Buku
Ketika Jepang pertama kali mendarat di tanah air, mereka segera melucuti pasukan Belanda, mempreteli segala kewenangannya di Indonesia, menyuruh mereka hengkang dari Nusantara, tapi juga tidak begitu
Page 3 of 4
Ketika Jepang pertama kali mendarat di tanah air, mereka segera melucuti pasukan Belanda, mempreteli segala kewenangannya di Indonesia, menyuruh mereka hengkang dari Nusantara, tapi juga tidak begitu
Kearifan lokal, begitulah kaum sekularis-pluralis-liberalis menyebutnya. Setiap daerah memiliki kearifan lokalnya masing-masing yang telah disesuaikan dengan kepribadian khas penduduk setempat, dan se
Rasulullah saw terbiasa ‘mengencangkan ikat pinggangnya’ di bulan Rajab, dan lebih dikencangkannya lagi di bulan Sya’ban. Memasuki bulan Ramadhan, ibadahnya semakin getol, dan mencapai klimaksnya pada
Setelah datangnya Islam, wajah masyarakat Arab telah berubah total. Masyarakat yang tadinya sebagian besar ummiy (bahkan Nabi-nya pun ummiy ) kini menjelma umat yang gila baca dan hobi menulis. Masyar
Sebelum Islam datang, masyarakat Arab hidup dengan penuh kesederhanaan. Warga Mekkah dimuliakan dengan keberadaan Baitullah yang telah dimuliakan oleh bangsa-bangsa Arab sejak jamannya Nabi Ibrahim as
Pastilah ada sesuatu yang menarik dari sebuah batu; bisa jadi kekokohannya, bisa jadi ketegarannya. Batu besar yang diletakkan di suatu tempat tak akan berpindah atau berganti posisi meski diterpa huj
Kebanyakan orang memahami sekulerisme sebatas ideologi yang memisahkan agama dari ruang publik. Penjelasan semacam ini mungkin mudah untuk dipahami dan sesuai untuk ‘perkenalan’, namun ia tidak cukup
Jika harus dibuat daftar prioritas manusia yang harus dihormati, maka urutannya adalah ibumu, ibumu, ibumu, dan kemudian bapakmu. Sehebat-hebatnya seorang lelaki, semulia-mulianya seorang ayah, takkan bisa ia melampaui kehormatan seorang ibu di mata anaknya.
Dahulu, Buya Hamka menjelaskan ghirah dengan suatu istilah yang sederhana: Cemburu. Ghirah adalah kecemburuan dalam beragama. Cemburu itu bukan sekedar marah atau kesal atau jengkel, melainkan perasaan tidak rela karena haknya direnggut dan berhasrat besar untuk merebut haknya kembali.
Ketika menjelaskan tentang bukti-bukti keberadaan Tuhan, Buya Hamka tidak merasa perlu berpanjang-panjang dalam penjelasannya, padahal beliau dikenal sebagai ulama-sastrawan yang piawai merangkai kata