Mata-Mata dalam Perang Rasulullah

Dalam peperangan, trik dan intrik menjadi salah satu aspek kemenangan. Begitu juga yang dilakukan Rasulullah dalam beberapa perangnya. Rasulullah saw bersabda: “Berbohong tidak dihalalkan kecuali dalam tiga perkara, yaitu dalam peperangan, dalam rangka mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa, suami yang berbicara kepada isterinya dengan tujuan menggembirakannya.” (HR. Ahmad, HR. At-Turmudzi No. 1862).

Dalam Riyadhus Sholihin, Imam Nawawi membawakan dalil dari Ummu Kultsum, dari Nabi SAW bersabda: “Tidaklah dikatakan pendusta orang yang mendamaikan antara manusia dan dia berkata baik pada kedua belah pihak.” (Hadis Bukhari No. 2692 atau Muslim No. 2605). Di sini, aspek yang akhirnya menjadi pentinga dalah mata-mata. Untuk mengetahui kekuatan lawan, mata-mata sangat diperlukan.

Dalam istilah kepolisian, kegiatan memata-matai ini ada dua jenis, yaitu survaillance dan undercover. Beberapa perang Rasulullah juga menggunakan pola ini. Satu hal yang menjadi poin terpenting adalah bagaimana cara Rasulullah memilih orang yang berkompeten sesuai dengan firman Allah,

“Karena sesungguhnya orang yang paling baik di antara kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (Al Qashash:26)

 

Perang Badar

Menjelang peristiwa perang Badar, Rasulullah dan pasukan melakukan perjalanan menuju Badar. Setelah melalui beberapa bukit, maka tibalah mereka di Badar. Dari sana beliau melakukan kegiatan mata-mata bersama Abu Bakar. Tatkala mereka berputar-putar di sekitar pasukan kafir Quraisy, tiba-tiba mereka berpapasan dengan seorang Arab yang sudah tua.

Pada saat pertemuan yang tidak sengaja itu, Rasulullah melakukan penyamaran agar tidak ketahuan sebagai bagian dari pasukan Muslimin dari Madinah. Rasulullah bertanya kepada orang tua itu tentang pasukan Quraisy dan Muhammad. Strategi itu dilakukan Rasulullah agar tidak diketahui penyamarannya. Orang tua itu berkata, “Aku tidak akan memberitahu kepada kalian sebelum kalian memberitahu kepadaku, dari mana asal kalian berdua.” Rasulullah menanggapi, “Beritahukan kepada kami, nanti akan kami beritahukan kepadamu dari mana asal kami.” “Jadi begitukah?” Rasulullah menjawab, “Benar.” Orang tua itu menjelaskan, “Menurut informasi yang kudengar, Muhammad dan rekan-rekannya berangkat pada hari ini dan ini. Jika informasi itu benar, berarti pada hari ini dia sudah tiba di tempat ini (tepat di tempat pemberhentian pasukan Muslimin). Menurut informasi yang kudengar, Quraisy berangkat pada hari ini dan ini. Jika informasi ini benar, berarti mereka sudah tiba di tempat ini (tepat di tempat pemberhentian pasukan musyrikin Quraisy).”

Setelah selesai memberikan penjelasan, orang tua itu bertanya, “Lalu dari mana asal kalian berdua?” Rasulullah menjawab, “Kami berasal dari setetes air.” Setelah itu Rasulullah dan Abu Bakar beranjak pergi meninggalkan orang tua itu melongo keheranan, “Dari setetes air yang mana? Ataukah dari setetes air di Irak?”, ujar orang tua itu masih melongo.

 

Perang Khandaq

Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Hudzaifah Ibnul Yaman r.a. ia berkata : “Rasulullah saw merasakan tiupan angin yang sangat kencang dingin mencekam. Rasulullah saw kemudian bersabda “Adakah orang yang bersedia mencari berita musuh dan melaporkannya kepadaku. Mudah-mudahan Allah menjadikannya bersamaku pada hari kiamat”. Kami semua diam, tak seorang pun dari kami menjawabnya, Rasulullah saw mengulangi pertanyaan itu hingga tiga kali kemudian berkata “Bangkitlah, wahai Hudzaifah. Carilah berita dan laporkanlah kepadaku!”. Karena itu, tidak boleh tidak, aku harus bangkit karena beliau menyebut namaku.”

Setelah sampai sampai di basis Kaum Musyrikin Quraisy, Hudzaifah sempat melihat Abu Sofyan menghangatkan punggungnya di perapian dan memasang anak panahnya untuk bersiap membunuh Abu Sofyan, tetapi Hudzaifah segera teringat pesan Rasulullah “Jangan engkau melakukan tindakan apapun”.

Dalam Perang Khandaq ini tidak terjadi pertempuran fisik. Hudzaifah masuk menyamar ke dalam basis Kaum Musyrikin Quraisy dan pasukan Rasulullah bertahan dengan perlindungan parit. Setelah Hudzaifah berhasil masuk ke dalam basis Kaum Musyrikin Quraisy dan mengetahui bahwa Abu Sofyan saat itu memerintahkan untuk pasukannya kembali ke rumah.Kemudian Rasulullah bersama para sahabatnya kembali ke Madinah.

 

Perang Hunain

Dalam Perang Hunain, ada strategi yang sama yang diterapkan pihak lawan dan pihak pasukan muslim. Dari pihak lawan, Malik bin Auf mengirim beberapa mata-mata untuk mencari informasi tentang kaum Muslimin. Tapi mereka menjadi cerai berai dan turun moralnya karena berpapasan dengan sekumpulan laki-laki. Pihak mata-mata itu kembali kepada Malik dan melapor, “Kami berpapasan dengan sekumpulan laki-laki yang berpakaian putih menunggang kuda yang gagah. Demi Allah, lebih baik kami menarik diri daripada kami mendapat musibah.” Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury, diterjemahkan bahwa sekumpulan laki-laki itu adalah malaikat.

Sementara pada saat yang sama Rasulullah saw mengutus Abu Hadrad Al-Islamy untuk memata-matai keberangkatan musuh dan memerintahkan agar menyusup ke tengah-tengah mereka (strategi undercover). Maka dia ikut menyusup di tengah pasukan musuh dan bisa mengetahui apa yang seharusnya diketahui, dan kembali lagi untuk diberitahukan kepada Rasulullah saw.

Dalam dunia intel, sering sekali mata-mata akhirnya ditangkap dan berakhir tragis. Sebut saja Mata Hari, Leila Khaled, Tokyo Rose, Allan Pope, dan masih banyak lagi. Fenomena-fenomena itu kebanyakan terjadi karena masalah uang dan kekuasaan. Kisah intel dan mata-mata Rasulullah yang dibekali keimanan dan ketaatan kepada perintah Rasulullah, serta ketaqwaan kepada Allah menjadikan mereka aman dan melaksanakan tugas dengan baik. Dan sekali lagi, Rasulullah selalu mencontohkan untuk menugaskan seorang yang berkompeten.

Wallahua’lam bisshowab.


-Sidharta G-

 

 

 

Leave a Comment