Tips Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak

Perkembangan anak merupakan suatu peningkatan kematangan mental, kecerdasan emosi dan kepekaan sosial anak yang dapat dipantau menggunakan Kartu Kembang Anak atau alat tes psikologis lainnya. Sedangkan pertumbuhan merupakan perubahan fisik anak yang ditandai dengan bertambahnya berat badan dan tinggi badan anak yang bisa diukur secara rutin di Posyandu dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) yang harus dimiliki setiap anak. Pertumbuhan secara fisik lebih mudah diketahui karena dapat diukur dengan alat yang sudah umum dipakai, sedangkan perkembangan mental, kecerdasan emosi dan kepekaan sosial anak lebih sukar diukur karena bukan merupakan aspek fisik.

Kapan kita bisa mengoptimalkan tumbuh kembang anak?

Pertumbuhan dan perkembangan anak dimulai sejak anak berada dalam kandungan. Seluruh otak mulai terbentuk pada saat itu. Baik atau tidaknya proses tergantung dari berbagai hal. Kondisi ibu hamil sangat mempengaruhi pembentukan bayi. Baik kondisi fisik maupun kondisi psikologisnya. Misalnya ibu hamil yang kekurangan gizi akan cenderung melahirkan bayi dengan berat badan kurang atau hambatan dalam pembentukan otak bayi yang akhirnya dapat mempengaruhi kecerdasan anak, atau ibu hamil yang terkena depresi atau stres berat saat kehamilan dapat menjadikan bayi mempunyai potensi keterbelakangan mental atau gangguan emosi.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Berikut tips yang harus dilakukan dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak :

Saat masih dalam kandungan

Bayi dalam kandungan sepenuhnya tergantung pada kondisi ibu. Ibu hamil yang sehat dapat mempermudah proses pertumbuhan bayi. Kalau pada masa itu asupan gizi pada ibunya kurang, asupan gizi pada janin juga kurang. Hal tersebut akan mengakibatkan perkembangan jumlah sel otak menurun, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi fungsi kerja otak. Periksakan kondisi ibu hamil secara rutin di sarana pelayanan kesehatan setempat. Hal ini dimaksudkan agar jika ada kelainan pada kondisi kandungan dapat diketahui sedini mungkin. Jaga kondisi psikologis ibu hamil dari tekanan stress atau depresi. Sejak dalam kandungan, bayi sudah dapat diberi stimulus atau rangsang dini, seperti diperdengarkan murottal, musik dengan ritme yang lembut, doa-doa dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar anak terbiasa belajar sejak dalam kandungan.

Setelah kelahiran (Masa Balita)

Beri asupan gizi yang cukup, ASI eksklusif antara 0 – 6 bulan, karena pada usia tersebut merupakan usia emas anak. ASI dapat memberikan rasa aman, nyaman dan hubungan yang erat antara ibu dan bayinya. Setelah usia 6 bulan, ASI tetap diberikan dan beri makanan pendamping ASI. Menu sehat tidak berarti mahal tetapi bervariasi dan seimbang. Berikan stimulus atau rangsang untuk memunculkan kemampuan-kemampuan tertentu yang harus dipelajari lebih dahulu, misal meraih benda-benda, merespon terhadap panggilan dan lain sebagainya.

 Oleh: Adi Pradana, Yogyakarta
Facebook
TwitterBlog