Memupuk Sabar

Sudah berapa kali menerobos lampu merah?

Pertanyaan ini mengiang dikepala saya akhir-akhir ini. Membuat saya berpikir, sudah cukup sabarkah saya, minimal hanya untuk menunggu pergantian dari lampu merah ke lampu hijau di perempatan traffic light.

Kejadian nyerobot lampu merah di perempatan traffic light memang sudah bukan kejadian yang asing kita temui setiap harinya. Bukan hanya sekedar sepeda yang katanya tidak mungkin ditilang, namun juga motor hingga mobil pun tidak kalah seringnya.

Hampir setiap kita paham bahwa lampu kuning merupakan tanda kita harus hati-hati dan memperlambat laju kendaraan, sebab dari arah yang ada kendaraan lain yang akan melaju. Namun kebiasaan kita justru malah sebaliknya, lampu kuning dianggap sebagai tanda untuk tancap gas lebih cepat. Beradu dnegan waktu sebelum ada kendaraan lain yang beradu.

Bukan hanya itu, adanya penanda waktu berupa hitungan mundur pada lampu traffic light membuat banyak pengendara kendaaraan sudah bersiap siaga (tidak jarang yang sudah melaju pelan) untuk melaju begitu lampu merah akan redup (pada detik-detik akhir lampu merah menyala). Bahkan sering pula beberapa pengemudi sudah membunyikan klaksonnya saat penanda waktu masih menunjukkan angka 3 dan kendaraan dari lajur yang lain masih melaju. Kini, seolah klakson tidak lagi penanda darurat, namun penanda bahwa lampu merah pada traffic light sudah akan redup dan lampu hijau akan segera menyala.

Sepertinya hal ini terlihat sepele, namun ini bisa dijadikan tolak ukur sebanyak apa kita memupuk sabar. Sesubur apa sabar tumbuh dalam masing-masing diri. Padahal banyak dari kita yang sering mengatakan ‘Orang sabar disayang Tuhan’. Namun pada kenyataannya kita masih bersungut-sungut bila meletakkan sabar dalam kehidupan kita. Memaksa keadaan untuk sesuai dengan kondisi yang kita alami. Bukan berusaha bagaimana caranya agar diri kita bisa beradaptasi dengan kondisi sekitar. Contohnya saat kita menghadapi lampu merah tadi.

Maka untuk jiwa-jiwa yang ingin menumbuhkan sabar dalam dirinya, mari bersama untuk terbiasa beradaptasi dengan sekitar. Berusaha untuk tidak memaksakan keadaan. Apabila lampu merah masih menyala, tahan jari untuk tidak menekan klakson. Pun bila lampu hijau sudah menyala, berikan kesempatan kepada pengendara di depan kita untuk melaju lebih dulu. Tidak memburu-buru dengan bunyi-bunyi klakson dari kendaraan kita.

Nah, mari kita sama-sama belajar.

Leave a Comment