Warning: include_once(/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php): failed to open stream: No such file or directory in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22

Warning: include_once(): Failed opening '/srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/plugins/wp-super-cache2/wp-cache-phase1.php' for inclusion (include_path='.:/opt/sp/php7.4/lib/php') in /srv/users/serverpilot/apps/fimadani/public/wp-content/advanced-cache.php on line 22
Membenci Koruptor tapi Korupsi

Membenci Koruptor tapi Korupsi

Masih segar dalam ingatan kita kasus carut marutnya KPK Vs Polri yang belum lama ini menggegerkan negeri ini. Sebagian kelompok masyarakan berbondong-bondong memberi dukungan kepada KPK, namun ada juga sebagian orang yang dengan lantang menyuarakan keberpihakan kepada Polri.  Kejadian ini memberi gambaran kepada kita bahwa koruptor dan penangannya merupakan permasalahan semua pihak. Semua orang merasa dirugikan. Tapi bagaimana dengan tindakan korupsi itu sendiri. Apakah kita sudah benar-benar membenci dan menghindari sikap itu?

Pagi itu, seorang dosen masuk ke dalam kelas tepat pukul 07.15 WIB. Dosen ini memang terkenal rajin dan sangat menghargai waktu. Begitu masuk kelas, pintu kelas langsung dikunci dari dalam. Hal seperti ini belum pernah dilakukan oleh dosen-dosen sebelumnya. Padahal belum semua mahasiswa masuk ke dalam kelas. Limat menit berlalu, terlihat beberapa mahasiswa mencoba membuka pintu kelas. Tapi tidak bisa. Mahasiwa yang sudah ada di dalam kelas pun tidak berani membukakan pintu untuk teman-temannya. Selanjutnya, kuliah pun berjalan seperti tanpa terjadi apa-apa dengan mahasiwa hanya sepertiga dari jumlah total mahasiswa seharusnya.

Apa yang bisa kita ambil dari kisah ini? Mahasiswa yang menjadi kaum intelektual muda, ternyata masih sulit untuk menghilangkan budaya korupsi waktu setiap harinya. Padahal, apabila di televisi diberitakan kasus korupsi, banyak yang dengan cepat menghujat dan menghina. Dalam kisah diatas mungkin yang dirugikan hanya mahasiswa yang terlambat itu sendiri, sebab sudah membayar untuk kuliah namun tidak mendapatkan ilmu.

Namun bagaimana kalau kebiasaan tersebut terus dilakukan? Bila mahasiswa itu sudah berganti peran menjadi guru atau bahkan dosen. Mudah mentoleransi keterlambatan, sering terlambat mengajar, bukankah ini sama dengan korupsi keuangan Negara atau minimal instansi tempat bekerja?

Contoh lain, kita masih sering kali mendengar istilah ‘uang pelicin’ bila ingin masuk kerja di instansi tertentu. Meskipun banyak orang yang tidak suka, pada prakteknya banyak orang yang tiba-tiba menjadi pribadi yang seolah tidak punya pilihan ketika dihadapakan dengan masalah tersebut. ‘Terpaksa’ membayar uang pelicin demi sebuah pekerjaan.

Masih banyak perbuatan yang harus kita evaluasi tentang sikap tegas dalam menyikapi koruptor dan korupsi. Bukan sekedar mengecam pelaku koruptornya, namun juga sudah selayaknya kita berusaha sekuat mungkin untuk menghindarkan diri dari budaya korupsi.

Sikap tegas kepada diri sendiri menjadi salah satu solusi untuk memutus budaya korupsi yang sudah terlanjur mengakar menjadi kebiasaan. Misalnya dengan memperhitungkan waktu perjalanan agar tidak terlambat datang kuliah atau kerja, menghilangkan sikap suka menunda yang seringnya hanya membuat waktu kita habis sia-sia.

Jadi, apa yang anda benci, koruptor atau korupsi?

Leave a Comment