri “Everything will depend on your hand. If you think there is problems in your country, please organizing yourself, mobilizing your self.”

Sebagai Aktifis Dakwah Kampus kita sebaiknya mampu merubah paradigma masyarakat, bahwa yang menjadi pendakwah itu bukanlah orang yang hanya berdiam diri di masjid, orang yang senantiasa memakai peci, berjenggot lebat, celana ngatung, baju koko dan lain sebagainya. Bahwa setiap orang itu telah diberikan kewajiban untuk berdakwah, kepada siapapun dan dimanapun. Posisi da’wah dalam Islam ibarat darah dalam tubuh manusia. Ia menyebabkan ummat hidup dan terus tumbuh dan berkembang. Da’wahlah yang mampu menggerakkan ummat untuk tetap terikat dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Namun sebaliknya, disaat ummat meninggalkan da’wah, ummat tidak akan lagi terwarnai oleh fikrah dan kepribadian Islam. Ummat akan tercelup dan tergiring oleh tsaqafah/peradaban kufur yang tidak akan membawa kebaikan, melainkan kehancuran aturan masyarakat, nilai-nilai moral dan peradaban manusia itu sendiri.

(Dan) Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong kepada sebagian yang lainnya. Mereka menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS At-Taubah: 71)

Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemunkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antaramu menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik di antaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doa mereka tidak akan dikabulkan” (HR. Al-Bazzar dan Thabrani).

Saat ini kondisi umat sudah semakin modern, maka jangan kita buat dakwah itu menjadi sesuatu hal yang kuno. Bagaimana kita bisa memasuki dunia mereka dengan dakwah. Sudah banyak media-media dakwah yang bisa digunakan. Salah satunya, jejaring sosial media yang hampir setiap individu memilikinya. Ketika kebanyakan orang menggunakan media tersebut untuk hal-hal keduniawian, maka manfaatkan lah dari kita sebagai media dakwah untuk bekal kita di akhirat.

Sebagaimana kita ketahui, tantangan dakwah ke depan semakin berat maka kita hadapi dengan melahirkan generasi-generasi yang lebih kuat. Kualitas diri sangat diutamakan dibandingkan kuantitas yang lemah. Jadilah generasi-generasi yang di janjikan Allah seperti yang difirmankan Allah ta’ala dalam Q.S Al Maidah : 54,

“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Q.S. Al Maidah :54)

Melalui LDK di masing-masing kampus yang tersebar di seluruh Indonesia, seharusnya mampu melahirkan generasi-generasi rabbani yang kokoh dalam tantangan dakwah. Lebih diluaskan lagi target dakwah, jangan hanya di kampus, keluarlah dari zona nyaman buat wilayah dakwah yang lebih besar. Buatlah sejarah dakwah yang dirindukan generasi setelah kita, buatlah sejarah dakwah yang membawa perubahan setiap jengkalnya. Selesaikanlah masalah-masalah internal LDK, karena saat ini seharusnya kita sudah banyak mengambil banyak pelajaran dari setiap generasi pendahulu kita dalam penyelesaian masalah-masalah dakwah. Sejatinya kerja-kerja dakwah kita sudah ditunggu oleh orang-orang yang membutuhkan, oleh bumi pertiwi. Jangan buat bumi pertiwi selalu mengangis, melihat banyak kedzaliman di hampir setiap pelosok negeri. Jangan sampai terus bertanya, mana Aktivis Dakwah Islam yang katanya membawa perubahan? Yang katanya peduli terhadap umat? Sudah saatnya kita bergerak, keluar dari zona nyaman kita, keluar dari kediaman santai kita dan saatnya kita memasuki wilayah-wilayah dakwah yang membuktikan ke da’i an kita.

Semoga momentum “Ukhuwah djang Tak Berudjung” di Sarasehan Nasional Aktivis Dakwah Kampus Indonesia mampu mengisi kembali semangat-semangat kita dalam berdakwah, semangat dalam meniti sebuah perubahan Kejayaan Islam. Setelahnya kembali bekerja di posisinya masing-masing, kembali menyalurkan semangat-semangatnya kepada saudara-saudari kita yang tidak diberikan kesempatan untuk hadir

Sudah Saatnya kita keluar dari kandang kita

Untuk bertemu di suatu lapangan yang luas

Menggunakan baju kita masing2 dengan warna yang berbeda-beda

Tetapi dengan satu semangat yang sama, kemudian meneriakkan kalimat

“Bangkit Negeriku, Harapan Itu Masih Ada”

(Anis Matta)

 

Oleh: Haris Dianto Darwindra, Jatinangor

FacebookBlog