Kenapa Harus Anak Kecil?

Seorang anak kecil masih berusia yang dididik secara kaffah keislamannya mulai dari 8 tahun membuat kita semua iri, kenapa bukan kita saja yang dilahirkan menjadi anak kecil tersebut? Seorang anak kecil yang diambil lalu dididik langsung oleh seorang manusia paling fenomenal di muka bumi, sosok manusia yang namanya paling banyak disebut, Rasulullah, benar-benar membuat kita iri. Khalifah keempat setelah Abu Bakar, Umar, dan Utsman ini merupakan satu-satunya anak kecil saat itu yang mendapatkan bimbingan langsung dari Rasulullah. Membuat sebuah halaqah kecil bersama Abu Bakar dan Zaid bin Haritsah tidak membuat dia patah arang dalam mempelajari Dien yang paling tinggi ini.

Kenapa kok harus anak kecil yang langsung dididik Rasulullah? Kok bukan hanya orang dewasa saja yang dididiknya sehingga tidak repot-repot memahamkan sesuatu yang susah untuk dipahami seorang anak kecil. Namun semua yang terjadi dan semua yang ditentukan oleh Rasulullah pasti memiliki pertimbangan sendiri.

Jawaban itu muncul, terjawablah sudah pertanyaan kenapa Rasulullah mendidik anak yang masih kecil. Jawaban itu muncul ketika anak kecil yang masih termasuk sepupu Rasulullah ini, Ali bin Abi Thalib, diangkat sebagai Khalifah Islam ke empat. Ternyata Rasulullah sedang mempersiapkan seorang pemimpin sepeninggal kaum-kaum yang tua. Oleh karena itu beliau mengajak sang Ali kecil untuk menuntut ilmu islam bersamanya.

Rencana strategi Rasulullah sudah difikirkan sejak beliau membangun ummat ini dari serpihan-serpihan kecil, namun sekarang sudah terangkai menjadi bangunan megah yang meliputi seluruh alam semesta.

Seperti itulah seharusnya dakwah saat ini, mempersiapkan generasi muda untuk dakwah ke depannya, kalau bukan pemuda yang mengisi kancah dakwah, lalu siapa lagi? Tidak ada salahnya jika pemuda saat ini perlu diperbaiki, jangan malah ditambahi rusak karena melihat lingkungan yang tidak kondusif sehingga keluar perkataan sudah terlanjur atau susah dirubah. Percayalah bahwa yang merubah itu semua Allah, jadi kita hanya bisa berusaha dan berdoa agar Allah memberikan hidayah.

Islam dapat tegak lagi kalau pemudanya mampu untuk bangkit seperti yang terjadi di zaman Rasulullah. Ketika Islam dibendung dengan kuasa tirani, maka semakin banyak jalan yang ditempuh oleh Islam. Ibarat air yang sedang dibendung, semakin tinggi bendungan, maka semakin tinggi pula air itu. Namun ketika sudah tidak tahan lagi, maka air itu akan mencari jalan lain, yaitu berubah wujud menjadi uap yang nantinya akan turun pula menjadi air, namun tempat turunnya akan lebih melebar dan banyak. Seperti itulah Islam, semakin dibendung, semakin banyak pula penyebarannya.

Masih ingatkah dengan kasus pembakaran Al-Quran yang dilakukan di Amerika Serikat? Ketika itu ummat Islam sangat tercabik-cabik atas pemberitaan tersebut. Namun Allah berkata lain, dengan adanya pembakaran tersebut, banyak orang Eropa yang heran dengan isi atau kandungan Al-Quran, lalu mereka mencari tahu, dan ternyata.. Subhanallah. Ada hidayah dibalik itu semua. Tidak sedikit dari mereka yang menyatakan keislamannya. Seperti itulah Islam.

Perjuangan menegakkan dien ini ibarat matahari yang sedang menyinari di siang yang terik, terang benderang seakan-akan tidak akan pernah padam, menyinari seluruh permukaan bumi. Bergeraklah sehingga kemenangan itu dapat direbut, jangan hanya berdiam diri, karena orang-orang kafir sangat menantikan kediaman kita dalam mendukung kebenaran serta mengusung haq.

Oleh: Izzur Rozabi Mumtaz, Malang
Facebook